Pemko Olah Sampah Jadi Bahan Bakar

Jumlah produksi sampah di Kota Banda Aceh yang mencapai 200-300 ton per hari potensial menjadi bahan bakar

Pemko Olah Sampah Jadi Bahan Bakar
SERAMBI/HERIANTO
LOKASI TPA Kampung Jawa, yang rencananya dijadikan lokasi pabrik pembuatan bahan bakar semen klingker. 

* Digagas PT Semen Indonesia

BANDA ACEH - Jumlah produksi sampah di Kota Banda Aceh yang mencapai 200-300 ton per hari potensial menjadi bahan bakar semen klinker. Dengan investasi sekira Rp 80 miliar, sampah yang telah diolah akan dijual ke PT Semen Indonesia di Lhoknga, Aceh Besar.

“Kalau Pemko bisa mengolahnya, PT Semen Indonesia siap membelinya untuk digunakan sebagai bahan bakar semen klinker di pabrik Lhoknga, Aceh Besar, “ kata Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman, yang didampingi Plt Kadis Lingkungan Hidup, Kebersihan dan Keindahan Kota Banda Aceh, Jalaluddin, seusai pertemuan dengan Tim Survei Energi dari PT Semen Indonesia, Selasa (21/5). Klinker merupakan bahan utama dalam pembuatan semen.

Aminullah mengatakan, ide penjualan sampah kota menjadi bahan bakar semen klinker muncul dari tawaran Tim Survei Energi dari PT Semen Indonesia, Adi dan Ita, yang menemuinya di Kantor Wali Kota.

Kedua orang tim survei energi dari PT Semen Indonesia itu menawarkan kerja sama dengan Pemko Banda Aceh, terkait pengolahan sampah kota menjadi bahan bakar semen klinker, yang dikenal dengan istilah Refused Derived Fuel (RDF).

Pengolahan sampah menjadi bahan bakar semen klingker, kata Aminullah, bukan hal yang baru. Negara-negara maju seperti Singapura, Eropa, dan Amerika yang memiliki pabrik semen dan pabrik bahan material, sebagian sampah kota diolah menjadi bahan bakar pabrik semen klingker. Di Indonesia, ungkap Aminullah Usman, sudah ada di Cilacap, Jawa Tengah. Pemkab Cilacap melakukan kerja sama dengan PT Semen Indonesia membangun pabrik pengolah sampah kota menjadi bahan bakar semen klinker.

Investasi untuk pembangunan pabrik dan dana operasinya memang besar, sekira Rp 80 miliar. Tapi, manfaatnya bagi daerah juga besar, bahkan bisa jadi mesin pencetak uang untuk menarik pendapatan asli daerah (PAD).

“Kabupaten Cilacap yang wilayahnya kecil dan produksi sampahnya hanya berkisar 120.000-150.000 ton/hari berani melakukan investasi membangun pabrik pengolah sampah menjadi bahan bakar semen klingker,” kata Aminullah.

Pemkab Cilacap berani membangun pabrik pengolahan sampah karena di daerahnya ada pabrik semen milik PT Semen Indonesia. “Sehingga sampah yang diolah untuk bahan bakar semen klingker, sudah jelas ada yang menampung dan membeli, berapa pun yang dikirim,” katanya.

Seperti halnya Cilacap, kata Aminullah, Pemko Banda Aceh juga berencana berinvestasi untuk itu. Apalagi produksi sampah Kota Banda Aceh jauh di atas Kota Cilacap, mencapai 200-300 ton per hari.

Tim Survei Energi dari PT Semen Indonesia, Adi dan Ita, mengatakan, tawaran kerja sama yang diajukan ke Pemko Banda Aceh untuk membantu mencari solusi penanganan sampah kota.

Dalam kerja sama ini, kata Adi, menguntungkan kedua belah pihak. “Keuntungan bagi PT Semen Indonesia, bisa dengan mudah mendapatkan bahan bakar alternatif lainnya selain batubara di Aceh,” kata dia.

Dikatakan, jika Pemko Banda Aceh berani membangun pabrik pengolahan sampah menjadi bahan bakar semen klinker, pihaknya akan mengurangi penggunaan bahan bakar batu bara sebesar 10 persen. “Pengurangan 10 persen bahan bakar batu bara itu setara dengan 100-200 ton penggunaan bahan bakar dari sampah. Ini artinya, Pemko bisa menjual sampah kota yang telah diolah menjadi bahan bakar semen ke pabrik semen PT Semen Indonesia yang ada di Lhoknga Aceh Besar,” katanya.(her)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved