Pleno DPRK Aceh Besar Kembali Deadlock

Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Besar, Selasa (21/5), kembali melanjutkan rapat pleno rekapitulasi

Pleno DPRK Aceh Besar Kembali Deadlock
SERAMBINEWS.COM/SUBUR DANI
Ketua KIP Aceh, Samsul Bahri 

BANDA ACEH - Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh Besar, Selasa (21/5), kembali melanjutkan rapat pleno rekapitulasi penghitungan suara DPRK di kantor mereka, Kota Jantho. Ini adalah pleno kesekian kalinya yang digelar KIP Aceh Besar dan selalu berakhir deadlock (buntu atau tanpa hasil). Bahkan, sebelumnya tiga kali pleno yang mereka gelar berujung ricuh, dimana massa membakar tenda dan memecahkan kaca gedung DPRK Aceh Besar.

Demikian juga dengan pleno kemarin, ternyata lagi-lagi tak membuahkan hasil. Rapat pleno yang dipimpin Ketua KIP Aceh Besar, Cut Agus Fatahillah, tersebut kembali deadlock. Informasi itu disampaikan Ketua KIP Aceh, Samsul Bahri, kepada Serambi, kemarin. Samsul turut hadir dalam pleno tersebut sebagai tim supervisi dan advokasi dari KIP Aceh terkait kisruh penghitungan yang terjadi selama ini di KIP Aceh Besar.

Samsul mengaku bingung dengan kondisi pleno KIP Aceh yang tak kunjung ada hasil dan menyelesaikan rekapitulasi seperti diinstruksikan KPU. Sebelumnya, KPU RI mengultimatum KIP Aceh Besar untuk menyelesaikan pleno rekapitulasi penghitungan suara, khusus hasil Pemilu 2019 untuk level DPRK. KPU memerintahkan KIP Aceh Besar menyelesaikan rekapitulasi paling lambat 17 Mei 2019. Namun, hingga kemarin belum ada tanda-tanda rapat pleno tersebut akan kelar.

„Saya kebetulan hadir tadi (kemarin-red), karena jadi supervisi dan advokasi. Tapi, setelah saya ikuti pleno hingga sore dengan beberapa kali skors, saya lihat pleno itu juga belum ada hasil apapun. Pleno kembali diskors dan akan dilanjutkan hingga waktu yang belum ditentukan,“ ungkap Samsul.

Mantan ketua Panwaslih Aceh ini menjelaskan, pleno dimulai pada pukul 14.00 WIB. Belum satu jam penghitungan suara untuk pemilihan calon anggota DPRK, pleno itu mulai gaduh. Pasalnya, para saksi parpol tetap meminta KIP Aceh Besar menjalankan rekomendasi Panwaslih setempat yang meminta dilakukan penghitungan ulang di sejumlah TPS. „Setelah rapat dibuka, langsung instruksi tidak habis-habis,“ katanya.

Rapat pleno itu berlangsung hingga menjelang shalat Ashar. Karena terus terjadi perdebatan, kata Samsul Bahri, rapat akhirnya diskors. Setelah shalat Ashar perdebatan antara para saksi parpol dengan komisioner KIP Aceh Besar terus terjadi sehingga rapat diskors lagi tanpa ada hasil. „Ya, lagi-lagi tidak ada hasil, skors lagi, dan belum tahu kapan akan dilanjutkan,“ timpal Samsul Bahri.

Seperti rapat sebelumnya, menurut Samsul, dalam rapat pleno kemarin para saksi parpol menginginkan KIP Aceh Besar membuka kotak sara dan menghitung ulang suara pada semua TPS yang ada di lima kecamatan. “Mereka minta semua TPS di lima kecamatan dibuka. Maunya kan jika ada data TPS-TPS yang tidak sesuai, itu saja yang kita buka. Katanya dalam aduan ke Panwaslih sudah ditulis ada TPS-TPS tertentu yang tidak sesuai, tapi pas pleno kemarin diminta semua TPS di lima kecamatan dihitung ulang,” kata Samsul.

Seperti diketahui, Rapat Pleno KIP Aceh Besar memunculkan protes luar biasa dari para saksi sejumlah partai politik lokal. Bahkan, karena kecewa terhadap KIP Aceh Besar, massa pendukung parpol sempat ricuh dalam setiap kali digelar rapat pleno. Massa meluapkan kemarahan dengan merobohkan dan membakar tenda, kursi, bahkan memecahkan kaca gedung DPRK setempat.

Protes massa pendukung parpol mencuat karena mereka kecewa terhadap KIP Aceh Besar lantaran tidak merespons permintaan sejumlah partai politik–sebagaimana rekomendasi Panwaslih Aceh Besar--yang meminta dilakukan penghitungan suara ulang (PSU) pada 220 TPS di 15 kecamatan.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved