Jurnalisme Warga

Safari Ramadhan ke Negeri Seribu Bukit

Ramadhan 1440 Hijriah tahun ini merupakan kali keempat saya ikut dalam Tim Safari Ramadhan Pemerintah Aceh

Safari Ramadhan ke Negeri Seribu Bukit
IST
MUHAMMAD ISWANTO, M.M., Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Anggota Tim Safari Ramadhan Pemerintah Aceh Tahun 2019, melaporkan dari Kutacane, Aceh Tenggara.

OLEH MUHAMMAD ISWANTO, M.M., Kepala Sekretariat Baitul Mal Aceh, Anggota Tim Safari Ramadhan Pemerintah Aceh Tahun 2019, melaporkan dari Kutacane, Aceh Tenggara.

Ramadhan 1440 Hijriah tahun ini merupakan kali keempat saya ikut dalam Tim Safari Ramadhan Pemerintah Aceh. Sebelumnya saya pernah ditugaskan ke Simeulue, Aceh Tenggara, dan Pidie Jaya. Tahun ini bersama dua Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA) lainnya, yaitu Dinas Syariat Islam dan Kesbangpol Aceh, saya mendapat tugas ke Dataran Tinggi Gayo Lues (Galus) dan Aceh Tenggara (Agara). Dalam tim kami ikut serta Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat, Zahrol Fajri yang menjadi penanggung jawab kegiatan rutin Safari Ramadhan.

Setiap kali bersafari ke kabupaten/kota selalu memiliki kesan tersendiri, mulai dari perjalanan hingga bisa bertemu dengan pejabat-pejabat di kabupaten/kota. Safari Ramadhan benar-benar memberi kesan yang baik, salah satunya terbangunnya komunikasi serta sinkronisasi antara program-program provinsi dengan progam-program di kabupaten/kota.

Tujuan dari Safari Raamadhan itu sendiri adalah selain meningkatkan silaturahmi antara pemerintah provinsi dengan kabupaten/kota juga pemerintah provinsi ingin mendengar langsung masukan-masukan dari pemerintah kabupaten/kota, termasuk kendala-kendala yang mereka hadapi dalam pembangunan. Pemerintah provinsi juga ingin melihat langsung sejauh mana perkembangan pelaksanaan syariat Islam di kabupaten/kota yang menjadi hak keistimewaan Aceh.

***

Senin, 13 Mei 2019 saya bersama Kasubbid Sosialisasi Baitul Mal Aceh, Hayatullah Pasee dan dua orang staf lainnya, Zulkifli dan Ridwan Zainun berangkat dari Banda Aceh menuju Gayo Lues. Tujuan utama kami adalah mengikuti Safari Ramadhan, namun di samping itu juga bersilaturahmi dengan orang-orang di baitul mal kabupaten untuk menyinergikan program-program yang ada di provinsi dengan kabupaten tersebut.

Kami berangkat pukul 14.00 WIB. Target kami bisa buka puasa di Bireuen, seusai shalat Magrib rencana langsung menuju Dataran Tinggi Gayo. Dalam perjalanan menuju Bireuen, kami mendapat kabar dari rombongan yang sudah berangkat pagi bahwa ada longsor di jalan. Bagi yang belum sampai ke Bireuen diarahkan mengambil rute melalui jalan Simpang KKA, Aceh Utara.

Satu jam kemudian kami mendapat kabar kembali bahwa longsornya sedang dibersihkan dan sudah bisa dilewati kendaraan, tetapi tidak begitu lancar. Hari pun kian sore, kami urung untuk langsung melanjutkan perjalanan ke sana. Akhirnya malam itu kami menginap di Bireuen dan melanjutkan perjalanan pada keesokannya.

Gayo Lues yang menjadi tujuan kami dikenal sebagai Negeri 1.000 Bukit. Saking banyaknya bukit dan jalannya berliku-liku membuat Hayatullah enam kali muntah di jalan.

Kabupaten yang memiliki alam indah nan sejuk itu menyimpan tiga potensi wisata yang menarik untuk dikembangkan. Pertama, bisa menjadi wisata adventure karena banyak bukit dan sungai berarus deras di sana. Kedua, objek penelitian. Gayo Lues juga memiliki Taman Nasional Gunung Leuser yang masih alami sehingga menarik diteliti flora dan faunanya. Sedangkan yang ketiga adalah wisata budaya. Suku Gayo memiliki budaya yang unik sehingga menarik untuk dijadikan objek wisata dan penelitian, bahkan saman Gayo sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved