Warga Kukuh Minta Ganti Rugi

Warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Persisir, Nagan Raya akan terus

Warga Kukuh Minta Ganti Rugi
SERAMBI/RIZWAN
Boat nelayan melintasi dekat tongkat bermuatan batubara di laut Meulaboh, Aceh Barat, Rabu (22/5). 

* Agar Terbebas dari Polusi Debu Batu Bara

SUKA MAKMUE - Warga Dusun Geulanggang Meurak, Desa Suak Puntong, Kecamatan Kuala Persisir, Nagan Raya akan terus memperjuangkan ganti rugi rumah dan lahan mereka yang diapit oleh dua perusahaan besar yaitu PLTU Nagan dan PT Mifa Bersaudara. Mereka ingin agar tanah mereka segera dibebaskan supaya bisa mencari lokasi lain yang bebas dari pencemaran debu batu bara.

“Warga di Dusun Geulanggang Meurak setiap hari menghirup debu batu bara yang menyelimuti rumah-rumah warga di daerah itu. Keinginan warga untuk bebas dari pencemaran tersebut belum terwujud lantaran pihak PLTU belum bersedia melakukan ganti rugi tanah warga yang berada di samping perusahaan tersebut,” ungkap Edy Syah Putra, Koordinator Gerakan Anti Korupsi (GeRAK) Aceh Barat kepada Serambi, Selasa (21/5).

Ia mengungkapkan, sejauh ini, pihak PLTU dinilai masih terus berdiam diri dengan tidak menghiraukan kondisi masyarakat di sekitarnya. Bila sikap seperti terus dipertahankan PLTU, Edy khawatir, hal tersebut membuat warga kian bergejolak yang akhirnya memicu konflik. “Jika pihak perusahaan masih terus berdiam diri dengan alasan belum ada kewenangan, itu bisa membuat warga setempat semakin nekat dan akan menyelesaikannya dengan cara-cara mereka sendiri,” tukasnya.

Untuk itu, GeRAK berharap, kepada pihak perusahaan supaya tidak berdiam diri dengan membiarkan kondisi masyarakat semakin mengeluh akibat pencemaran debu batu bara itu. Pasalnya, warga semakin resah dengan dampak polusi itu, di mana setiap harinya mereka hampir tiga kali sehari menyapu lantai rumah yang dikotori debu batu batu bara berwarna hitam, belum lagi debu itu masuk hingga ke dapur dan tempat tidur.

Pada bagian lain, Edy Syah Putra menjelaskan, menyangkut dengan persoalan pencemaran debu batu bara yang menyelimuti Dusun Geulanggang Meurak, pihak Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) sudah menyurati pihak PLTU Nagan yang dinilai ada hal yang melanggar hak-hak warga di daerah sekitar perusahaan tersebut, salah satunya menyangkut dengan debu batu bara.

Sementara itu, Yayasan Advokasi Rakyat Aceh (YARA) mempertanyakan hasil uji laboratorium terkait dugaan pencemaran limbah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Socfindo Seumayam di Kecamatan Darul Makmur dan dugaan pencemaran limbah PLTU Nagan di Suak Puntong, Kecamatan Kuala Pesisir, yang keduanya telah menyebabkan matinya biota sungai.

“Kita meminta kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Nagan Raya untuk mengungkap hasil uji lab yang sudah dilakukan di Baristand Banda Aceh baru-baru ini, sehingga publik tahu terhadap kasus tersebut yang sebenarnya,” ujar Hamdani, Koordinator YARA Pantai Barat Selatan kepada Serambi, Rabu (22/5).

Ia menekankan, jika memang terbukti supaya segera memberikan sanksi sesuai dengan ketentuan yang ada. “Sehingga pihak perusahaan tidak main-main akan hal tersebut, sebab dapat menyebabkan masyarakat yang ada di sekitar mereka dirugikan,” tukasnya.(c45)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved