Salam

Kita Diminta Merajut Persatuan Usai Pemilu

Kita gembira dan bersyukur, hari yang menegangkan dan mencekam 22 Mei 2019 berlalu bersama situasi keamanan

Kita Diminta Merajut Persatuan Usai Pemilu
TRIBUNNEWS/IRWAN RISMAWAN
Anggota Brimob bersitegang dengan massa di Jalan Wahid Hasyim, Jakarta, Rabu (22/5/2019). Petugas kepolisian terus mendorong massa yang pendemo yang masih bertahan di Gedung Bawaslu. 

Kita gembira dan bersyukur, hari yang menegangkan dan mencekam 22 Mei 2019 berlalu bersama situasi keamanan yang berhasil dikendalikan aparat. Selain karena kerja keras aparat keamanan, terutama Kepolisian Negara Republik Indonesia dan TNI, hal itu juga dicapai lantaran masyarakat telah menunjukkan kematangannya. Dengan demikian, sebagian pusat-pusat aktivitas masyarakat Jakarta yang sehari sebelumnya sempat tutup total, sejak kemarin sudah bekerja kembali secara aman.

Sesungguhnya bangsa Indonesia sudah biasa hidup dengan perbedaan yang ada di antara kita. Beda pandangan, beda budaya, beda keyakinan, dan beda-beda lainnyalah yang kemudian menjadikan semboyan utama Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi satu.

Kita juga memiliki Pancasila sebagai pemersatu. Akan tetapi, terkadang kita sebagai bangsa sering lupa bahwa rasa persatuan di antara bangsa Indonesia yang berbeda-beda itu harus terus dirawat dan diperkuat. Rasa persatuan itu di masa lalu muncul karena bangsa Indonesia menghadapi musuh bersama, yakni Belanda.

Namun, setelah musuh bersama itu hilang, seiring dengan perjalanan waktu, terkadang terasa rasa persatuan itu mengendur dan gesekan terjadi, baik antarsuku, antaragama, antarras, ataupun antargolongan (SARA). Rasa persatuan itu sering dianggap sebagai sesuatu yang sudah semestinya ada atau sesuatu yang langgeng. Padahal, rasa persatuan itu sesuatu yang dinamis yang harus terus dipelihara.

Dalam kaitan inilah, peran pemerintah, pemuka masyarakat, dan elit politik sangat diperlukan. Pemerintah dan para tokoh harus terus mengarahkan masyarakat agar saling menghargai satu sama lain. Hanya dengan menghargai satu sama lain, perbedaan yang ada di dalam masyarakat dapat diterima sebagai sesuatu yang harus dimaklumi. Tidak mudah memang, tetapi harus terus-menerus dilakukan.

Justru itulah, kita menghargai seruan Presiden Joko Widodo yang disampaikan dalam rangka menyejukkan masyarakat usai pengumuman hasil rakpitulasi suara Pemilu 2019 oleh KPU. Dalam seruannya, yang disiarkan secara live oleh sejumlah stasiun televisi nasional, Presiden Jokowi menyerukan agar masyarakat berbuat baik kepada yang berbeda pandangan dan pilihan tanpa menjadikan perbedaan sebagai sekat pemisah. Presiden juga meminta kepada kita semua --lebih-lebih kita sedang berada di bulan suci Ramadhan– merajut kembali persatuan dan kesatuan yang mungkin [pernah merenggang di masa-masa menjelang Pemilu.

Kita percaya, jika apa yang diserukan Presiden Jokowi itu sungguh-sungguh dijalankan bangsa Indonesia, rasa persatuan di antara bangsa Indonesia akan semakin bertambah kuat sehingga dapat menerima perbedaan pandangan politik secara baik. Dan, para elite politik adalah pihak yang harusnya dapat meredam api politik jika membara. Jadi, para elite politik jangan malah menambahkan bahan bakar sehingga api politik semakin memanas saja.

Gabriel Almond, seorang ahli politik dari Amerika Serikat, menyebut bahwa budaya politik yang berkembang pada suatu masyarakat dapat digolongkan menjadi tiga tipe, yaitu budaya politik parokial, budaya politik subjek, dan budaya politik partisipan.

Masyarakat Indonesia tergolong dalam budaya politik partisipan. Artinya, masyarakat Indonesia dalam berpolitik sudah memiliki kesadaran yang tinggi, aktif dalam setiap kegiatan politik, dan ikut menilai produk-produk politik.

Namun, budaya politik partisipan yang berkembang di Indonesia selain berdampak positif juga memiliki dampak yang negatif. Sebuah masyarakat yang partisipan tentu diperlukan untuk mengawal jalannya pemerintahan demi tegaknya konstitusi dan terciptanya pemerintahan yang bersih. Bisa dilihat dari aktivitas masyarakat baik di dunia nyata maupun di dunia maya, dari elit politik sampai warga sipil, dari dosen sampai mahasiswa, dari masyarakat kelas atas sampai bawah, semua berkomentar dan bersuara sesuai pikiran masing-masing.

Yang pasti, di ujung proses Pemilu 2019, harapan utama kita adalah berakhir juga ketegangan antar masing-masing pendukung. Aamiin.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved