Opini

Melawan Malas Meraih Takwa

Ramadan disebut juga syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Artinya, dalam bulan yang penuh berkah ini kita umat Islam

Melawan Malas Meraih Takwa
IST
Azwardi, Dosen FKIP Unsyiah

Oleh Azwardi, Dosen FKIP Unsyiah

Ramadan disebut juga syahrut tarbiyah (bulan pendidikan). Artinya, dalam bulan yang penuh berkah ini kita umat Islam (orang yang beriman) diberi kesempatan yang luas mendidik dan melatih hati, karakter, dan jiwa untuk dapat melaksanakan segala amalan yang diridai-Nya secara maksimal, kontinu, dan istikamah melalui ibadah puasa dan berbagai amalan berbasis karakter kuat lainnya, seperti taat kepada Allah, bersungguh-sungguh menjalankan perintah-Nya, jujur dalam segala hal, dan ikhlas dalam beramal. Semua amalan tersebut dijamin Allah akan bermuara pada ketakwaan yang istikamah. Bagi yang sudah berusia 45 tahun (potong 15 tahun masa sebelum balig) berarti ia sudah berlatih berpuasa selama 30 tahun. Bagi yang sudah berusia 50 tahun berarti sudah berlatih berpuasa selama 35 tahun. Bagi yang sudah berusia 65 tahun berarti sudah berlatih berpuasa selama 50 tahun, dan seterusnya.

Idealnya, peserta yang menjalani “Workshop Ramadan” tersebut sudah cukup terampil atau profesional, apalagi dua bulan sebelum tiba bulan Ramadan ia sudah melakukan persiapan membenahi diri secara baik, yaitu membersihkan fisik di bulan Rajab dan membersihkan hati di bulan Syakban sehingga terbersihkan jiwanya di bulan Ramadan.

Dengan perkataan lain, ia patut dan pantas memanenkan hasil yang melimpah ruah di masa Ramadan (syahrul mubarak) karena telah menanam dan merawatnya secara intensif pada masa Rajab dan Syakban. Keprofesionalan tersebut, antara lain, tecermin dari gairah dan semangat tingginya dalam beramar makruf dan bernahi mungkar, kezuhudan hatinya dalam menjalani kehidupan, keluhuran budi pekertinya dalam berinteraksi sosial, dan kesungguhan tingkah gairahnya dalam membumikan syiar agamanya sepanjang tahun selama hidupnya. Namun, dalam realitas lakon hidupnya sehari-hari yang tampak tidak demikian.

Workshop Ramadan sepertinya tidak berefek secara signifikan bagi peserta-peserta yang mengikutinya, kecuali bagi sebagian kecil saja sehingga misi workshop, “semoga menjadi peserta-peserta yang bertakwa” hanya lip service dan slogan belaka.

Ibadah-ibadah mahdah yang dilaksanakan sehari-hari tidak lebih sebagai rutinitas atau tradisi atau serimonial semata. Ubidiahnya tidak membekas dan tidak terhujam dalam ke hati sanubari pelakunya. Lihatlah, masjid-masjid atau surau-surau mendadak ramai hanya di malam-malam Ramadan, itu pun hanya pada malam-malam awal. Di siang hari masjid-masjid hanya penuh pada saat shalat Jumat. Jalan-jalan utama mendadak macet di sore-sore menjelang berbuka, sesak padat oleh penjual dan pembeli aneka penganan berbuka (takjil).

Kafe-kafe tidak cukup lapak buat mengakomodasi komunitas-komunitas yang menggelar buka bersama (bukber). Pada malam-malam sepuluh terakhir toko-toko pakaian lebih semarak dikunjungi orang-orang ketimbang mengencangkan ikat pinggang demi beribadah. Dapur-dapur kue lebaran lebih hangat ditongkrongi daripada beriktikaf di masjid mengintai saat-saat lailatur kadar.

Jamaah pemuda “ashabus kuphi” lebih ramai dan betah bertahan membunuh waktu di kafe-kafe sepanjang malam ketimbang duduk bertadarus di masjid-masjid atau surau-surau menghidupkan malam sambil menanti sahur. Begitulah tradisi religi yang terus bergulir saban tahun sepanjang masa yang seakan tak pernah berubah meskipun sang teungku, khatib, dan penceramah meukuboh-kuboh ia babah; berbuih-buih dan berbusa-busa air liurnya silih berganti memberikan wejangan yang substansial kepada para jamaah dalam berbagai saluran media.

Tidak berefeknya pendidikan Ramadan bagi yang melaksanakannya bermakna bahwa hari-hari yang dijalaninya terindikasi kuat bahwa ia sedang bermasalah dalam hidupnya, terlebih bila menyambut bulan suci Ramadan tidak ada latihan persiapan secara sadar sejak dua bulan sebelumnya, yakni Rajab dan Syakban. Biang masalah dari semua kealpaan tersebut adalah lalai dan malas (beu-o). Lalai dan malas merupakan penyakit psikologis akut yang dapat memicu dan menyebabkan komplikasi kepada berbagai dimensi esensial dalam beragama.

Secara umum kita orang Islam mengetahui tentang hukum-hukum syariat, fadilat-fadilat ibadah, dan syiar-syiar agama. Namun, hati kita sangat berat dan malas menggerakkannya, mengamalkannya dengan sungguh-sungguh, iklas, dan istikamah. Siapa yang tak tahu bahwa menuntut ilmu agama itu merupakan kewajiban utama setiap insan yang beriman kepada Allah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved