Citizen Reporter

Jejak The Beatles di Hamburg

KALAU kita buka the Encyclopedia of Popular Music, banyak muncul nama The Beatles

Jejak The Beatles di Hamburg
IST
SYERA FAUZYA LESTARI, Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Hamburg, Jerman

OLEH SYERA FAUZYA LESTARI, Dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, melaporkan dari Hamburg, Jerman

KALAU kita buka the Encyclopedia of Popular Music, banyak muncul nama The Beatles. Baik album maupun sejarahnya muncul di dalam ensiklopedia tersebut. Band legendaris dunia asal Liverpool itu sangat sukses dan terkenal. Bahkan dalam setiap konsernya selalu dipenuhi teriakan histeris para fans-nya yang kebanyakan wanita. Memang umurnya cukup singkat, dari 1960 hingga 1970. Mungkin hari ini para remaja lebih kenal Justin Bieber. Tapi karya The Beatles telah melegenda dan menjadi inspirasi para musisi.

Di Indonesia, sejumlah nama besar seperti Ahmad Dhani dan Armand Maulana mengidolakan band asal Inggris ini. Bahkan grup band The Changcuters meniru habis gaya The Beatles, hingga potongan rambut moptop-nya.

Dari Indonesia, perjalanan ke Hamburg membawa saya pada babak awal kelompok musik ini. Melintasi jalan raya di pusat hiburan daerah Reeperbahn di Hamburg, saya melihat satu monumen yang berkesan. Di atas sebuah dataran, tepat di persimpangan jalan, berdiri patung personel The Beatles. Kalau dilihat lebih dekat, patung silhouette berbahan besi ini adalah sosok John Lennon, Paul McCartney, Ringo Starr, George Horrison, dan satu mantan pemain bass-nya Stuart Sutcliffe. Terlepas dari segala kotroversi dan perpecahan kelompok ini, monumen “Beatles Platz” ini menyisakan pertanyaan.

Apa pentingnya monumen grup musik ini bagi Kota Hamburg? Mengapa pemerintahnya rela mengeluarkan uang untuk membuat monumen semacam itu? Dari rasa penasaran ini, saya mengajak pembaca melihat sejenak ke masa awal kiprah The Beatles. Lalu kita bisa mengambil pelajaran tentang bagaimana musik turut serta dalam mengukir sejarah kota.

Cerita dimulai pada 1957, saat John Lennon baru berusia 16 tahun. Bersama teman sekolahnya di Liverpool ia mendirikan grup musik bernama The Quarrymen. Tak lama kemudian Lennon bertemu Paul McCartney yang saat itu berusia 15 tahun. McCartney memutuskan bergabung dengan Lennon. Di tahun berikutnya mereka bertemu George Harrison yang kemudian juga bergabung sebagai gitaris utama. Ketiganya memainkan musik “Rock and Roll” dan masuk ke Liverpool College of Art. Teman sekelas Lennon, Stuart Sutcliffe, turut bergabung kemudian dan menyarankan mengganti nama grup itu menjadi “The Beetles“ karena kagum terhadap Buddy Holly dan The Crickets. Baru pada 1960, grup ini mengubah nama menjadi The Beatles.

Dengan nama baru, grup ini memulai kiprah barunya ke luar negeri. Mereka membuat audisi untuk mencari satu personel baru yang akhirnya menemukan Pete Best sebagai pemukul drum. Kiprah di luar negeri dimulai dengan tur pertama ke sebuah kota pelabuhan di Jerman bagian utara, yaitu Hamburg. Allan William bertindak selaku manajer dan menyiapkan panggung mereka. Kedatangan mereka disambut oleh para pihak yang bekerja di tempat mereka manggung di kawasan Jalan Groâe Freiheit, masih di daerah pusat hiburan di Reeperbahn.

Dalam empat hari mereka mendapatkan kontrak kerja sama dengan penyelenggara konser di Hamburg, Bruno Koschmider, untuk bermain selama 48 malam. Konser the Beatles ini ternyata sangat berkesan bagi penduduk kota ini. Tiketnya pun laris manis. Setiap malam ribuan penonton datang membeludak di kawasan Reeperbahn. Para penggemar pun membanjiri daerah ini, tumpah ruah dari Jalan Groâe Freiheit hingga ke ruas jalan utama dan membuat kemacetan total di kawasan ini. Kisah ini ternyata begitu membekas bagi kota ini, tercatat, dan diingat oleh warganya. Ditambah dengan prestasi The Beatles yang mendunia, tentu Hamburg dan warganya bangga karena menjadi tangga pertama bagi karier grup ini.

Orang bisa mendengar kisah ini ketika berkunjung ke Beatles Platz. Tourist guide atau orang lokal, seperti yang saya lihat, menceritakan kisah ini pada rekan yang dibawanya keliling. Rangkaian cerita juga terekam di gedung-gedung tempat The Beatles manggung, seperti Indra Club, The Star Club, Gretel & Alfons, dan Kaiserkeller Club yang terletak di Jalan Groâe Freiheit.

Orang juga bisa menemukan potongan-potongan kisah Lennon dan temannya ini di website resmi Pemerintah Hamburg. Di laman itu, terdapat daftar lokasi wisata yang menarik untuk dikunjungi. Beberapa di antara lokasi itu adalah tempat yang berkaitan dengan The Beatles. Dalam list lokasi wisata itu pula, potongan kisah masa lalu The Beatles ditulis sehingga para turis dan termasuk siapa saja yang membaca bisa tahu betapa sebuah kelompok musik telah menjadi bagian dari perjalanan sejarah kota. Sebaliknya, kota ini juga merekam sejarah grup musik kelas dunia.

Mengingat pentingnya penggal sejarah musik ini, maka didirikanlah sebuah monumen bernama Beatles Platz di Hamburg. Lokasinya tepat di ujung Jalan Groâe Freiheit di kawasan Reeperbahn. Ide untuk membangun tempat ini berawal dari inisiatif sebuah stasiun radio di Hamburg, bernama Oldie 95. Usulan pun mereka sampaikan kepada pemerintah setempat. Setelah mendapat persetujuan dari Wali Kota Hamburg dan juga Menteri Kebudayaan akhirnya senat menyetujui pendirian Beatles Platz ini.

Pembangunan dikerjakan tahun 2005 sampai tahun 2006, tapi sempat terhenti. Pembangunan dilanjutkan setelah peletakan batu pertama secara simbolis pada 29 Mei 2008, konstruksi pembangunan dilanjutkan dan akhirnya diresmikan pada 11 September 2008 oleh Wali Kota Hamburg. Kalau dilihat dari atas, Beatles Platz tampak seperti piringan hitam besar, bergaris tengah sepanjang 29 meter dan beraspal hitam. Di sana berdiri lima patung anggota The Beatles, yaitu John Lennon, Paul McCartney, Stuart Sutcliffe, George Harrison, dan di posisi drum Pete Best dan Ringo Starr.

Cuplikan kisah, pihak yang terlibat, waktu, dan biaya pembangunan monumen juga tertulis di beton pada monumen artistik ini.

Begitu pentingnya kisah The Beatles ini bagi Kota Hamburg. Musik (kesenian) turut menjadi bagian dalam membangun peradaban di kota ini. Sebaliknya, ada peran penting juga kota ini bagi sejarah musik dunia. Apresiasi dan monumen membuat kita para pembaca dan pengunjung bisa menikmati dan mengambil pelajaran. Barangkali ada yang bisa kita ambil dari cuplikan kisah ini. Bagi saya yang belajar seni, menekuni dan mengajar di bidang ini, kisah ini bisa jadi bahan perbandingan untuk kampung halaman.

Aceh tentu saja adalah tempat bagi ragam kesenian tradisional yang banyak jumlahnya. Tarian, alunan melodi, pembacaan syair, juga turut menjadi bagian yang tak terpisahkan dari acara keagamaan, upacara dan peringatan hari-hari besar Islam. Seperti lantunan Dalail Qairat yang menyatu dengan gerak, biasanya tampil dalam acara maulid nabi dan hari besar Islam yang lain. Musik juga merekam kisah lama dan ajaran moral, seperti lirik-lirik lagu Rafli Kande. Syair-syair pada tari rapa-i geleng dan seudati juga meyampaikan kisah dan ajaran agama. Kesenian tampaknya menjadi bagian dari perkembangan masyarakat dan agama. Namun, sudahkah kita memberi apresiasi yang sepantasnya bagi perkembangan kesenian di Aceh? Pertanyan ini untuk kita renungkan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved