Opini

Menatap Wajah Demokrasi Kita

Turbulensi politik pasca pengumuman hasil pemilu nasional Selasa (21/05) dinihari lalu, kian naik dan memantik beragam

Menatap Wajah Demokrasi Kita
IST
Suhardi Behrouz, Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Oleh Suhardi Behrouz, Pemerhati Politik, Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Turbulensi politik pasca pengumuman hasil pemilu nasional Selasa (21/05) dinihari lalu, kian naik dan memantik beragam tanggapan serta aksi demonstrasi. Bahkan, korban sudah berjatuhan dan sudah ada yang meninggal dunia. Sebelumnya juga sudah dilakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh yang dianggap melakukan makar. Situasi ini sejatinya tidak baik bagi jalannya demokrasi yang telah susah payah dibangun oleh bangsa ini.

Demokrasi adalah jalan yang telah dipilih oleh negeri ini dalam menata kehidupan bangsa. Sebab demokrasi adalah pengelolaan yang meletakkan rakyat sebagai penguasa sejati negeri ini. Pemerintah hanyalah pelaksana tugas rakyat, bukan penguasa atas rakyat. Makna inilah yang membuat semua elemen bangsa menjatuhkan pilihannya pada demokrasi. Namun dalam perjalanannya demokrasi terkadang berubah rupa. Kadang-kadang menampilkan wajah ramah dan manis, namun juga berwajah bengis.

Publik bisa mengenang bagaimana wajah demokrasi sepanjang perjalanan bangsa ini. Mulai ketika kemerdekaan diproklamirkan hingga era reformasi dipekikkan. Wajah demokrasi itu silih berganti menampilkan rupa. Awalnya manis menarik hati rakyat, tapi seiring waktu membuat rakyat tak lagi mengenal wajah manis demokrasi itu. Rakyat masih ingat bagaimana demokrasi era Presiden Soekarno yang awalnya menjanjikan harapan setelah kemerdekaan, tapi dalam perjalanannya berubah menjadi demokrasi terpimpin.

Bahkan Soekarno menjadi presiden seumur hidup dengan keluarnya TAP MPRS No. III/MPRS/1963. Soekarno akhirnya tumbang setelah pidato pertanggunggjawabannya yang berjudul Nawaksara terkait peristiwa G30 S/PKI ditolak MPRS. Dalam peristiwa tersebut banyak rakyat yang menjadi korban. Bahkan beberapa jenderal ikut terbunuh yang kita kenal dengan Pahlawan Revolusi.

Waktu berlanjut pemerintah berganti, wajah demokrasi kembali manis di awal. Rakyat seakan mendapatkan kembali mandatnya. Pembangunan negeri kian di pacu, ekonomi tumbuh. Sandang pangan terjangkau oleh rakyat kendati kemiskinan masih tinggi, namun karena kekuasaan terlalu lama di pegang oleh satu orang muncullah wajah baru demokrasi.

Kritik rakyat terkadang dipandang menghambat pembangunan. Media menjadi corong kekuasaan. Mengutip pendapat Lord Action, “Power tends to corrupt and absolute power corrupts absolutely”, kekuasaan yang terlalu lama condong kepada korup seakan mendapat tempat. Dan akhirnya rakyat `memberontak’ yang didahului oleh krisis ekonomi. Rakyat ingin mengambil haknya dan menginginkan demokrasi menampilkan wajah aslinya. Dan akhirnya Presiden Soeharto mengundurkan diri setelah 32 tahun berkuasa.

Pasca Soeharto jatuh, rakyat bergembira. Teriakan reformasi menggema di seluruh pelosok negeri. Rakyat seakan mendapatkan haknya kembali, dan itu diperlihatkan dengan baik oleh penerajunya, yakni Presiden Habibie. Tahanan politik dilepaskan, media dan rakyat bebas menyuarakan pendapatnya dan akhirnya terus berganti kepemimpinan setelahnya, yakni, Gus Dur, Megawati, SBY dan kini Presiden Jokowi.

Kini, setelah 21 tahun reformasi, muncul kembali kegelisahan di hati rakyat. Hal ini dipicu oleh kontestasi demokrasi yang dipilih sendiri oleh rakyat. Memilih orang nomor satu di negeri ini telah melahirkan polarisasi baru di masyarakat. Polarisasi itu kian nyata dipertontonkan, bahkan di media sosial perbedaan itu dinyatakan dalam bahasa yang vulgar terkadang penuh kebencian. Malah panggilan “cebong” dan `kampret” telah menjadi identitas dua kubu yang terbelah.

Keterbelahan itu kian menganga manakala keadilan dipandang tidak hadir dalam kontestasi demokrasi. Malah ada yang memandangnya sebagai upaya mempertahankan kekuasaan, menambah kekuasaan, atau memperlihatkan kekuasaan seperti yang ditulis Hans Morgenthau dalam Politics Among Nations: The Struggle for Power and Peace.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved