Jurnalisme Warga

Sahur dengan Ikan Depik

SETIAP berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, hal yang tidak saya lupakan adalah mencicipi depik

Sahur dengan Ikan Depik
IST
Dr. SULAIMAN TRIPA, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Pengajar Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah 

Oleh Dr. SULAIMAN TRIPA, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Pengajar Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah

SETIAP berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, hal yang tidak saya lupakan adalah mencicipi depik, ikan dengan nama Latin Rosbora tawarensis. Sama seperti kesempatan kali ini, saya berkali-kali makan ikan yang hanya terdapat di Danau Lut Tawar, Takengon, Aceh Tengah ini.

Pertama sekali saya mencicipi depik sekira tahun 2003, saat menginap di rumah sastrawan nasional dari tanah Gayo, Fikar W. Eda, di daerah Bekasi, Jawa Barat. Waktu itu, saya menghadiri satu hajatan sastra dan berjumpa dengan Fikar W. Eda dan saya diajak bermalam di rumahnya. Kebetulan saat itu, ada keluarganya yang baru datang dari Takengon. Sejak saat itulah rasa depik terngiang dan menggoda imaji kuliner saya.

Rabu pagi, saya dan sejumlah teman berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah dalam rangka program penelitian dan pengabdian. Sebagai dosen, secara periodik kami harus aktif melaksanakan tridarma perguruan tinggi, yakni pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Saya datang bersama Dr Muazzin dan Dr Teuku Muttaqin Mansur sebagai satu tim penelitian dari Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala (Unsyiah).

Selain Aceh Tengah dan Bener Meriah, penelitian dan pengabdian kami mencakup Bireuen, Aceh Utara, Aceh Tamiang, dan Aceh Selatan, dalam rangka melihat efektivitas denda dalam hukum adat Aceh.

Selama tiga hari di Takengon tersebut, saya mendapat lima kesempatan makan ikan depik. Tiga kesempatan saat berbuka puasa. Selama di sini, ikan depik menjadi menu wajib saat berbuka. Sebelum berbuka, saat datang ke warung, hal yang saya tanyakan terlebih dahulu adalah depik. Saya baru berbuka di warung tertentu yang ada ikan depiknya.

Saking tidak bisa melupakan rasa ikan depik, dalam satu kesempatan yang lain, saya ke luar dari penginapan menjelang tengah malam hanya untuk makan ikan berukuran kecil ini. Saya datang ke warung makan yang tidak jauh dari bekas terminal Takengon. Selama bulan puasa, sejumlah warung buka dari sore hingga sahur.

Sedangkan satu kesempatan lagi, saya makan depik saat sahur. Malam kemarin, saat pulang makan depik menjelang tengah malam itu dan kembali ke penginapan, saya menenteng sebungkus ikan depik goreng. Seorang pelayan hotel langsung bisa menebak. Dan seperti memahami apa yang dirindukan, sahur sesudahnya, di meja restoran hotel sudah tersedia depik goreng sambal. Menjelang subuh itu juga, saya jumpai pelayan hotel untuk mengucapkan terima kasih.

Bukan kali ini saja saya makan depik. Sebulan lalu, saat intat linto baro (mengantar pengantin pria) yang merupakan famili ke Asir-Asir, saya dan istri juga memesan depik. Sekira dua bulan sebelumnya, saat menjadi pemateri pelatihan menulis untuk komunitas yang dilaksanakan Balai Bahasa, saya juga tak ketinggalan makan depik.

Saya selalu menggunakan kesempatan makan ikan ini, karena sangat spesial. Jenis ikan ini hanya ada di Danau Laut Tawar. Menurut sejumlah catatan, ikan yang menyerupai depik ada di Danau Singkarak, Sumatera Barat, yang disebut ikan bilis. Tapi jenisnya beda. Danau Lut Tawar sangat penting bagi masyarakat Aceh Tengah. Luas danau mencapai 5.472 hektare. Panjang danau mencapai 17 kilometer dan lebar lebih 3 kilometer. Para pengunjung bisa mengelilingi danau ini dalam waktu 2-4 jam.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved