Jurnalisme Warga

Sahur dengan Ikan Depik

SETIAP berkunjung ke Aceh Tengah dan Bener Meriah, hal yang tidak saya lupakan adalah mencicipi depik

Sahur dengan Ikan Depik
IST
Dr. SULAIMAN TRIPA, Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala, Pengajar Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Takengon, Aceh Tengah 

Ikan depik yang berasal dari danau, tidak hanya tersedia di warung. Di sejumlah pasar, saya mendapati ikan ini. Di warung pun sudah ada yang mengemas depik dengan sejumlah varian. Selain digoreng untuk pelanggan, warung juga sudah mulai menyediakan sebagai oleh-oleh. Ikan depik goreng ada yang dikemas untuk dijual. Sejumlah warung sudah menjadikan depik goreng sebagai oleh-oleh, dengan harga mulai dari Rp 50.000 hingga Rp 250.000 per kotak.

Dari awal datang saya menelusuri sejumlah warung untuk mendapatkan varian masakan. Kebanyakan digoreng secara khusus. Perlakuannya berbeda dengan cara menggoreng ikan teri (bileh) di wilayah Aceh pesisir. Pemasak harus mengatur minyak dan tingkat kepanasannya untuk mendapatkan kualitas depik goreng yang bagus. Jika tidak dikontrol, rasa khas depik akan hilang.

Selain digoreng, saat tertentu sejumlah warung menyediakan pepes depik. Namun mereka lebih sering menyiapkannya jika ada pelanggan yang memesan terlebih dahulu. Tidak semua orang menyukai pepes depik. Sama halnya dengan gulai depik yang tidak selalu tersedia, karena pelanggan lebih menyukai depik goreng.

Varian lain, saya tanya pelanggan warung, adalah cecah depik. Masakan ini berbahan utama dari depik kering. Dalam depik goreng sendiri, sejumlah warung mencampurnya dengan serai dan teumurui. Daun ini membantu mengurangi rasa pahit di ujung rasa depik.

Selain yang sudah dimasak, depik segar dapat diperoleh dengan mudah saat berkunjung ke tepi danau. Banyak nelayan menjaring depik dengan perahu kecil. Di sini harga depik bervariasi, antara Rp 70.000-90.000 per bambu. Harga depik yang sudah dikeringkan nelayan di sekitar danau seharga Rp100.000-Rp 120.000 per bambu. Mereka menggunakan istilah bambu dengan ukuran sekitar dua liter.

Saat saya mengunjungi Pasar Paya Ilang, saya mendapatkan depik dalam kemasan plastik. Pasar Ilang ini diresmikan Bupati Nasaruddin pada 17 Juli 2017. Pasar terletak di Tan Saril, Kecamatan Bebesan. Pasar ini menyediakan buah-buahan dan sayur-sayuran, bersebelahan dengan pasar ikan, yang juga menyediakan depik segar. Ada ibu-ibu di pasar yang menjual depik yang sudah dibuat khusus seperti beulacan. Saya membeli sejumlah bungkusan ikan depik kering yang sudah dikemas dalam plastik seukuran 2-2,5 ons dengan harga Rp20 ribu perbungkus.

Tentu tidak semua hal tentang depik mampu saya rekam dalam ingatan. Barangkali Anda juga pernah mendapatkan varian lain yang belum pernah saya coba. Silakan berbagi. Untuk yang belum mencoba, saya sarankan Anda yang berkunjung ke Takengon, menggenapinya dengan mencicipi depik dalam berbagai varian itu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved