Aksi Represif Polisi Dikecam

Aksi represif polisi dalam meredam kerusuhan 22 Mei banjir kecaman. Kecaman tersebut tidak hanya datang

Aksi Represif Polisi Dikecam
SERAMBI/MASRIZAL
MASSA yang mengatasnamakan Aliansi Masyarakat Aceh Cinta Damai menggelar aksi di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Sabtu (25/5). 

* Saat Kerusuhan 22 Mei

BANDA ACEH - Aksi represif polisi dalam meredam kerusuhan 22 Mei banjir kecaman. Kecaman tersebut tidak hanya datang dari lembaga Komnas HAM maupun Amnesty International, tetapi juga organisasi masyarakat (ormas) dan mahasiswa.

Di Aceh, kecaman tidak hanya diberikan melalui pernyataan sikap, tetapi juga dalam bentuk aksi yang dilakukan oleh Aliansi Masyarakat Aceh Cinta Damai yang dilaksanakan di Bundaran Simpang Lima Banda Aceh, Sabtu (25/5).

“Kami mengecam keras tindak kekerasan dan penyiksaan yang dilakukan oleh aparat kepolisian,” teriak Koordinator Lapangan (Korlap), Agus Ismansyah, dalam orasinya.

Pada aksi itu massa turut mengusung karton dan spanduk. Mereka berorasi secara bergantian. Aksi yang mendapat pengawalan aparat kepolisian itu menarik perhatian pengguna jalan. Aksi itu dilakukan sebagai bentuk protes terhadap aksi represif polisi dalam mengamankan massa aksi yang menolak hasil Pemilu pada 22 Mei lalu di Jakarta.

Dari aksi yang berlangsung ricuh itu sedikitnya delapan orang meninggal dan 541 orang terluka akibat tindakan refresif pihak kepolisian dalam melakukan pengamanan. “Apa yang sudah dilakukan aparat kepolisian sudah di luar batas kewajaran. Rakyat berunjuk rasa hanya ingin mempertanyakan kejanggalan dalam pelaksanaan Pemilu 2019,” kata Agus.

Orator lain, Presiden Mahasiswa Unsyiah, Rival Perwira mempertanyakan atas dasar apa polisi melakukan tindakan itu. “Seharusnya polisi mengayomi dan melayani, tapi bersikap represif,” kata Rival.

Dalam aksi kemarin, Rival mengatakan, jika dilihat dari video-video yang tersebar dalam beberapa hari lalu, polisi tampak memukul dengan sangat agresif. “Secara pribadi saya melihat polisi-polisi di Aceh tidak begitu. Kalau sudah minta ampun, jangan disakiti lagi (massa). Ditangkap silakan tapi jangan dibunuh,” ujarnya.

Dia menyatakan dalam kerusuhan yang terjadi di Jakarta, tidak hanya massa yang menjadi korban tapi juga tim medis. Rival juga berharap sikap agresif polisi tidak sampai terjadi di Aceh. “Jangan sampai kejadian itu terjadi di Aceh. Kita sudah nyaman dengan damai,” pungkasnya.

Dalam aksi itu, massa yang merupakan gabungan ormas dan masyarakat tersebut meminta kepada polisi untuk menangkap para provokator yang memicu kerusuhan pada 22 Mei. “Memohon kepada aparat kepolisian untuk segera menangkap para provokator dan meminta Kapolri untuk melarang aparat kepolisian agar tidak menembak secara brutal peserta aksi,” katanya.

Kecaman juga datang dari Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh. Mereka mengecam keras tindakan represif pihak kepolisian yang dituding telah bersikap di luar undang-undang dan peraturan negara dalam mengawal jalannya aksi massa tersebut.

“Kami Mengecam tindakan represif yang dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap peserta aksi dan tim medis pada 21-22 Mei 2019 dalam aksi massa di Jakarta,” kata Presiden Mahasiswa (Presma) atau Ketua Umum DEMA UIN Ar-Raniry, Rizki Ardial dalam pernyataan sikap mereka, Jumat (25/5) malam.

Mahasiswa kemudian juga mendesak agar pemerintah dapat bertanggung jawab atas korban yang berjatuhan akibat tindakan represif dari oknum pihak keamanan. “Kami mendesak Presiden agar segera mencopot Kapolri dan Menkopolhukam, karena dianggap gagal dalam menjaga stabilitas Nasional,” tegas Rizki Ardial.

Selain itu, mahasiswa juga mengecam tindakan-tindakan inkonstitusional yang dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. “Kami mendesak agar elite-elite politik nasional untuk segera melakukan rekonsiliasi atas peristiwa yang terjadi di Jakarta,” kata Rizki Ardial.

Mahasiswa menghimbau kepada elite politik untuk dapat lebih mengedepankan stabilitas negara dari pada kepentingan politik kelompok. “Kami menyerukan kepada komponen yang ada di Aceh agar dapat mengawal secara ketat upaya-upaya konflik horizontal untuk kebangkitan Aceh dari keterpurukan konflik selama ini,” pungkas Rizki Ardial.(mas/dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved