Citizen Reporter

Tarawih One Night One Juz di Boston

BISA merasakan bulan Ramadhan di Negeri Paman Sam adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya

Tarawih One Night One Juz di Boston
IST
RAHMAWATI BUSTAMAM, penerima Beasiswa Fulbright Program Foreign Language Teaching Assistant (PLTA) tahun 2018-2019 di Harvard Kennedy School, Harvard University, melaporkan dari Boston, Amerika Serikat

OLEH RAHMAWATI BUSTAMAM, penerima Beasiswa Fulbright Program Foreign Language Teaching Assistant (PLTA) tahun 2018-2019 di Harvard Kennedy School, Harvard University, melaporkan dari Boston, Amerika Serikat

BISA merasakan bulan Ramadhan di Negeri Paman Sam adalah pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Apalagi, katanya, berpuasa di musim semi dan panas di sini lebih lama daripada di musim lainnya. Kali ini Ramadhan jatuh pada musim semi, jadi lamanya berpuasa adalah 16 jam. Dua jam lebih lama daripada di Indonesia.

Awalnya saya kira ini akan terasa berat. Bahkan awalnya saya berniat untuk mengosongkan jadwal di siang hari untuk beristirahat. Rupanya setelah saya coba, alhamdulillah baik-baik saja. Mugkin ini disebabkan oleh faktor cuaca yang dingin, khususnya di area Boston dan sekitarnya. Bahkan kadang-kadang terasa seperti pada musim dingin ketika temperaturnya 5 derajat Celcius. Jadi, saya pun sanggup berjalan banyak dan beraktivitas seperti biasanya pada waktu siang hari.

Jika berada di Aceh, pasti akan sangat terasa kehadiran bulan suci ini. Apalagi dengan tutupnya toko makanan di pagi hingga siang hari. Kemudian sore hari, sepanjang jalan dipenuhi oleh para penjual takjil musiman. Orang-orang pun mulai memadati jalan menjelang berbuka untuk membeli bukaan apa pun yang diinginkan. Belum lagi dengan kafe-kafe yang dipenuhi oleh para peserta bukber (buka bersama). Hingga di waktu Tarawih, terdengar bacaan ayat-ayat Alquran di mana-mana. Suasana seperti itu tidaklah saya dapatkan di sini. Suasananya sama saja seperti hari-hari lainnya karena ini memanglah bukan negara muslim dan muslim sendiri adalah minoritas. Akan tetapi, walaupun seperti itu Ramadhan tetap spesial di Boston. Ia dirayakan dengan caranya sendiri di sini. Suasananya akan sangat terasa ketika kita memasuki masjid-masjid dan musala kampus di sini.

Hal pertama yang paling berkesan, menurut saya, adalah di sini diterapkan One night one juz. Ini bukan untuk bacaan Alquran seperti gerakan one day one juz, akan tetapi untuk bacaan di dalam shalat Tarawih. Baik itu yang berakaat delapan atau pun 20, dan tempatnya di masjid atau musala, jumlah juz yang dibaca tetap sama. Ada yang memulainya dari shalat Isya, ada juga yang memulainya dari shalat Tarawih. Ini menarik sekali karena jika ditotalkan untuk sebulan artinya kita khatam Alquran sekali.

Karena bacaannya yang lama, untuk shalat Tarawih bisa menghabiskan waktu satu setengah jam sampai dua jam. Di awal Ramadhan, shalat Isya dimulai di pukul 21.30 malam, artinya bisa selesai pada pukul 23.00 atau malah 23.30. Saya yang biasa shalat Tarawih dengan bacaan pendek, merasa kewalahan dengan bacaan lama tersebut. Jika yang jumlah rakaatnya 23 rakaat–tiga di antaranya Witir--masih terasa lumayan karena pembagian ayatnya akan menjadi lebih pendek untuk setiap rakaatnya.

Akan tetapi, jika shalatnya 11 rakaat, rasanya sangat berat. Apalagi dengan tidak memahami semua bacaannya, pasti sangat susah menjaga kekhusyukan. Padahal, suara dan bacaan sang imam luar biasa merdu dan bagus sekali.

Sebenarnya di dalam masjid banyak disediakan kursi yang bisa dipakai jamaah jika merasa lelah berdiri. Tapi itu biasanya dipakai oleh orang-orang yang sudah lanjut usia. Hingga saya rasa generasi muda merasa gengsi untuk menggunakannya. Hahaha.

Bagusnya lagi, selama ini tidak pernah saya dengar tentang perdebatan antara jumlah rakaat 11 dan 23 di sini. Kita bebas memilih mau shalat yang berakaat mana, tidak akan ada yang menghakimi. Bahkan jika ingin shalat kurang dari itu juga tidak ada yang mencela. Seperti di masjid-mesjid yang saya hadiri, saya melihat ada jamaah yang keluar pada rakaat kelima atau kesembilan dan kemudian masuk ke kantin yang ada di masjid itu untuk makan. Awalnya ini sedikit aneh bagi saya, tapi rupanya ini telah umum terjadi di sini.

Hal berikutnya yang spesial adalah di sini selalu diadakan iftar seperti di tempat kita. Hanya saja umumnya di Aceh yang disediakan hanyalah takjil sebelum shalat magrib dan sesekali ada makan besar setelahnya. Tapi di sini selalu ada makanan besar. Saya berkesempatan mengikuti iftar sebanyak tiga kali di sini di tempat yang berbeda-beda. Yang pertama adalah di Masjid Yusuf yang terletak di daerah Brighton. Di masjid ini saya melihat mereka sudah mempunyai daftar donaturnya untuk setiap hari. Tidak ditulis siapa donaturnya, yang tertulis hanyalah jumlah dananya untuk setiap hari. Kali kedua, saya mengikuti acara tahunan interfaith iftar yang diadakan oleh Wali Kota Boston di gedung pemerintahannya. Dalam acara ini wali kotanya sendiri yang bernama Marty Walsh hadir dan mengadakan acara dialog sebelum iftar dimulai. Karena ini adalah acara interfaith (lintas agama), selain muslim, nonmuslim juga hadir untuk melihat bagaimana kegiatan iftar dan shalatnya para muslim. Mereka juga bergabung ketika iftar dan berdiskusi dengan muslim lainnya. Ketika azan dikumandangkan, semua yang hadir khusyuk mendengarnya. Ketika kami shalat Magrib, Bapak Wali Kota dan nonmuslim lainnya ikut menyaksikannya. Ketika makan malam, staf kantor wali kota sendiri yang membagi-bagikan makanannya. Semuanya berwajah ramah dan menyenangkan.

Pada kali ketiga saya hadir di acara iftar yang diadakan oleh komunitas muslim Universitas Harvard atau Harvard Muslim Society. Menariknya, beberapa hari sebelum Ramadhan, HMS sudah mengeluarkan daftar menu apa saja untuk setiap harinya. Makanan-makanan tersebut berasal dari restoran atau tempat makan halal yang ada di Boston dan sekitarnya. Bagusnya, iftar ini tidak hanya diperuntukkan bagi mahasiswa atau staf Harvard saja, tapi untuk masyarakat umum juga. Akan tetapi, makanan yang ada tetap cukup walaupun yang datang banyak sekali. Mungkin inilah salah satu berkah Ramadhan.

Begitulah kisah pengalaman saya menikmati Ramadhan di Kota Boston. Walaupun kata orang kita, Amerika adalah negara kafir, tetapi di satu sisi saya merasa cara muslim di sana merayakan bulan suci ini lebih terdepan daripada kita. Semoga kita yang mempunyai daerah bersyariat Islam bisa melakukan lebih dari itu.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved