Jurnalisme Warga

Istana Maimun, Warisan Kesultanan Melayu

PERTENGAHAN Ramadhan 1440 H saya berkesempatan mengunjungi Kota Medan dalam rangka memenuhi hajat negara

Istana Maimun, Warisan Kesultanan Melayu
IST
AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

OLEH AMIRUDDIN (Abu Teuming), Direktur Lembaga Keluarga Sakinah Mawaddah dan Rahmah (K-Samara), Penyuluh Agama Islam pada KUA Kecamatan Krueng Barona Jaya, Aceh Besar, dan pegiat Forum Aceh Menulis (FAMe), melaporkan dari Medan, Sumatera Utara

PERTENGAHAN Ramadhan 1440 H saya berkesempatan mengunjungi Kota Medan dalam rangka memenuhi hajat negara. Sudah lazim, setiap abdi negara yang punya kegiatan di luar daerah tentu akan memanfaatkan waktu untuk mecicipi makanan khas daerah yang dikunjungi. Atau menyempatkan diri jalan-jalan ke tempat bersejarah dan ternama di daerah yang dikunjungi.

Di kota yang disebut-sebut terbesar di Pulau Sumatra ini, saya berkesempatan melihat-lihat beberapa peninggalan sejarah. Termasuk masjid kebanggaan muslim Medan. Tetapi saya hanya fokus pada objek wisata yang satu ini, yakni Istana Maimun. Bangunan ikonik ini menjadi kebanggaan warga Sumatera Utara.

Selain ada slogan “Ini Medan, Bung”, ternyata warga Medan juga punya slogan lain, “Kalau belum ke Istana Maimun, berarti Anda belum ke Medan”. Persis seperti di Aceh, “Bek peugah ka lheuh jak u Banda Aceh meunyoe gohlom troek u Masjid Raya Baiturrahman” (Jangan mengaku sudah ke Banda Aceh kalau tidak mampi ke Masjid Raya Baiturrahman).

Sebelum melangkah ke Istana Maimun, saya sempatkan ziarah ke makam Abu Keumala. Sosok ulama Aceh yang menetap di Medan. Makam ini terletak di belakang Masjid Al-Maksum atau dikenal sebagai Masjid Medan, berdekatan dengan makam sultan-sultan Deli.

Semasa hidup, Abu Keumala menjadi tokoh utama di kawasan itu. Ia berperan aktif menyebarkan Islam di Sumatera Utara hingga ke Tanah Karo.

Masyarakat muslim setempat sangat takzim (hormat) pada Abu Keumala. Konon, konsep ibadah yang dijalankan di Masjid Raya Medan masih terikat dengan ajaran Abu Keumala. Di samping makam Abu Keumala, berjejer makam keturunan Aceh. Saya memperhatikan satu per satu nisan yang bertuliskan “Cut dan Teuku”. Menurut penjaga makam, memang banyak kuburan warga Aceh di kompleks ini.

Kesultanan Deli
Sebelum mengurai kemegahan Istana Maimun, saya ingin membuka sedikit lembaran lama. Ternyata, Kesultanan Deli didirikan tahun 1632 oleh Tuanku Panglima Gocah Pahlawan. Jika ditelusuri lebih jauh, pendiri Kesultanan Deli ini punya hubungan erat dengan Kesultanan Aceh.

Dalam Hikayat Deli, seorang pemuka Aceh bernama Muhammad Dalik diangkat sebagai laksamana pada Kesultanan Aceh. Muhammad Dalik dikenal pula dengan sebutan Gocah Pahlawan. Ia menikah dengan Putri Chandra Dewi, putri dari Sultan Samudra Pasai. Muhammad Dalik diberikan kepercayaan oleh Kesultanan Aceh untuk menjadi wakil di bekas Kerajaan Haru. Lalu didirikan Kesultanan Deli di bawah kekuasaan Kesultanan Aceh. Namun, tahun 1669 Kesultanan Deli memisahkan diri dari Kesultanan Aceh.

Kini, kekuasaan politik Sultan Deli telah tiada. Namun, Kesultanan Deli masih eksis sampai sekarang yang takhtanya dipegang oleh Tuanku Mahmud Arya Lamanjiji Perkasa Alam Syah. Ia dinobatkan sebagai Sultan Deli XIV menggantikan ayahnya, Sultan Deli XIII, Mahmud Ma’mun Padrap Perkasa Alam Syah yang meninggal akibat kecelakaan pesawat CS-235 pada 2005 di Kota Lhokseumawe, dalam rangka menjalankan misi sosial.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved