Salam

Soal Narkoba, Aceh Tak Boleh Lengah

Dibaca pada bulan puasa, berita dengan judul seperti ini sungguh sangat memiriskan hati kita sebagai orang Aceh

Soal Narkoba, Aceh Tak Boleh Lengah
FOR SERAMBINEWS.COM
Dua pengedar sabu-sabu di Pidie Jaya (satu diantaranya oknum polisi) menjalani pemeriksaan di Polres Pidie, Sabtu (25/5/2019). 

Sebanyak 35 Kg Sabu dari Aceh Ditangkap. Demikian judul berita utama (headline) di halaman l Harian Serambi Indonesia edisi Minggu kemarin.

Dibaca pada bulan puasa, berita dengan judul seperti ini sungguh sangat memiriskan hati kita sebagai orang Aceh. Betapa tidak, seolah Aceh yang dulunya dikenal sebagai lumbung ganja, sekarang berubah menjadi daerah produsen sabu-sabu. Atau paling tidak Aceh telah menjelma sebagai daerah transit narkoba yang potensial dengan jumlah volume transaksinya hampir selalu besar.

Sabu yang diselundupkan dari Kota Langsa, Aceh, itu jumlahnya terbilang besar, yakni 35 kg. Dari Langsa, barang haram tersebut diangkut ke Medan. Sesampai di Medan dimuat ke dalam truk. Untuk mengelabui petugas, sopir atau awak truk menutupi 35 kg sabu-sabu tersebut dengan kol dan kubis. Terkesan dari luar bahwa truk tersebut hanya menyangkut sayuran.

Tapi petugas Badan Narkotika Nasional (BNN) keburu mendapat informasi bahwa ada pengiriman sabu-sabu dari Sumatera Utara ke Jakarta naik truk. Hasil penyelidikn mengarah ke truk colt diesel bak warna kuning komibinasi biru dengan nomor polisi BK 9434 EN. Truk dimaksud tak lain adala truk yang bermuatan penuh dengan kol dan kubis itu.

Selanjutnya petugas BNN mengikuti truk tersebut ke wilayah Lampung. Dari Pelabuhan Bakauheni truk menyeberang ke Pelabuhan Merak, Banten. Kemudian petugas BNN menghentikan truk tersebut di Cilegon, selepas dari Pelabuhan Merak.

Lalu petugas membongkar seluruh muatan kol dan kubis dari truk yang dicurigai itu. Kecurigaan petugas terbukti. Ditemukan 35 bungkus sabu-sabu di dinding bak belakang truk. Petugas langsung membekuk Muazir, sopir truk tersebut. Sedangkan seorang kernet truk masih sebatas saksi dan akan diperiksa lebih intensif.

Menurut Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, tersangka Muazir mengaku bahwa sabu-sabu tersebut ia peroleh dari Riski atas perintah Ridwan yang keduanya tinggal di Kota Langsa. Kemudian, tim bekerja sama dengan BNNK Langsa berhasil menangkap Riski dan Ridwan di Dusun Tanjung Putus, Kelurahan Kampong Jawa, Kota Langsa. Setelah menggeledah rumah tersangka Ridwan dan Riski, petugas menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya, sejumlah mobil, sepeda motor, dan uang tunai Rp 268 juta, “Semua barang itu disita karena diduga dari hasil bisnis sabu-sabu,” kata Irjen Arman Depari.

Petugas BNN akan menidaklanjuti temuan itu dan menelusri kemungkinan adanya dugaan tindak pencucian uang di dalam kasus narkoba ini.

Kita ucapkan selamat dan salut kepada BNN yang mampu mengendus bisnis narkoba asal Aceh ini dan menggagalkan penyelundupannya dengan tujuan Jakarta. Di sisi lain, kita juga sangat prihatin karena ternyata ada penduduk Aceh yang bermukin di Langsa punya stok sabu-sabu sebanyak itu. Secara teori, sekilo sabu-sabu dapat merusak 4.000 orang. Jika dikalikan, berarti ada sekitar 140.000 anak bangsa ini yang bakal dirusak oleh barang haram yang menimbulkan ketergantungan pada pemakainya itu.

Oleh karenanya, semua pihak di Aceh tidak boleh lengah terhadap bisnis narkoba ini. Semakin didiamkan maka semakin banyak korban yang jatuh. Semakin banyak pula orang yang tertarik jadi pengedar bahkan bandar. Itu karena tingginya keuntungan dari bisnis haram ini, mengingat di pasar gelap Aceh sabu-sabu dibanderol 1,5 hingga 2 juta miliar per kg.

Untuk itu, aparat keamanan harus memperketat pengawasan masuknya sabu-sabu ke Aceh dari luar dan kemudian didistribusikan ke provinsi lainnnya termasuk ke Jakarta. Sedikitnya ada 129 titik masuk narkoba di Aceh, terutama di pantai timur. Kawasan ini sangat minim penjagaan sehingga tak heran di kawasan inilah transaksi narkoba sering terjadi.

Salah satu cara termudah merusak anak bangsa adalah melalui narkoba.

Kita juga harus prihatin karena saat ini sekitar 63.000 orang putra-putri Aceh yang ketergantungan narkoba belum berhasil diobati, terutama karena terbatasnya dana rehabilitas dan Aceh memang belum punya panti rehab bagi para pengguna narkoba.

Pendeknya, semua pihak di Aceh, mulai orang tua, guru, tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, dan aparat keamanan tidak boleh lengah seolah narkoba bukan ancaman serius di Aceh. Ingat bahwa dari 6.400 warga binaan di LP-LP dan rutan saat ini, sekitar 62 persen di antaranya tersangkut kasus narkoba. Ironisnya lagi, 75 persen bisnis narkoba di Aceh dikendalikan dari penjara. Nah, kalau kita terus menganggap kasus narkoba ini hal biasa, maka tunggulah dalam waktu tak lama lagi Aceh akan menjadi lumbung narkoba dan tragedi kemanusiaan gara-gara narkoba akan terjadi di bumi syariat ini. Saat itu tak ada lagi gunanya penyesalan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved