Sulok, Melepaskan Diri dari Urusan Duniawi

Sulok (suluk) dan kaluet merupakan cara beribadah untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT

Sulok, Melepaskan Diri dari Urusan Duniawi
Khalis Surry - Anadolu Agency
Para peserta tampak khusyuk mengikuti aktivitas Suluk selama Ramadan di Aceh. 

Sulok (suluk) dan kaluet merupakan cara beribadah untuk mendekatkan diri dengan Allah SWT. Mereka berusaha melepaskan diri dari semua urusan duniawi. Pengikut kaluet dan sulok dilarang memakan makanan mengandung darah, tidak boleh mengonsumsi makanan melezatkan. Porsi makanan pun dikurangi dan tidak diperkenankan berhubungan dengan masyarakat luar.

Bagaimana ibadah kaluet dan sulok dijalankan? Di Pidie Jaya, ada dua dayah yang melaksanakan kegiatan ini, yakni di dayah Darul Munawwarah Kuta Krueng, Ulee Gle, Kecamatan Bandardua di bawah asuhan Tgk H Usman Ali (Abu Kuta Krueng). Selain itu juga ada di dayah Daruzzahidin Bidok, Kecamatan Ulim, Pidie Jaya, di bawah pimpinan Tgk H Syarifuddin Djalil.

Sudah menjadi kebiasaan pada bulan suci Ramadhan hampir semua daerah di Aceh mengisi kegiatan ibadah kaluet di dayah. Sejak awal Ramadhan, pria dan wanita utamanya kalangan usia lanjut, mendatangi dayah guna mengikuti ibadah kaluet atau sulok. Tahun ini, di dua dayah tersebut ada 634 orang yang kaluet dan sulok.

Di Dayah Darul Munawwarah yang kini berusia setengah abad, sebagaimana penuturan Tgk H Anwar Usman yang juga putra Abu Kuta Krueng, kaluet dijalankan berdasarkan Tarikat Syathariah dengan lama satu bulan. Ada pula yang melaksanakan hingga 40 hari. Kaluet selama sebulan, masuk mulai satu Ramadhan. Namun, jika hendak menjalani sulok 40 hari, maka masuk kaluet 10 hari sebelumnya. Sementara berakhir atau keluar dari kaluet yaitu pada 1 Syawal atau masuk Hari Raya Idul Fitri.

Tujuan kaluet dan sulok, lanjut Tgk H Anwar, adalah meningkatkan amalan rohani. Dengan demikian akan bertambah ketakwaan kepada Allah SWT. Karenanya, mereka yang menjalani ibadah yang satu ini tidak sembarang orang. Kegiatan ini hanya mampu dijalankan oleh orang-orang yang telah memiliki pengetahuan agama yang tinggi serta tidak terpengaruh dengan berbagai kesenangan duniawi. Ramadhan tahun ini, yang menjalani kaluet di Darul Munawwarah sebanyak 484 orang. Rinciannya, pria 317 orang dan wanita 167 orang. Mereka ditempatkan secara terpisah.

Mereka berasal dari hampir semua kabupaten/kota di Aceh dan setiap tahun bertambah. Malah, lanjut Abiya--panggilan akrab Tgk Anwar–pada Ramadhan 1440 H tahun ini sekitar 20 orang di antaranya datang dari luar Aceh, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan. Ibadah sulok meliputi doa, zikir, shalat wajib, shalat sunat termasuk Tarawih dan membaca Alquran. “Orang yang kaluet dan sulok tidak ada waktu tanpa berzikir. Saat terbaring dan terpejam mata pun, mulut berzikir. Makanya tidak mengherankan orang yang keluar kaluet agak kurus,” katanya.

Kaluet, kata Abiya, mengamalkan samadiyah hingga 40.000 kali serta tahlil mencapai 100.000 kali. Orang kaluet harus menutup wajah. Sementara untuk sulok tidak mesti harus menutup wajah. Pun begitu, untuk lebih kusyuk, orang yang melakukan sulok juga hampir semuanya menutup wajah. Pengikut kaluet dan sulok sering menangis, terutama saat merenungi arti kehidupan. Mereka benar-benar sudah menyatu dengan ibadah dan mampu melepaskan diri dari segala urusan duniawi, setidaknya untuk sementara waktu.(abdullah gani)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved