Tumbuhkan Kesiapsiagaan Bencana, Unsyiah Ajarkan ‘Nandong Smong’ kepada Siswa

Adaptasi Nandong Smong merupakan perpaduan dari kesenian di Aceh yang dikemas menjadi satu drama yang bisa dinikmati penonton.

Tumbuhkan Kesiapsiagaan Bencana, Unsyiah Ajarkan ‘Nandong Smong’ kepada Siswa
Foto Kiriman Warga
Drama adaptasi Smong 

Laporan Eddy Fitriady | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) melalui Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M), mengembangkan adaptasi Nandong Smong, yakni seni tradisional masyarakat Simeulue berupa nyanyian yang berisi nasehat pengingat bencana tsunami (smong).

Melalui program Pengembangan Paket Kesenian Untuk Mitigasi Bencana (Pasmina), Tim PKM-M Unsyiah mengajarkan kesenian itu kepada siswa Aceh guna menumbuhkan kesiapsiagaan siswa terhadap bencana.

Ketua Tim PKM-M Unsyiah, Imam Maulana, Minggu (26/5/2019) mengatakan, adaptasi Nandong Smong merupakan perpaduan dari kesenian di Aceh yang dikemas menjadi satu drama yang bisa dinikmati penonton.

“Target utama drama ini yaitu memperkenalkan istilah smong kepada para penonton dengan kesan yang menyenangkan,” ujar Imam.

Pelatihan itu berlangsung sejak Maret hingga Juni mendatang.

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsyiah ini menjelaskan, smong adalah istilah naiknya air laut yang biasa digunakan warga Simeulue.

Pada tahun 2004 lalu, lanjut Imam, di saat hampir seluruh daerah di Aceh lumpuh karena Tsunami yang dahsyat, Simeulue membuktikan kepada dunia bahwa hikayat Smong menyelamatkan mereka.

“Lewat hasil penelitian, terbukti bahwa kearifan lokal smong merupakan salah satu faktor yang menyebabkan kecilnya angka korban jiwa akibat tsunami di Simeulue, yakni 7 orang,” terangnya.

Menurut Imam, kearifan lokal yang terdapat di daerah itu ialah bentuk mitigasi bencana yang terus dilestarikan turun temurun.

Adapun adaptasi kesenian itu diawali dengan tarian guel khas Takengon, lalu diiringi dengan didong dan nyanyian nandong smong khas Simeulue.

Pada drama juga disematkan peran seorang kakek, yang menjelaskan istilah smong dan tanda-tandanya, serta apa yang harus dilakukan kepada para cucunya.

“Kemudian ada peran seorang ibu di malam hari yang sedang bershalawat dan bersenandung menceritakan kisah smong kepada anaknya,” kata dia.(*)

Baca: Pemerintah Aceh Fasilitasi Mahasiswa Mudik Gratis dari Jakarta

Baca: PNS di Abdya Ditangkap karena Status Facebook Sudutkan Jokowi, Ini Pernyataan Kapolres Abdya

Baca: Tiga Nelayan Aceh Sudah Dua Bulan Menghilang, Anggota DPRA Minta Dinsos dan Baitul Mal Turun Tangan

Penulis: Eddy Fitriadi
Editor: Taufik Hidayat
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved