Breaking News:

BNNP Aceh: Itu Biasa, Mereka Banyak Uang

Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh sangat menyayangkan putusan Mahkamah Agung (MA)

Editor: bakri
SERAMBITV.COM
Kepala BNNP Aceh, Faisal Abdul Naser 

BANDA ACEH - Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh sangat menyayangkan putusan Mahkamah Agung (MA) yang meringankan hukuman Samsul Bahri, bandar narkoba yang pernah dibekuk BNNP Aceh secara bersamaan dengan tiga rekannya. Namun, BNNP Aceh tidak heran atas putusan itu, karena para bandar narkoba memang mampu melakukan lobi tingkat tinggi untuk keringanan hukumannya.

Kepala BNNP Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH melalui Kepala Bidang Pemberantasan, Amanto MH mengatakan, pihak BNNP Aceh sudah bersusah payah menangkap para bandar tersebut, oleh karenanya cukup menyesalkan putusan MA terhadap mereka.

“Tapi sebetulnya itu hal yang biasa, mereka (bandar narkoba) sudah banyak uang. Kalau kami dari BNNP Aceh hanya bisa sangat menyesalkan kalau bandar-bandar itu dalam upaya hukum masih diberi keringanan. Padahal, sudah sepantasnya mereka menerima hukuman mati,” kata Kepala Bidang Pemberantasan BNNP Aceh, Amanto MH, saat dikonfirmasi Serambi di Banda Aceh kemarin.

Amanto yakin, para bandar narkoba yang sudah divonis itu akan melakukan segala cara untuk meringankan hukuman mereka, termasuk melakukan upaya-upaya lobi tingkat tinggi. Amanto yakin bahwa ada saja oknum yang bermain dalam urusan penegakan hukum terhadap para bandar narkoba. “Masih ada yang lobi-lobi di sana, kalau nggak itu kemungkinan kecil dikabulkan,” katanya.

Amanto menambahkan, BNNP Aceh juga BNN pusat cukup menyayangkan hal ini, karena selama ini pihaknya berusaha maksimal untuk memutus jaringan narkoba di Aceh khususnya. Terkait hal itu, pihaknya sudah berkali-kali menyampaikannya saat ada rakernas internal. “Kita berusaha maksimal memberantas narkoba, tapi kalau masih ada oknum yang bermain, ya mereka (bandar narkoba/tervonis) tidak akan jera-jera,” pungkas Amanto.

Terpisah, Ketua Ikatan Keluarga Antinarkoba (IKAN), Syahrul Maulidi MSi kepada Serambi mengaku, pihaknya belum membaca putusan MA tehadap Samsul Bahri, bandar narkoba yang kini mendapat keringanan hukuman dari hukuman mati menjadi hukuman 20 tahun penjara. Namun, IKAN Aceh cukup menyesalkan hal itu.

“Kita belum membaca putusannya, tapi jika memang benar, tentu kita sangat menyayangkan hal itu, kami sangat menyayangkan atas keringanan hukuman tersebut,” kata Ketua IKAN, Syahrul Mauidi MSi kepada Serambi saat diwawancarai via telepon, kemarin.

Dia mengatakan, jika bandar narkoba mendapat keringanan hukuman, berarti secara tidak langsung sudah mencederai darurat narkoba yang sudah dicanankan oleh pemerintah selama ini. “Kelemahan hukum kita sangat rentan dan mudah dibeli. Kalau benar ingin menyelesaikan darurat narkoba di Indonesia, semuanya harus bersinergi dalam memberantasnya, tidak hanya polisi atau BNN saja, tapi semuanya,” pungkas Syahrul Maulidi. (dan)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved