Salam

Enyahkan Hoaks!

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan tidak ada virus mematikan dalam obat Paracetamol

Enyahkan Hoaks!
Berita palsu atau bohong (hoaks) kini banyak bertebaran di dunia maya(KOMPAS/HENDRA A SETYAWAN) 

Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memastikan tidak ada virus mematikan dalam obat Paracetamol. “Itu hoaks. Itu tidak benar,” kata BPPOM membantah informasi yang beredar bahwa obat Paracetamol baru yang ditulis P/500 dengan ciri-ciri sangat putih dan mengkilap dan mengandung virus.

BPOM melakukan evaluasi terhadap keamanan, khasiat, mutu, dan penandaan/label produk obat sebelum diedarkan (pre-market evaluation) dan secara rutin melakukan pengawasan terhadap sarana produksi dan distribusi, serta produk yang beredar di wilayah Indonesia (post-market control).

“Terkait dengan isu yang disebarkan secara berantai melalui media sosial, sampai saat ini BPOM tidak pernah menerima laporan kredibel yang mendukung klaim bahwa virus Machupo telah ditemukan dalam produk obat Paracetamol atau produk obat lainnya,” kata Kepala Badan POM, Penny K Lukito.

Virus Machupo sendiri diketahui merupakan jenis virus yang penyebarannya dapat terjadi melalui udara, makanan, atau kontak langsung. Virus ini dapat bersumber dari air liur, urine, atau feses hewan pengerat yang terinfeksi dan menjadi pembawa (reservoir) virus tersebut. Dan, Badan POM tidak pernah menemukan hal-hal seperti yang diisukan tersebut, termasuk kandungan virus Machupo dalam produk obat.

BPOM mengimbau masyarakat Indonesia untuk selalu membeli obat di apotek atau sarana resmi lainnya, seperti toko obat berizin. “Ingat, cek kemasan, label, izin edar, dan kedaluwarsa. Dengan demikian masyarakat harus menjadi konsumen cerdas, jangan mudah terpengaruh oleh isu/hoaks yang beredar di media sosial.”

Sebelumnya, beredar informasi secara berantai melalui media sosial yang berisi: hati-hati untuk tidak mengambil Paracetamol yang datang ditulis P/500, ini adalah Paracetamol baru, sangat putih dan mengkilap. Ini bukan isu baru, beberapa tahun lalu isu serupa juga beredar di media sosial.

Akhir 2016 si penyebar hoaks itu sudah sempat memviralkan isu tersebut, namun dibantah oleh BPOM dan isu itu menghilang. Lalu, di akhir 2017 muncul lagi isu itu dengan redaksi yang sama. BPOM kembali menenangkan masyarakat yang sempat gelisah. Dan, kini isu yang sama muncul lagi di pertengahan tahun 2019.

Sudah berkali-kali pihak berwenang secara detail menjelaskan kepada masyarakat bahwa isu itu hoaks. Obat sakit ringan itu tidak mengandung virus yang mematikan. Paracetamol itu sudah memenuhi standar, dan akan sulit obat tersebut menjadi medianya virus.

Masyarakat tidak perlu khawatir tentang obat itu, karena sudah ada klarifikasi dari yang punya wewenang yakni BPOM. Apalagi, pihak BPOM tidak pernah menerima laporan kredibel yang mendukung klaim bahwa virus Machupo telah di temukan dalam produk obat Paracetamol ataupun obat lainnya.

Agar isu itu yang bisa mencemaskan masyarakat tidak beredar lagi di media sosial, harusnya BPOM bersama para produsen Paracetamol meminta bantuan pihak kepolisian untuk mengusut akun-akun yang menyebarkan isu tersebut. Penindakan perlu dilakukan agar hal serupa tak terjadi lagi pada produk-produk makanan, minuman, dan obat-obatan lainnya. Kecuali jika memang ada pembuktian secara ilmiah atau labaratories bahwa sesuatu produk itu mengandung unsur berbahaya.

Dalam konteks inilah kita ingin meminta perhatian semua pihak untuk lebih tergerak bersama-sama mencari jalan memerangi hoaks. Hukum yang ada perlu diterapkan lebih keras sambil terus membangun kultur anti-hoaks. Sebab, satu hal yang bisa diperkirakan adalah boleh jadi teknologi menyebar luas lebih cepat daripada kearifan para pengguna. Akibatnya, bereaksi dan bertindak lebih dahulu, mengecek kebenaran kemudian.

Makanya, sekali lagi, selain berharap pihak berwenang mengusut, tugas kita yang tak boleh bosan-bosan adalah menanamkan pada masyarakat paham dan kultur informasi benar. Masyarakat harus merasa butuh menguji informasi yang diterimanya. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved