Jurnalisme Warga

Belajar Menjadi Orang yang Kompeten

MINGGU, 18 Mei 2019 merupakan awal perjalanan saya mencapai impian, sebagai salah satu peserta Pelatihan untuk Pelatih

Belajar Menjadi Orang yang Kompeten
IST
EVI SYAFIANI, Instruktur Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Yayasan Furi Computer dan Koordinator FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

OLEH EVI SYAFIANI, Instruktur Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Yayasan Furi Computer dan Koordinator FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

MINGGU, 18 Mei 2019 merupakan awal perjalanan saya mencapai impian, sebagai salah satu peserta Pelatihan untuk Pelatih (ToT)/Mentor Program Pemagangan yang dilaksanakan Balai Latihan Kerja (BLK) Banda Aceh bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas Kementerian Tenaga Kerja di Hotel Grand Arabia Banda Aceh.

Acara tersebut dibuka oleh Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Mobilitas Penduduk Aceh, Ir Helvizar Ibrahim MSi. Dalam sambutannya beliau katakan bahwa saat ini tercatat 5,53% angka pengangguran di Aceh. Ada sedikit penurunan dibandingan tahun lalu. Tapi angka pengangguran terbanyak justru lulusan SMK. Ini merupakan PR besar, tidak hanya bagi pemerintah, tapi juga bagi semua pihak yang bertanggung jawab dalam pengelolaan sumber daya manusia untuk melahirkan pekerja yang kompeten. Untuk itu, diperlukan seorang pelatih yang mumpuni sehingga dapat meningkatkan kemampuan para pencari kerja.

Tujuan utama dari program ini adalah untuk melatih soft skill para peserta pelatihan yang terdiri atas instruktur berbagai Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) yang ada di Aceh juga beberapa perusahaan seputaran Banda Aceh untuk bisa menjadi pembimbing dan pendamping para peserta magang. Targetnya adalah supaya mereka lebih memahami dan ahli sesuai dengan bidangnya masing-masing yang kemudian ditempatkan di tempat kerja yang sebenarnya.

Selain itu, diharapkan setelah program ini berakhir bisa melahirkan instruktur yang kompeten sesuai bidang yang diampu sehingga dapat menerapkan setiap ilmu yang diberikan kepada peserta program pemagangan selanjutnya. Ini adalah tugas utama dan menjadi kewajiban bagi pelatih untuk melatih sampai para peserta menjadi kompeten dan bisa berkembang serta berdaya saing tinggi di dunia kerja.

Waktu pelatihan
Kegitan pelatihan ini dilaksanakan seminggu penuh sejak 19 hingga 25 Mei 2019 dengan suguhan tema yang berbeda setiap harinya. Kepada peserta di antaranya disajikan beberapa regulasi mengenai program pemagangan, yaitu Kepmenaker Nomor 161 Tahun 2015 tentang Penetapan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia, Permenaker Nomor 36 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Pemagangan Dalam Negeri, Keputusan Dirjen Binalattas Nomor 185 Tahun 2013 tentang Pedoman Penyusunan Program Pelatihan Berbasis Kompetensi, dan beberapa modul lainnya yang kalah berat dibandingkan rindu yang dipikul Dilan. Ups, mau tidak mau, semua itu harus dipelajari dengan sepenuh jiwa dan raga untuk bisa menjadi kompeten.

Dalam pelatihan untuk pelatih ini, kami ditempa menjadi warga negara yang baik dan penuh disiplin, karena setiap program yang dijalankan harus disesuaikan dengan peraturan yang berlaku. Semuanya harus mengikuti pedoman baku yang telah ditulis berdasarkan peraturan pemerintah. Misalnya, hari Senin kami akan belajar tentang Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) Nomor 94 Tahun 2015, di hari selanjutnya dibahas cara membuat program pelatihan berdasarkan SKKNI yang berlaku dan disesuaikan dengan unit kompetensi yang dipilih atau sesuai dengan program pemagangan yang pernah dan akan dijalankan di LPK maupun perusahaan masing-masing peserta.

Bagaimana? Pusingkah Anda? Jawabannya, tentu. Tapi di sinilah saya belajar manajemen yang baik seperti tata cara pengelolaan, persiapan, sampai akhirnya menghasilkan output sesuai ekspektasi.

Bagian terseru dari Program Pelatihan untuk Pelatih ini adalah pada saat semua peserta diharuskan praktik mengajar di depan para peserta lainnya serta dinilai oleh narasumber sebelum akhirnya praktik di depan para asesor yang akan menilai layakkah seorang instruktur menjadi kompeten dan mendapat sertifikat kompetensi. Artinya, instruktur tersebut sudah tersertifikasi secara nasional setelah dilakukan beberapa ujian pada akhir pertemuan. Jujur saja, ada rasa gugup, malu, panik bahkan ada yang blank. Tapi, di sinilah keberanian para peserta ditempa, semua sama, tak ada yang beda. Sama-sama menderita dalam kebahagiaan dan akhirnya momen terberat ini bisa terlewati dengan baik dan lancar.

Nah, dari sini saya telah menemukan sebuah hal baru, seperti menentukan kebutuhan mikro atau terlebih dahulu menganalisis jabatan kerja yang akan ditempati oleh peserta magang nantinya, kemudian menyusun program pelatihan, dan merencanakan penyajian materi pelatihan. Setelah itu melaksanakan tatap muka (face to face) atau lebih mudahnya adalah melakukan proses pembelajaran belajar dan mengajar, kemudian memfasilitasi pelaksanaan pelatihan di tempat kerja (on the job training) serta mengevaluasi kualitas suatu program pelatihan.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved