Jurnalisme Warga

Belajar Menjadi Orang yang Kompeten

MINGGU, 18 Mei 2019 merupakan awal perjalanan saya mencapai impian, sebagai salah satu peserta Pelatihan untuk Pelatih

Belajar Menjadi Orang yang Kompeten
IST
EVI SYAFIANI, Instruktur Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Yayasan Furi Computer dan Koordinator FAMe Chapter Bireuen, melaporkan dari Banda Aceh

Pada tahap terakhir ini kita akan tahu apakah kualitas program yang telah dilaksanakan sama dengan kebutuhan dan sesuai dengan harapan agar tidak ada lagi ketimpangan kompetensi yang dibutuhkan.

Sebagai instruktur pada lembaga pelatihan kerja, saya merasa sangat terbantu, dikarenakan lembaga tempat saya bekerja mempunyai beberapa program pemangangan seperti operator komputer dan desain grafis, sehingga dapat memudahkan saya membuat dan menyusun program yang baik sesuai dengan peraturan yang ada yang tadinya belum begitu saya pahami.

Saya ingat betul kata-kata dari narasumber, yaitu Pak Sashi Nurcahya dan Sugeng Barkah tentang Person competency based need analysis merupakan kompetensi yang dimiliki seseorang saat ini dengan kompetensi yang diharapkan sehingga adanya kesenjangan kompetensi yang menyebabkan para pencari kerja tak mampu bersaing di dalam dunia kerja. Jadi, untuk mendapatkannya maka dibutuhkan pelatihan yang sesuai dengan program yang diharapkan.

Seorang pencari kerja setidaknya memiliki tiga hal. Pertama, pengetahuan yaitu teori yang diberikan pelatih di pusat pelatihan kepada para pencari kerja sehingga mereka dapat mengindentifikasi dan menganalisis masalah di tempat kerja. Kedua, keterampilan yaitu skill yang didapatkan dari praktik yang dilaksanakan di tempat pelatihan sehingga para peserta mampu mengidentifikasi, menganalisis, dan memecahkan masalah pada saat pemagangan nantinya. Ketiga, sikap kerja yaitu teliti, cermat, taat pada peraturan, serta bertanggung jawab pada pekerjaan.

Biasanya dalam proses pemagangan peserta akan dihadapkan pada standar kinerja (perfomance standars) yang merupakan pensyaratan tugas, fungsi, atau perilaku yang didapatkan oleh pemberi kerja sebagai sasaran yang harus dicapai oleh seorang karyawan. Maka sebelum masuk ke perusahaan dan bekerja, pelatih harus mampu menganalisis jabatan, tugas, dan fungsi jabatan tersebut sehingga pada saat peserta mulai magang di perusahaan ia tidak lagi canggung dengan alat-alat dan bahan-bahan yang ada.

Tentu ini bukan perkara mudah bagi kami yang awam. Belajar dari awal sampai harus begadang, rela meninggalkan nikmatnya tempat tidur demi satu tujuan, yaitu kompeten. Apalagi pada akhir program akan ada ujian kompetensi langsung dari asesor LSP berlisensi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Belajar memahami regulasi yang berlaku, membuat training lead analiysis, rencana program pelatihan, kurikulum, silabus bahkan microteaching di depan asesor dan peserta pelatihan lainnya. Bisa dibayangkan bagaimana beratnya perjalanan kami. Puasa bukanlah penghalang, tapi justru menjadi ujian dalam mencari ilmu sebanyak mungkin untuk diaplikasikan kemudian hari sehingga bisa melahirkan calon tenaga kerja kompeten yang berdaya saing tinggi.

Terkadang lelah dan bosan berbisik, menggoda hati agar menyerah. But it only a challenge yang kemudian berubah menjadi sang motivator, memperbaiki setiap kesalahan. Bangkit dan belajar lagi dengan sungguh-sungguh. Mungkin bagi sebagian orang ini adalah beban. Jujur ini beban dan sangat melelahkan, tapi tujuan akhir dari pelatihan ini adalah menjadi pelatih yang kompeten. Insyaallah berhasil. Salam kompetensi.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved