Disesalkan, Vonis MA Terhadap Bandar Sabu

Kasus penangkapan 78,1 kilogram (kg) sabu-sabu yang dipasok dari Malaysia ke Aceh ternyata belum berakhir

Disesalkan, Vonis MA Terhadap Bandar Sabu
IST

Kasus penangkapan 78,1 kilogram (kg) sabu-sabu yang dipasok dari Malaysia ke Aceh ternyata belum berakhir, walau para pelakunya tiga sudah divonis mati dan satu 20 tahun penjara. Sebab, tiga dari tervonis itu mengupayakan keringanan hukuman melalui Peninjauan Kembali (PK) ke Mahkamah Agung (MA). Dan, satu dari tiga tervonis itu, Samsul Bahri, sudah mendapat keringanan hukuman dari MA, yakni dari hukuman mati menjadi 20 tahun penjara.

Zulfan Effendi SH sebagai kuasa hukum, Samsul Bahri mengatakan, MA mengeluarkan putusan Nomor 166 PK/Pid.Sus/2016 tanggal 19 November 2018 yang isinya mengurangi hukuman dari vonis mati menjadi 20 tahun penjara. “Pertimbangannya (MA) karena Samsul Bahri sebagai perantara,” kata Zulfan Effendi.

Namun, putusan tersebut memunculkan banyak reaksi yang menyesalkan vonis majelis hakum MA itu. Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Aceh sangat menyayangkan putusan MA yang meringankan hukuman Samsul Bahri dari pidana mati menjadi hanya 20 tahun. Bandar narkoba itu merupakan tangkapan BNNP Aceh secara bersamaan dengan tiga rekannya. “Ya, kita tidak heran atas putusan MA itu, karena para bandar narkoba memang mampu melakukan lobi tingkat tinggi untuk keringanan hukumannya,” kata seorang pejabat BNNP Aceh.

Badan pemberantasan narkotika itu mengaku sudah bersusah payah menangkap para bandar tersebut, oleh karenanya cukup menyesalkan putusan MA terhadap mereka. “Tapi sebetulnya itu hal yang biasa, mereka (bandar narkoba) sudah banyak uang. Kalau kami dari BNNP Aceh hanya bisa sangat menyesalkan kalau bandar-bandar itu dalam upaya hukum masih diberi keringanan. Padahal, sudah sepantasnya mereka menerima hukuman mati,” kata pejabat BNNP.

Putusan MA memang acap menjadi keluhan pihak BNN. Beberapa waktu lalu, BNN juga protes atas MA terhadap seorang bandar narkoba. Pasalnya, MA memvonis untuk mengembalikan aset Rp 142 miliar yang didapat dari hasil penjualan sabu kepada sang bandar.

Deputi Pemberantasan BNN, Irjen Arman Depari, menyatakan sangat menyayangkan putusan MA itu. “Kita sedang berupaya memiskinkan bandar, tetapi putusan hakim MA malah bertolak belakang. Atas masalah ini, kami melihat ada sedikit keganjilan dan mungkin juga kurang memenuhi rasa keadilan masyarakat, penyidik, dan penuntut umum,” ujar Arman.

Ketua Ikatan Keluarga Antinarkoba (IKAN), Syahrul Maulidi MSi yang mengaku belum membaca putusan MA tehadap Samsul Bahri, tapi menyatakan sangat kecewa dan menyesalkan jika putusan itu benar-benar meringankan bandar narkoba. Sebab, jika bandar narkoba mendapat keringanan hukuman, berarti secara tidak langsung sudah mencederai darurat narkoba yang sudah dicanankan oleh pemerintah selama ini. “Kelemahan hukum kita sangat rentan dan mudah dibeli. Kalau benar ingin menyelesaikan darurat narkoba di Indonesia, semuanya harus bersinergi dalam memberantasnya, tidak hanya polisi atau BNN saja, tapi semuanya,” pungkas Syahrul Maulidi.

Wakil Ketua Majelis Pemusyarawatan Ulama (MPU) Aceh, Tgk H Faisal Ali secara tak langsung juga menunjukkan rasa kecewanya atas -peringanabn hukuman bandar sabu oleh MA. Sebab, saat ini narkoba sudah mengancam generasi muda Aceh. Setiap gampong bahkan ada yang sudah darurat narkoba. Dia mendukung pengedar sabu dihukum berat sesuai kadar perbuatannya.

Padahal, dalam agama sudah sangat tegas dijelaskan bahwa setiap perbuatan yang memabukkan dilarang dalam ajaran agama Islam, tak terkecuali dengan sabu-sabu. Bahkan Rasulullah bersabda, “Yang memabukkan itu adalah ibu dari kejahatan-kejahatan yang lain.”

Makanya, dalam agama dilegalkan hukuman mati bagi pengedar sabu-sabu, khususnya untuk bos-bosnya. “Tapi ini harus melalui proses hukum (positif),” kata Faisal Ali.

Mayoritas rakyat Indonesia atau sebanyak 86 persen ternyata juga mendukung langkah Presiden Joko Widodo menghukum mati pengedar narkoba. Alasannya narkoba telah merusak generasi muda bangsa dan sebagai cara untuk membuat efek jera.

Tapi, dalam banyak kasus, semangat itu tak sampai ke nurani hakim-hakim di MA. Seperti dikatakan para pejabat BNN tadi, vonis MA paling sering meringankan hukuman para bandar narkoba. Nah?!

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved