Opini

Ekonomi Syariah Motor Penggerak Ekonomi Nasional

EKONOMI syariah merupakan sistem perekonomian yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh umat

Ekonomi Syariah Motor Penggerak Ekonomi Nasional
Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh (Unimal) 

Oleh Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh (Unimal)

EKONOMI syariah merupakan sistem perekonomian yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh umat untuk mensejahterakan masyarakat. Umumnya mereka enggan berhijrah kepada sistem syar’i dikarenakan kebiasaan yang sudah dianggap nyaman dalam praktek

ekonomi ribawi dalam kehidupannya. Mereka alergi dengan sistem Syariah bukan dikarenakan kekurangan sistem tersebut, namun lebih kepada mindset akibat hatinya sudah tertutup terhadap kebaikan walau memang itu benar adanya.

Ekonomi syariah memiliki potensi yang besar di tingkat dunia, seperti disampaikan Menteri Bappenas, tahun 2023 akan mencapai US$3

triliun. Kalau dirupiahkan kurang lebih Rp 45 ribu triliun. “Kita ndak bisa bayangkan angka seperti itu. Karena APBN kita Rp 2.000 triliun lebih sedikit,” kata Jokowi di Gedung Bappenas, Jakarta Pusat, Selasa (14/5).

Ketika perekonomian dunia diterpa krisis moneter yang luar biasa pada tahun 1998, hampir semua perekonomian yang rontok kecuali ekonomi syariah dan usaha menengah kecil mikro (UMKM) yang masih berjalan dan bahkan meningkat pertumbuhannya. Kondisi ini tentu

dikarenakan mekanisme kerjanya tidak terjebak dengan mekanisme tingkat bunga yang tidak memberikan solusi terhadap krisis tersebut.

Indonesia sebagai negara muslim terbesar di dunia, seharusnya menjadi motor dan kunci utama penggerak ekonomi syariah. Sehingga ekonomi syariah menjadi sumber kesejahteraan umat. Landasan ekonomi syariah secara konsep dan prinsip diambil dari Alquran, sunnah, ijmak, dan qiyas para ulama. Aturan yang melandasi terhadap transaksi sepenuhnya untuk kemaslahatan umat.

Kesejahteraan tidak hanya diukur dari aspek materil saja, namun juga mempertimbangkan dampak sosial, mental dan spiritual serta dampaknya pada lingkungan yang lestari dan adanya keseimbangan. Sehingga keselarasan kebagian antara dunia dan akhirat dapat terpola dengan baik dan benar.

Ali bin Abi Thalib RA berkata, Rasulullah Saw bersabda: “Aku telah meninggalkan di tengah kalian dua perkara, jika kalian berpegang teguh dengan keduanya niscaya kalian tidak akan pernah tersesat. Kedua perkara itu adalah kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya.”(Kiblat; Belajar Syariat Islam).

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved