Opini

Ekonomi Syariah Motor Penggerak Ekonomi Nasional

EKONOMI syariah merupakan sistem perekonomian yang belum dimanfaatkan secara optimal oleh umat

Ekonomi Syariah Motor Penggerak Ekonomi Nasional
Prof. Dr. Apridar, S.E., M.Si, Guru Besar Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan dan Kelautan Universitas Malikussaleh (Unimal) 

Sehingga tidak berlebihan apabila masyarakatnya bekerja lebih bersemangat dan produktif dari sebelumnya. Secara konseptual momentum ini sangat disambuat baik oleh warganya. Kalangan akademisi yang berada di kampus khususnya memproiritaskan pembukaan prodi ekonomi syariah dan prodi-prodi yang mendukung ke arah tersebut. Sehingga sumberdaya manusia di bidang tersebut menjadi pilihan utama masyarakatnya.

Propinsi Aceh yang telah melaksanakan Syariat Islam seharusnya lebih dahulu mengambil inisiasi tersebut. Jangan sampai syariah Islam di Aceh hanya dikedepankan dalam kehidupan adat istiadat dan sosial budaya saja. Padahal, kegiatan ekonomi seharusnya lebih diprioritaskan dalam kehidupan masyarakat lebih luas.

Posisi Aceh yang berada di depan pintu gerbang perdagangan dunia merupakan peluang yang sangat strategis untuk melakukan transaksi perdagangan dengan berbagai belahan dunia. Sehingga perekonomian Aceh seharusnya bisa tumbuh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional.

Pemerintah Indonesia selalu membuat target pertumbuhan ekonomi sekitar lima sampai tujuh persen setiap tahunnya. Sepertinya pemerintah tidak percaya diri terhadap pertumbuhan ekonomi di atas tersebut. Situasi ini membuat muncul istilah “jebakan lima persen” (five percent growth trap). Karena kondisi inilah sejumlah pihak merasa perlu ada langkah besar (big push) untuk mendorong pertumbuhan ekonomi keluar dari jebakan lima persen tersebut.

Aceh dengan konsep syariahnya seharusnya menawarkan diri sebagai motor penggerak ekonomi nasional di atas lima persen tersebut. Trend pertumbuhan ekonomi syariah global yang berada di atas pertumbuhan ekonomi konvensional menjadikan rujukan utama sumbangsih ekonomi syariah terhadap perekonomian nasional. Sehingga sangat layak apabila Aceh berada di garda terdepan dalam membangun ekonomi nasional melalui konsep syariahnya.

Apabila kesempatan ini dapat dimanfaatkan dengan baik, maka benar adanya bahwa Aceh sebagai penyelamat bangsa Indonesia sejak masa penjajahan hingga dalam mengisi kemerdekaan bangsa sekarang ini.

Konsep wisata syariah yang sudah mulai berjalan di Banda Aceh khususnya, merupakan modal dasar dalam menggerakkan perekonomian masyarakat. Berbagai situs sejarah Islam yang berada di Aceh perlu sentuhan bisnis professional yang berkelanjutan.

Budaya menghargai tamu yang telah tertanam dalam masyarakat perlu dipertahankan bahkan ditingkatkan kepada sikap melayani yang lebih iklas. Pendidikan kepribadian sangat penting untuk dikembangkan di Aceh. Produk-produk syar’i perlu adanya sentuhan inovasi dengan kemasan yang memikat.

Potensi UMKM yang mulai tumbuh dalam masyarakat perlu mendapat perhatian serius dari pemerintah daerah. Perkembangan UMKM masyarakat Aceh merupakan barometer real terhadap pertumbuhan ekonomi daerah dan menjadi piranti dalam memperkecil jurang ketimpangan perekonomian masyarakat.

Walaupun pertumbuhan ekonomi lima persen sebenarnya cukup baik untuk Indonesia, namun belum cukup untuk mengatasi beragam persoalan negara saat ini dan tantangan ke depannya (good but not sufficient). Sehingga pertumbuhan ekonomi di atas lima persen menjadi suatu keharusan agar persoalan yang dihadapi Indonesia cepat teratasi.

Halaman
1234
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved