Pantangnya Keluar Masuk Masjidil Haram

24 Mei 2019, untuk kedua kalinya saya shalat Jumat di Masjidil Haram, Mekkah, setelah tiba dari Madinah guna berumrah

Pantangnya Keluar Masuk Masjidil Haram
IST
Mursal Ismail, Wartawan Serambi Indonesia dari Mekkah

Laporan Mursal Ismail, Wartawan Serambi Indonesia dari Mekkah

24 Mei 2019, untuk kedua kalinya saya shalat Jumat di Masjidil Haram, Mekkah, setelah tiba dari Madinah guna berumrah, Kamis (16/5). Tak mau seperti pekan lalu, harus shalat Jumat di luar Masjidil Haram karena sekitar pukul 11.00 Waktu Arab Saudi baru sampai masjid itu, kali ini sekira pukul 10.00 kami sudah tiba di masjid.

Meski waktu Jumat dua jam lebih lagi, tapi semua saf sudah penuh sekitar putaran tawaf lantai satu, dua, bahkan tiga. Kami harus ke lantai dua di gedung baru, tapi tak tampak Kakbah atau kiblat umat muslim sedunia itu.

Sekitar satu jam mengaji di bagian masjid ini, akhirnya konsentrasi saya berkurang karena sesak pipis. Hal yang sama juga dialami seorang rekan saya, bahkan ia sudah batal wudhuknya karena keluar angin. Wudhuk ‘darurat’ di keran air zamzam sebagaimana biasa, juga tak bisa karena airnya mati, sehingga kami ke luar masjid guna ke toilet dan berwudhuk. Umumnya toilet dan tempat wudhuk di lantai satu dan di luar masjid.

Setiba di lantai satu, tak bisa kami ke luar karena petugas keamanan menutup akses ke luar masjid dengan pembatas jalan, sambil mereka berjaga-jaga di lokasi penutupan. Begitu juga jamaah di luar, tak bisa ke dalam, termasuk wanita, meski mereka tak wajib shalat Jumat.

“Hajji, hajji,” teriak petugas sambil mengarahkan jamaah di dalam masjid agar mencari lokasi di dalam. Begitu juga jamaah di luar, diarahkan mencari lokasi di bagian luar. Hajji adalah panggilan petugas kepada setiap jamaah lelaki di Masjidil Haram.

Mereka tetap tak mau buka jalan, meski jamaah sudah menyampaikan maksud ingin ke toilet dan berwudhuk, paling hanya mengarahkan ke bagian pintu lain yang ternyata juga ditutup. Begitu juga jamaah dari luar, tetap tak diizinkan masuk. Ternyata kebijakan ini mereka ambil karena sedang padatnya jamaah yang keluar masuk.

Akhirnya ketika jamaah keluar masuk sudah lebih terpecah ke pintu-pintu lainnya, barulah penutup itu dibuka sedikit, sehingga kami di dalam bisa keluar dan yang di luar bisa masuk.

Memang kini jamaah dari berbagai negara semakin padat karena ingin berumrah di sepuluh akhir Ramadhan. Sedangkan petugas, tentu punya alasan tersendiri atas pengamanan ketat ini. Jika tidak, semua jamaah bebas masuk, sehingga berdesak-desakan ke dalam, apalagi di area tawaf yang akhirnya bisa membahayakan jamaah.

Pengamanan ketat dan buka tutup ini juga dilakukan di halaman masjid serta berlaku setiap jelang shalat berjamaah. Oleh karena itu, sangat pantang keluar masuk Masjidil Haram jelang waktu shalat. Pengamanan lebih ketat, sepertinya juga sudah pasti dilakukan saat musim haji karena jamaahnya lebih banyak dibanding umrah saat ini.

Halaman
12
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved