‘Sambai oen Peugaga’, Lalapan Unik dari 44 Jenis Daun

BULAN Ramadhan identik dengan aneka kudapan khas. Tak terkecuali di Aceh

‘Sambai oen Peugaga’, Lalapan Unik dari 44 Jenis Daun
IST
SAMBAI oen peugaga buatan Nek Aisyah (70) di rumahnya, Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, Senin (26/5).

BULAN Ramadhan identik dengan aneka kudapan khas. Tak terkecuali di Aceh. Satu di antaranya adalah sambai oen peugaga atau sambal daun pegaga. Meskipun dinamai sambal, namun sebenarnya wujudnya lebih mirip urap. Uniknya, penganan yang satu ini terbuat dari 44 jenis daun.

Butuh keahlian khusus untuk meracik. Pun kalau mau membeli, makanan yang satu ini hanya dijual saat bulan Ramadhan. Keberadaan pedagang sambai oen peugaga yang terbilang langka tersebut, bisa Anda temui di Pasar Peunayong, Banda Aceh.

Adalah Aisyah (70) tahun, warga Gampong Peulanggahan, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh, yang telah setia membuat sambai oen peugaga lebih dari satu dekade. Perempuan asal Padangtiji, Pidie, ini mewarisi resep dari sang nenek. Sehari-hari ia dibantu oleh anaknya, Asna.

“Hai dari manyak teuh cit nyan makanan geu yue pajoh le nek. Sithon sigoe wate puasa (memang dari kecil ini makanannya disuruh makan sama nenek. Setahun sekali waktu puasa),” beber Aisyah kepada Serambi saat melihat dapur produksi sambai oen peugaga di rumahnya di Gampong Peulanggahan, Senin (26/5).

Ia terlihat sibuk mengiris daun pegaga dan aneka daun lainnya. Daun-daun itu diikat menjadi bulatan kecil untuk kemudian diiris tipis-tipis. Sementara anak perempuannya sibuk berkutat dengan luas. Perempuan muda itu tengah menyiapkan bumbu yang menggunakan kelapa sangrai atau serundeng sebagai bahan utama.

Diiringi suara lesung yang bertalu-talu. Nek Aisyah menceritakan awal mula dirinya berkenalan dengan kuliner warisan endatu tersebut. Kini keluarga itu telah mewarisi resep ke tiga generasi. Sebelum Bulan Ramadhan tiba, Aisyah telah menyiapkan serundeng yang menghabiskan hingga 300 butir kelapa. Sementara daun-daun segar, saban harinya dibeli di pasar. Sebagai pelengkap, hadir irisan bawang merah, serai, dan bungong kala untuk taburan.

Untuk menjaga citarasa, bahan-bahan yang telah disiapkan tersebut baru diaduk saat hendak dijual. Dijual seharga Rp 5 ribu per porsi, Nek Aisyah mengaku bisa meraup laba kotor Rp 400 ribu per hari.

“Meunyo khasiat kesehatan, sambai oen peugaga nyan dipeuteubit angen. Mangat prut ta puasa. (Kalau khasiat kesehatan, sambai oen peugaga mengusir angin. Perut nyaman saat berpuasa),” imbuh Nek Aisyah. Ya, lalapan khas Aceh mempunyai citarasa pedas, sepat, sekaligus gurih di lidah. Bagaimana, tertarik mencoba?(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved