Terdakwa Divonis Seumur Hidup

Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (28/5) menggelar sidang pamungkas kasus pembunuhan

Terdakwa Divonis Seumur Hidup
IST
Dua terdakwa kasus pembunuhan M Amin (73) Peutuha Peut Dusun Alue Mudek, Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang, Aceh Utara mendengar materi tuntutan di Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (30/4). 

* Kasus Istri Suruh Pacar Bunuh Suami

LHOKSUKON – Majelis Hakim Pengadilan Negeri Lhoksukon, Aceh Utara, Selasa (28/5) menggelar sidang pamungkas kasus pembunuhan M Amin (73), Peutuha Peut Dusun Alue Mudek, Desa Teupin Reusep, Kecamatan Sawang.

Sidang terakhir dengan agenda pembacaan amar putusan terhadap dua terdakwa. Kedua terdakwa adalah Marliah (31) istri korban, dan terdakwa kedua yakni selingkuhannya, Syafrijal (42) warga Desa Meunasah Teungoh, Kecamatan Simpang Keuramat.

Dalam sidang tersebut, hakim menghukum Marliah dengan penjara selama 15 tahun dikurangi dengan masa hukuman sebelumnya. Sedangkan selingkuhan Marliah, Safrizal divonis dengan penjara seumur hidup. Vonis ini sesuai dengan tuntutan jaksa pada sidang 30 April 2019 lalu. Sidang tersebut dipimpin Arnaini MH didampingi dua hakim anggota, Fitriani SH dan Maimunsyah SH.

Sementara dua terdakwa yang mengenakan baju tahanan hadir ke ruang sidang didampingi pengacaranya, Taufik M Noer SH dan Abdullah Sani Angkat SH. Turut hadir Jaksa Penuntut Umum (JPU), Harri Citra Kesuma SH.

Materi amar putusan yang dibacakan antara lain menceritakan kronologis kejadian kasus pembunuhan yang terjadi pada 26 Juli 2018. Antara lain yang diuraikan dalam materi tersebut, terdakwa Safrijal membunuh korban di atas sepeda motor Supra x 125 yang sedang berjalan dengan memukulkan kayu ke bagian wajah, sehingga M Amin terjatuh dalam kondisi telungkup.

Seusai terjatuh, terdakwa Safrijal kembali memukul korban sehingga mengenai bagian kepala belakang tiga kali, dan bagian punggung satu kali. Akibat kejadian tersebut, korban meninggal di lokasi kejadian.

Sebelum pulang dari kebun ke rumahnya, M Amin sempat berpamitan kepada istrinya, Marliah. Namun, Marliah membiarkan suaminya pulang, meskipun sudah mengetahui terdakwa Syafrijal akan membunuh suaminya. Marliah dan Syafrijal sudah merencanakan pembunuhan tersebut untuk menikah.

Sebelumnya, kedua terdakwa sudah sering melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Setelah membunuh korban, Safrijal meminta Marliah untuk menghapus pesan singkat dan fotonya yang berada dalam handphone. Lalu, Marliah pun langsung menghapusnya. Sekira pukul 15.30 WIB, Marliah pulang dari ke menuju rumahnya.

Atas perbuatannya itu, terdakwa dinyatakan melanggar Pasal 340 KUHPidana Juncto Pasal 56 Ayat (2), tentang pembunuhan berencana secara bersama-sama. Atas putusan tersebut hakim memberikan kesempatan untuk menyatakan sikap, menerima, pikir atau banding. Kemudian hakim menutup sidang itu.

Setelah mendengar materi amar putusan, kedua terdakwa langsung dibawa ke ruang tahanan PN setempat sebelum dibawa pulang ke Rutan Lhoksukon. Sesampai di ruang penahanan, istri korban M Amin, Marliah menangis. Beberapa kali pengacara menemuinya untuk memberikan penjelasan, tapi tidak mengindahkannya. “Klien saya menangis setelah putusan itu. Jadi susah diajak bicara,” kata Taufik.

Atas putusan tersebut jaksa menyatakan pikir-pikir terhadap putusan hakim kepada Safrizal. Sedangkan untuk Marliah masih pikir-pikir. “Kita juga tadi masih menyatakan pikir-pikir terhadap putusan majelis hakim,” ujar Taufik SH.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved