Gula Sawit Aceh ke Even Nasional

Gula Sawit Aceh (GuSA) dan Gula Sawit Geutanyoe (GaSaG) hadir pada even nasional

Gula Sawit Aceh ke Even Nasional
IST
KABID Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia (kanan), menyerahkan gula sawit yang diproduksi petani Aceh Tamiang kepada Sekretaris Dirjenbun, Antarjo Dikin, disaksikan sejumlah pejabat pusat di The Margo Hotel Depok, Jawa Barat, Selasa (28/5). 

BANDA ACEH - Gula Sawit Aceh (GuSA) dan Gula Sawit Geutanyoe (GaSaG) hadir pada even nasional. Kedua merek dagang itu diperkenalkan Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia SP MP, saat menjadi narasumber mewakili Kadistanbun Aceh, A Hanan SP MM, pada Pertemuan Nasional tentang Penyusunan Perencanaan Program Sawit Rakyat, di The Margo Hotel, Depok, Jawa Barat, 28-29 Mei 2019.

Kegiatan yang diikuti peserta dari unsur Ditjen Perkebunan, serta balai besar seluruh Indonesia dan provinsi terkait peremajaan sawit rakyat (PSR) tersebut dibuka Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) RI yang diwakili Direktur Perlindungan Perkebunan, Drs Dudi Gunadi BSc MSi. Acara yang turut dihadiri Sekretaris Dirjen Perkebunan, Dr Ir Antarjo Dikin MSc, Direktur Perbenihan Perkebunan, Dr Ir M Saleh Mokhtar MP, dan BPDPKS, itu menghadirkan Ir Elman MSi dari Dinas Perkebunan Sumatera Selatan sebagai salah seorang narasumber.

Azanuddin Kurnia dalam pemaparanannya menjelaskan tentang berbagai proses dan evaluasi PSR 2018 serta keberhasilan dan hambatan dalam melaksanakan program tersebut di Aceh. Ia juga menjelaskan tentang kondisi terakhir untuk kegiatan 2019 serta berbagai strategi percepatan PSR untuk Indonesia 2019.

Paparan Azan--sapaan akrab Azanuddin Kurnia--yang turut didampingi Kadis Perkebunan dan Peternakan Aceh Barat, Said Mahjali, cukup menarik perhatian peserta karena banyak peluang inovasi kegiatan yang terintegrasi dengan PSR di Aceh. Dimulai dari pelatihan pembuatan gula sawit, rintisan ISPO, penataan perizinan perkebunan, identifikasi dan verifikasi STDP dan STDP, tumpang sari dengan Pajale, sertifikasi lahan kerja sama dengan BPN, pembuatan gula sawit, dan beberapa kegiatan lainnya.

Azan yang juga Ketua Ikatan Keluarga Alumni Sosial Ekonomi Pertanian (IKA SEP) Fakultas Pertanian Unsyiah menjelaskan tentang proses pembuatan gula sawit. Inti dari kegiatan itu adalah bagaimana mengolah limbah menjadi rupiah. “Kita berharap ada nilai tambah yang didapat petani dari proses ini. Sebab, petani akan terlalu lama untuk menunggu panen perdana sawitnya sampai 4 tahun. Ini akan menjadi daya tarik sendiri dalam PSR ini,” ungkap Azanuddin, kepada Serambi via telepon selulernya, kemarin.

Ia menyebutkan, dalam satu hektare petani gula sawit bisa menghasilkan Rp 60-200 juta per dua bulan dengan asumsi harga jual Rp10.000-Rp 20.000 per kilogram di tingkat petani dan nira yg didapat per batang 5-15 liter per hari. “Dalam satu batang sawit, bisa menghasilkan sampai 60 kilogram gula sawit. Pendapatan petani tinggal kita kalikan jumlah itu per hektare dan per dua bulan,” jelas Azan.

Hasil itu, lanjutnya, hanya akan didapat oleh petani yang mau melakukan inovasi dan kreatif dalam memanfaatkan limbah batang sawit. Bagi yang tidak berminat, kata Azan lagi, tentu mereka takkan mendapat nilai tambah tersebut. Untuk itu, ia mengimbau peluang ini dapat dimanfaatkan oleh petani sawit atau pengrajin gula sawit.

Di sela-sela pertemuan tersebut, Azan juga menyerahkan gula sawit buatan petani Aceh Tamiang sebagai oleh-oleh kepada Sekretaris Dirjenbun, Direktur Perlindungan Perkebunan, Direktur Perbenihan Perkebunan, dan Ketua Tim Sekretariat PSR Pusat, Edi Subiantoro MM, dengan disaksikan peserta pertemuan tersebut.

Sekretaris Dirjenbun, Dr Ir Antarjo Dikin MSc didampingi Ketua Tim Sekretariat Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) Pusat, Edi Subiantoro MM, menyatakan, dalam tahun ini pihaknya akan melaksanakan workshop gula sawit di Banda Aceh dengan mengikutsertakan utusan provinsi lain se-Indonesia. “Inovasi yang dilakukan Aceh sangat bagus serta perlu dicontoh dan dilanjutkan oleh daerah lain,” ungkap Sekretaris Dirjenbun.

Hal yang sama juga diusulkan oleh Ir Elman MSi dari Dinas Perkebunan Sumatera Selatan yang menjadi salah seorang narasumber pada Pertemuan Nasional tentang Penyusunan Perencanaan Program Sawit Rakyat, di The Margo Hotel, Depok, Jawa Barat, 28-29 Mei 2019.

Menanggapi hal tersebut, Kabid Pengolahan dan Pemasaran Perkebunan Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh, Azanuddin Kurnia SP MP, kepada Serambi, kemarin, mengatakan, ini merupakan peluang bagi Aceh untuk terus mengembangkan inovasi baru khususnya untuk gula sawit. “Insya Allah kita siap melaksanakan workshop yang diwacanakan Bapak Sekretaris Dirjenbun yang tentunya dengan dukungan Dirjenbun, Tim PSR Pusat, dan BPDPKS,” ujar Azanuddin yang juga pernah menjabar Wakil Sekretaris Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Aceh.(jal)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved