Ketua TKD Aceh Irwansyah: Jangan buat Gagasan Karena Kepentingan Politik tak Tercapai

Irwansyah meminta kepada elite Aceh jangan jadikan isu referendum sebagai bargaining politik yang seolah-olah disuarakan oleh masyarakat

Ketua TKD Aceh Irwansyah: Jangan buat Gagasan Karena Kepentingan Politik tak Tercapai
SERAMBI/FIKAR W EDA
KETUA Tim Kampanye Daerah (TKD) Aceh, Irwansyah alias Tgk Muksalmina berfoto bersama capres 01 Joko Widodo (Jokowi) di sela-sela pertemuan rapat kerja Tim Kampanye Nasional (TKN) Selasa (19/2) di Bogor. 

Ketua TKD Aceh Irwansyah: Jangan buat Gagasan Karena Kepentingan Politik tak Tercapai

Laporan Masrizal | Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH – Ketua Tim Kampanye Daerah (TKD) Aceh Jokowi-Ma’ruf Amin, Irwansyah alias Muksalmina ikut memberikan komentar terkait wacana referendum Aceh yang dilontarkan Muzakir Manaf alias Mualem selaku Ketua Partai Aceh yang juga Ketua Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi di Aceh.

Ketua Majelis Tinggi Partai (MTP) Partai Nanggroe Aceh (PNA) itu mempertanyakan kenapa wacana itu dikeluarkan setelah Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno mengajukan gugatan sengketa hasil Pilpres 2019 ke Mahkamah Konstitusi (MK) pada Jumat (24/5/2019) lalu.

Baca: Terkait Wacana Referendum, Muhammad Nazar:  Bèk Culok Rakyat Aceh Lam Mon Tuha’

“Rakyat Aceh baru keluar dari musibah konflik yang berkepanjangan, juga musibah tsunami. Jangan membuat gagasan karena kepentingan politik yang tidak tercapai,” kata Irwansyah menjawab Serambinews.com, Kamis (30/5/2019) saat dimintai tanggapannya soal wacana referendum dari Mualem.

Dia mengaku sepakat dengan wacana referendum Aceh apabila dinyatakan oleh masyarakat sendiri, bukan suara oleh orang yang mengatasnamakan masyarakat Aceh.

Dia meminta kepada elite Aceh jangan jadikan isu referendum sebagai bargaining politik yang seolah-olah disuarakan oleh masyarakat.   

Baca: Adi Laweung: Mualem Suarakan Referendum bukan Karena Kecewa dengan Hasil Pilpres

Sekarang yang perlu dipikirkan adalah bagaimana memajukan Aceh.

“Mari kita memikirkan bagaimana mensejahterakan rakyat Aceh dan bagaimana para elite politik di Aceh bisa bertanggung jawab untuk itu. Bek sabe meudawa bak hal yang akan taloe (jangan selalu ribut pada hal yang akan kalah),” tegas Irwansyah.

Karena itu, dia mengajak semua pihak untuk sama-sama menghargai hak masyarakat yang telah diberikan melalui pemilihan.

Sebab yang ditakutkan dari sebuah keputusan yang diambil oleh orang yang mengatasnamakan rakyat adalah bisa jatuhnya korban dari masyarakat itu sendiri, bukan dari elite.

Baca: Minta Referendum Segera Dilakukan, Jaringan Aneuk Syuhada Aceh: Kami Sudah Siap Bersama Mualem

“Kami melihat dan merasakan kejadian pada masa perang, kami saat itu yang pegang senjata tidak mau damai kecuali merdeka. Tapi pimpinan GAM menempuh penyelesaian dengan cara damai, kami ikuti. Di saat pimpinan sudah memutuskan penyelesaian itu secara damai, kenapa (sekarang) tidak ditempuh lagi dengan cara-cara damai juga dalam berkomunikasi dengan Jakarta,” ungkapnya.

Masalah referendum, sambung Irwansyah, itu sebenarnya porsinya mahasiswa untuk menyuarakannya.

“Kenapa GAM mau jadi mahasiswa, sedangkan GAM sudah menjadi para pihak dalam perundingan. Kalau ada sengketa ya pimpinan GAM berbicara lagi dengan Jakarta lah. Tapi kalau (GAM) mau jadi mahasiswa itu menjadikan satu keraguan apakah referendum itu serius atau ada hal lain dari pernyataan itu,” demikian Irwansyah.(*) 

Baca: GeMPAR Aceh Nilai Wacana Referendum Mualem Sebagai Manuver Politik Temporer

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Hadi Al Sumaterani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved