Kibarkan Bendera Dulu, Baru Bicara Referendum

Baru-baru ini dunia perpolitikan Aceh kembali tersentak dengan keluarnya statement referendum dari Mualem, Ketua DPA Partai Aceh....

Kibarkan Bendera Dulu, Baru Bicara Referendum
For Serambinews.com
Aktivis Aceh, Tuanku Muhammad 

Kibarkan Bendera Dulu, Baru Bicara Referendum

Laporan Masrizal I Banda Aceh

SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Baru-baru ini dunia perpolitikan Aceh kembali tersentak dengan keluarnya statement referendum dari Mualem, Ketua DPA Partai Aceh.

Pernyataan tersebut telah mengundang berbagai pihak memberikan pandangan mengenai wacana referendum Aceh, lepas dari Indonesia atau bertahan.

Salah satu aktivis Aceh, Tuanku Muhammad yang juga mantan ketua KAMMI Aceh kepada Serambinews.com, Jumat (31/5/2019) menyatakan statement permintaan dan ajakan untuk melakukan referendum saat ini belum matang dan terkesan emosional politik sesaat.

Seharusnya ajakan referendum ini dimunculkan ketika memang rakyat Aceh sudah siap dan memiliki semangat juang yang menyeluruh untuk ingin berpisah dari Indonesia.

"Tapi nyatanya, semenjak adanya perjanjian damai MOU Helsinki, banyak masyarakat Aceh yang lebih memilih untuk bisa terus hidup damai dan tidak ingin konflik berkepanjangan dulu terulang lagi," katanya.

Disisi lain, sebelum statement referendum ini keluar, masalah pengibaran Bendera Bintang Bulan belum selesai padahal bendera sudah bisa dikibarkan di seluruh Aceh.

Tapi nyatanya, meskipun dibeberapa tempat sudah ada dua tiang bendera pada satu lembaga seperti di Gedung DPRA dan Meuligoe Wali Nanggroe Aceh, namun hingga kini belum pernah berkibar bendera itu.

"Malah selalu beralasan pusat belum merestui. Artinya, jangankan masalah referendum yang konteksnya lebih besar, masalah bendera saja belum bisa diselesaikan. Apalagi referendum yang menentukan nasib sebuah negara dan bangsa. Tentu prosesnya sulit dan butuh lobi-lobi internasional," ujarnya.

Yang lebih miris lagi, hingga sekarang Hymne Aceh yang sudah melewati proses seleksi dan ditetapkan sebagai lagu resmi belum juga dinyanyikan di setiap even besar Aceh.

"Padahal lagu Hymne Aceh adalah sebuah keniscayaan yang berhak untuk ada di Aceh karena tersebut dari butir-butir MoU Helsinki," tambah dia.

Tuanku Muhammad melanjutkan, ajakan untuk referendum haruslah dimulai dengan membangun pondasi ideologi perjuangan rakyat Aceh yang kuat, salah satunya dengan segera menyelesaikan permasalahan pengibaran bendera, kemudian Hymne Aceh harus mulai digemakan dibsetiap acara-acara besar di Aceh.

Baca: Ikan Teri Berhamburan di Pantai Gampong Jawa, Ini Kesimpulan dari Panglima Laot

Baca: Edarkan Kokain dan Ganja, 5 Bule Asal Rusia dan Spanyol Ditangkap Polisi di Bali

Baca: Jadi Buronan Terkait Penyerangan, Selebgram Bertato Ini Justru Ejek Polisi

Jika tidak, katanya, ajakan referendum hanya menjadi semangat spontanitas dan emosional politik sesaat, yang akibatnya rakyat Aceh kembali kecewa dan merasa dibodoh-bodohi.

"Belum lagi jika sampai Aceh ini kembali masuk ke masa konflik yang ujung-ujungnya tidak juga bisa merdeka. Karena itu mari kita mulai dari tangga bawah dulu baru menuju puncak, jangan terkesan gegabah ingin langsung ke atas, tapi di bawah keropos dan mudah patah," demikian Tuanku Muhammad. (*)

Penulis: Masrizal Bin Zairi
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved