Salam

Selamat Mudik Secara Tertib

Guna mengamankan dan melancarkan arus mudik lebaran 1440 H, Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menggelar

Selamat Mudik Secara Tertib
Serambinews.com
Satlantas Polres Bireuen menyediakan ruang untuk selfi di Pos Pelayanan Mudik Lebaran, Simpang Arjun, Kota Bireuen, Kamis (30/5/2019). 

Guna mengamankan dan melancarkan arus mudik lebaran 1440 H, Kepolisian Daerah (Polda) Aceh menggelar operasi bersandi Ketupat Rencong 2019 sejak Rabu (29/5) hingga 10 Juni 2019. Operasi ini melibatkan sedikitnya 1.200 personel Polri, TNI, dan lainnya yang siap siaga mengawal kelancaran arus lalu lintas dan keamanan para pemudik sejak pulang kampung hingga arus balik nanti.

Menurut Kapolda Aceh, Irjen Pol Rio S Djambak, operasi tahun ini tidak hanya fokus pada lalu lintas arus mudik dan arus balik saja, tetapi juga untuk mencegah berbagai gangguan terhadap stabilitas kamtibmas yang bisa saja terjadi. Misalnya, aksi serangan teror, baik kepada masyarakat maupun kepada personel dan markas Polri, berbagai kejahatan yang meresahkan masyarakat, seperti pencurian, perampokan, penjambretan, begal, dan premanisme, aksi intoleransi dan kekerasan, seperti aksi sweeping oleh ormas, gangguan terhadap kelancaran dan keselamatan transportasi darat, laut, dan udara, dan sebagainya.

Mulai akhir pekan ini hingga empat hari ke depan arus mudik warga Aceh antarkabupaten atau kota, antarprovinsi, bahkan antarnegara sudah dimulai melalui moda transportasi darat, udara, dan laut. Itu berarti tugas berat pihak kepolisian, TNI, perhubungan, dan lainnya sudah pula dimulai.

Tidak hanya dari segi kelancaran lalulintas atau transportasi, tantangan keamanan mudik juga bertambah karena ancaman banyak kejahatan lain, termasuk terorisme. Ini bukan isapan jempol karena, sebagaimana pernah disampaikan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, terdapat ideologi di kelompok teroris untuk melakukan amaliah pada Ramadan. Ini tentunya bukan beramal terpuji, melainkan melakukan aksi teror.

Fenomena pulang kampung pada saat Idul Fitri memang telah menjadi peristiwa budaya dan keagamaan yang sangat semarak. Makanya, seberapa pun beratnya tantangan yang dihadapi para pemudik, tidak pernah menyurutkan niat dan kemauan mudik ke kampung halaman. Paling tidak ada lima alasan yang menjadi tujuan para pemudik pulang kampung.

Seorang sosiolog melihat ada beberapa motivasi mudik. Pertama, dorongan keagamaan yang telah menjadi budaya. Karena, Islam mengajarkan bahwa mereka yang sudah berpuasa akan diampuni dosa-dosanya. Akan tetapi, yang diampuni hanya dosa di hadapan Allah, sedang dosa kepada orang tua, saudara kandung, tetangga, dan sekampung, tidak akan diampuni kecuali saling bermaaf-maafan dengan jabat tangan melalui silaturahim antara satu dengan yang lain.

Kedua, ziarah ke kubur. Telah menjadi budaya di kalangan masyarakat bahwa menjelang puasa Ramadan dan Idul Fitri, anak-anak, menantu, keluarga dan famili pergi berziarah ke kubur orang tua, kakek, nenek dan leluhur serta keluarga terdekat sambil mendoakan. Itu tidak mungkin dilakukan kalau tidak mudik. Bagi mereka yang berasal dari kampung. Maka dalam kesempatan Idul Fitri dilakukan ziarah ke kubur, selain silaturahim.

Ketiga, rindu kampung halaman. Setiap tahun kerinduan kepada kampung halaman selalu diobati dengan mudik. Ini adalah fenomena sosial yang menarik sebagai makhluk sosial, rindu kepada asal usulnya di kampung halaman. Oleh karena itu, tantangan berat yang dihadapi untuk pulang kampung, tidak menjadi persoalan, mereka tetap lakoni dengan penuh kegembiraan dan kebahagiaan.

Makanya, peristiwa mudik Lebaran yang telah menjadi budaya, harus terus dipelihara, dijaga dan dilestarikan, karena dampak positifnya lebih banyak ketimbang dampak negatifnya. Yang harus dilakukan ialah mengurangi dampak negatif mudik dengan meningkatkan kesadaran para pemudik bahwa keselamatan dalam perjalanan mudik adalah segalanya.

Mereka yang akan mudik, dan sedang dalam perjalanan mudik, diharapkan semakin hati-hati menjaga keselamatan. Jangan memaksakan diri dalam perjalanan, harus berhenti dan beristirahat secukupnya baru melanjutkan lagi perjalanan.

Pemerintah harus terus meningkatkan penyediaan transportasi massal untuk melayani pemudik. Kementerian Pekerjaan Umum RI, sudah saatnya membuat jalan yang berkualitas tinggi untuk jangka waktu yang panjang. Jangan seperti sekarang, setiap tahun jalan raya yang dilalui pemudik dilakukan tambal sulam dan tidak pernah baik.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved