Apa Karya: Mualem ka Keunong Jarom Haloh

Mantan Menteri Pertahanan GAM, Zakaria Saman alias Apa Karya ikut berkomentar terkait wacana referendum Aceh

Apa Karya: Mualem ka Keunong Jarom Haloh
SERAMBINEWS.COM/BUDI FATRIA
Zakaria Saman (Apa Karya) 

BANDA ACEH - Mantan Menteri Pertahanan GAM, Zakaria Saman alias Apa Karya ikut berkomentar terkait wacana referendum Aceh yang digaungkan Muzakir Manaf atau Mualem. Menurut Apa Karya, apa yang telah disuarakan Mualem adalah sebuah perkataan yang terlanjur dan wacana itu tidak benar-benar adanya.

“Hana atanyan, nyan haba meutajo, ka meutajo hai kakeuh. Jadi, jinoe tapeusengap mantong, hanjeut atanyan, tanyoe mantong menggantung bak MoU, referendum nyan han jeut beurangkaho (Tidak ada itu, itu perkataan terlanjur, sudah terlanjur ya sudah. Sekarang kita diamkan saja, tidak bisa referendum itu karena kita masih bergantung pada MoU, referendum tidak bisa begitu saja),” kata Apa Karya saat dimintai komentar oleh Serambi, kemarin, terkait pernyataan Mualem.

Menurut Apa Karya, jika benar menghendaki lahirnya referendum di Aceh maka kedua pihak tentu harus mengubah MoU, sebuah perjanjian yang sudah disepekati Pemerintah Indonesia dan GAM belasan tahun lalu.

Lalu Apa Karya mengatakan, Mualem tidak sendiri dalam menyuarakan isu referendum tersebut. Menurutnya, Mualem dibisik oleh pihak lain yang memiliki kepentingan pribadi atau kelompok. Bahkan, kata Apa Karya, Mualem sudah dibisik oleh orang-orang kecewa.

Saat ditanya apakah itu berkaitan dengan pilpres, Apa Karya tidak mau menjawab. “Loen hana loen peugah meunan. Nyan Mualem chit ka keunong jarom haloh, kon pikiran droe jih nyan, nyan pikiran gob. Kalheuh dikheun, gob ka dikhem. (Saya tidak bilang begitu. Itu Mualem sudah kena suntik/jarum kecil, bukan pikiran dia itu, tapi pikiran orang. Orang tertawa setelah Mualem mengatakan itu),” ujar Apa Karya.

Karena itu, Apa Karya berharap masyarakat Aceh tak terhasut dengan kepentingan-kepentingan pihak lain yang rela membuat Aceh gaduh. Menurutnya, Aceh saat ini sudah damai, lebih baik memikirkan masa depan dan bagaimana menyejahterakan masyarakat Aceh, bukan malah menyampaikan sesuatu yang tidak mungkin.

“Geutanyoe Aceh bek dipeugrob le gob, igob na kepentingan droe. Tanyoe tajaga kepentingan droeteuh, tajaga kepentingan Aceh. Awak peugrob nyan awak putoh asa, jadi geutanyoe bek taikot. (Kita Aceh jangan dibodohi orang lain, mereka ada kepentingan sendiri. Lebih baik kita jaga kepentingan Aceh. Orang yang membodohi kita itu orang yang putus asa, jadi kita jangan ikut-ikutan),” jelas Apa Karya.

Di satu sisi,Apa Karya mengakui hingga kini Pemerintah Pusat belum sepenuhnya merealisasikan butir-butir MoU yang sudah dijabarkan dalam UUPA. Namun, itu tidak semata kesalahan pemerintah. Menurutnya, ada juga kelalaian elite Aceh sendiri dalam mengawal semua butir-butir dan perjanjian tersebut.

“Nyan salah droe teuh pakon lale. Geutanyoe memang meunan, watee rugoe dit hana tapakoe, watee rugoe lee ka taro ie mata. Maksudjih, watee jinoe hana tapeuremen, euntek watee hana meu taro teuk ie mata. (Itu salah kita sendiri kenapa kita lalai. Kita memang begitu, waktu rugi sedikit nggak open, waktu rugi banyak berlinang air mata),” pungkas Apa Karya. (dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved