BPBA: Waspadai Potensi Bencana

Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek SH

BPBA: Waspadai Potensi Bencana
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Pelaksana BPBA, Teuku Ahmad Dadek. 

* Minta Pemudik Pastikan Keamanan Rumah

BANDA ACEH - Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA), Teuku Ahmad Dadek SH mengimbau, seluruh masyarakat Aceh yang hendak mudik Lebaran Idulfitri 14404 Hijriah agar selalu mewaspadai dan memantau potensi bencana yang ada di sekelilingnya, terutama peluang terjadinya kebakaran rumah dan potensi tanah longsor.

Imbauan itu disampaikan Kepala Pelaksana BPBA melalui siaran pers yang diterima Serambi di Banda Aceh, Sabtu (1/6) pagi. Menurut Teuku Dadek, tahun lalu kebakaran permukiman mendominasi bencana di Aceh, yakni tercatat 105 kali. Kerugian yang diakibatkan oleh bencana ini mencapai Rp 51,7 miliar.

“Karenanya, sebelum mudik, mohon kondisi keamanan rumah benar-benar diperhatikan, terutama dari kemungkinan bahaya kebakaran akibat api kompor maupun akibat korsleting listrik,” ujarnya.

Dadek menyebutkan, terhitung Januari-Mei 2018 saja, tercatat 237 kejadian bencana di Aceh dan menyebabkan dua korban meninggal, 11 orang terluka, dan 18.696 jiwa terdampak bencana. Jumlah pengungsi mencapai 381 orang dan 3.387 rumah terdampak sehingga total kerugian mencapai Rp 22.785.000.000.

Kalak BPBA juga mengimbau, warga yang daerahnya merupakan wilayah yang berpotensi longsor karena kondisi tanah bergerak dan labil supaya mengambil langkah kesiapsiagaan dan terus waspada jika ada retakan tanah yang berpotensi menimpa permukiman. “Pendeknya, masyarakat kita minta untuk segera melakukaan evakuasi mandiri apabila potensi ini muncul di sekitar tempat tinggalnya,” kata Dadek.

Informasi ini ia sampaikan setelah mendapat masukan dari Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi yang mengeluarkan peringatan dini tentang potensi tanah bergerak di Aceh pada bulan Juni 2019. Kalak BPBA ini menjelaskan, bahwa fenomena tanah bergerak adalah potensi longsor, bukan likuefaksi (pembuburan tanah dan batuan muda akibat gempa).

Kalak BPBA menambahkan, banyak daerah di Aceh yang terancam mengalami potensi pergerakan tanah tentu saja dengan kriteria masing-masing, akan tetapi ini berbeda dengan likuefaksi. Likuefaksi adalah pencairan tanah atau tanah kehilangan strukturnya karena desakan gempa dan air. Pergerakan tanah ini juga berbahaya apabila kalau longsor menimpa pemukiman atau menimpa mobil atau menutup badan jalan.

Bagi pengguna jalan terutama arah wilayah tengah dan menuju ke Nagan Raya dari Pidie serta di beberapa titik Meulaboh-Banda Aceh dan Tapaktuan ke Medan, diimbau Dadek, agar waspada dan selalu melihat informasi melalui media massa dan sosial.

“Saya akan selalu meng-update juga telah menyiagakan Pusdalops selama 24 jam untuk memantau perkembangan,” ucap Dadek sembari menyebutkan nomor handphone yang bisa dihubungi untuk melaporkan kejadian, yakni 0813-6066-9111 Pusdalops Aceh. “Kepada pengelola jalan kabupaten, provinsi, dan nasional, kita juga minta untuk selalu menyiagakan alat berat guna mengantisipasi longsor tersebut,” pintanya.

Lebih lanjut, Kalak BPBA, Teuku Dadek juga menjelaskan, tentang potensi gerakan tanah (longsor) sebagaimana dimaksud Badan Geologi Pusat Vulkanologi, yakni menengah dan tinggi. Potensi gerakan tanah menengah adalah daerah yang mempunyai potensi menengah untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, terutama pada daerah yang berbatasan dengan lembah sungai, gawir, tebing jalan atau jika lereng mengalami gangguan.

Sedangkan untuk potensi gerakan tanah tinggi adalah daerah yang mempunyai potensi tinggi untuk terjadi gerakan tanah. Pada zona ini, dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan di atas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali. “Potensi tanah longsor sangat mungkin terjadi di daerah banyak gunung, apalagi musim hujan hutan gundul,” tambah Dadek.

Menurut Badan Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, 22 dari 23 kabupaten di Aceh semuanya berpotensi terjadinya gerakan tanah/longsor pada bulan Juni ini, kecuali Kota Banda Aceh. Daerah yang kecamatannya paling banyak berpotensi terjadi longsor adalah Aceh Selatan (18 kecamatan) disusul Aceh Tenggara 16, Aceh Utara 15, dan Aceh Tengah 14 kecamatan. Sedangkan kabupaten yang paling minim berpotensi longsor pada bulan ini adalah Aceh Barat, Kota Sabang, dan Kota Subulussalam masing-masing dua kecamatan.(dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved