5 Cara Hindari Longsor

Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menawarkan lima cara untuk menghindari dan mengatasi fenomena

5 Cara Hindari Longsor
FOR SERAMBINEWS.COM
Kepala Dinas ESDM Aceh, Ir Mahdinur MM 

* Ditawarkan Dinas ESDM Aceh

BANDA ACEH - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh menawarkan lima cara untuk menghindari dan mengatasi fenomena tanah bergerak atau longsor yang diperkirakan banyak terjadi di Aceh sepanjang bulan Juni ini, seiring dengan bakal tingginya curah hujan. Di antara tips tersebut adalah hindari membuat kolam ikan, kolam renang, atau sawah di atas lereng.

“Selain itu, hindari berada di lokasi yang memiliki kerentanan gerakan tanahnya tergolong kategori menengah sampai tinggi,” kata Kepala Dinas ESDM Aceh, Ir Mahdinur MM kepada Serambi di Banda Aceh, Minggu (2/6) siang, menanggapi santernya pemberitaan dalam dua hari terakhir di media online maupun media cetak tentang peringatan dini fenomena tanah bergerak di Aceh yang dikeluarkan oleh Badan Geologi.

Mahdinur menambahkan, ada empat upaya lagi yang sebaiknya dilakukan untuk mencegah kejadian gerakan tanah atau longsor yang dapat menimbulkan bencana. Keempat tindakan tersebut adalah, 1) hindari melakukan kegiatan/aktivitas yang dapat memicu gerakan tanah, terutama pada lokasi yang potensi gerakan tanahnya termasuk kategori menengah sampai tinggi; 2) membangun konstruksi pencegah gerakan tanah pada lokasi yang diperhitungkan berpotensi terkena gerakan tanah; 3) mencegah meluasnya bencana gerakan tanah pada lokasi rawan longsor, misalnya dengan menutup rekahan-rekahan tanah supaya tidak masuk air; dan 4) melakukan penyesuaian tata lahan pada wilayah kerentanan menengah sampai tinggi untuk terkena gerakan tanah, misalnya tidak membuat kolam atau sawah di atas lereng bukit atau gunung.

Mahdinur juga menjelaskan, bahwa peringatan dini tentang tanah bergerak/longsor yang dipublikasi Badan Geologi, tepatnya Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi pada 1 Juni lalu, sebetulnya merupakan laporan rutin yang dikeluarkan setiap bulan sepanjang tahun untuk memberitahukan wilayah-wilayah yang berpotensi terjadinya gerakan tanah.

Oleh sebab itu, peta dan laporan yang dikeluarkan setiap bulan tersebut akan berbeda karena di-overlay/ditumpang-susun dengan peta prakiraan curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang juga dirilis setiap bulan oleh BMKG.

“Nah, dari laporan rutin Badan Geologi untuk bulan Juni 2019 inilah, menjadi jelas bahwa ada wilayah-wilayah di Aceh yang berpotensi terjadinya gerakan tanah, meliputi potensi gerakan tanah menengah hingga tinggi. Jadi, ini yang perlu kita waspadai bersama, terutama oleh pemudik Lebaran,” ujarnya.

Ia menerangkan, bahwa gerakan tanah merupakan suatu gerakan menuruni lereng oleh massa tanah dan/atau batuan penyusun lereng, akibat dari terganggunya kestabilan tanah atau batuan penyusun lereng tersebut. “Istilah gerakan tanah inilah yang secara awam dipahami sebagai tanah longsor,” ujarnya. Terakhir, Mahdinur menyampaikan, usaha-usaha mitigasi bencana gerakan tanah yang bisa dilakukan secara mandiri atau pun berkelompok, sebagai berikut:

1) Kenali daerah-daerah berkerentanan menengah sampai tinggi untuk terkena bencana gerakan tanah;
2) Siaga dan waspada menghadapi kemungkinan terjadinya bencana gerakan tanah;
3) Sebarkan informasi dan penjelasan tentang kerentanan gerakan tanah;
4) Kembangkan masyarakat sadar bencana alam geologi untuk kewaspadaan dalam menghadapi bencana; dan
5) Lakukan pemantauan gerakan tanah pada daerah rawan longsor.

Lebih lanjut, Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, Ir Mahdinur MM menyebutkan, sedikitnya ada pemicu terjadinya gerakan tanah (longsor), yakni bisa disebabkan oleh hujan, getaran, atau pun oleh aktivitas manusia (seperti penggalian atau pemotongan pada lereng).

“Jadi, tanah bergerak atau longsor itu ada yang disebabkan oleh faktor alam, ada juga karena ulah atau aktivitas manusia yang kurang bersahabat dengan alam,” ulas Mahdinur.

Ia menambahkan, bahwa gangguan yang merupakan pemicu gerakan tanah merupakan proses alamiah atau nonalamiah ataupun kombinasi keduanya yang secara aktif mempercepat proses hilangnya kestabilan pada suatu lereng.

Mahdinur juga menerangkan tentang jenis-jenis gerakan tanah yang terdiri atas runtuhan batuan/tanah, robohan batuan/tanah, longsoran batuan/tanah, dan aliran batuan/tanah.

Gerakan tanah itu sendiri, menurutnya, adalah salah satu proses geologi yang terjadi akibat interaksi pengaruh antara beberapa kondisi yang meliputi kondisi morfologi, geologi, struktur geologi, hidrogeologi, dan tata guna lahan.

“Kondisi-kondisi tersebut saling berpengaruh sehingga mewujudkan suatu kondisi lereng yang cenderung atau berpotensi untuk bergerak atau longsor,” pungkasnya.(dik)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved