Opini

Zakat Fitrah; Kukuhkan Solidaritas Sosial

Zakat fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji

Zakat Fitrah; Kukuhkan Solidaritas Sosial
IST
Dr. Marhamah, M.Kom.I., Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe

Oleh Dr. Marhamah, M.Kom.I, Dosen Komunikasi IAIN Lhokseumawe

Sabda Rasulullah Saw: “Zakat fitri merupakan pembersih bagi yang berpuasa dari hal-hal yang tidak bermanfaat dan kata-kata keji (yang dikerjakan waktu puasa), dan bantuan makanan untuk para fakir miskin.” (HR. Abu Daud).

Menjelang akhir Ramadhan umat Islam melaksanakan kewajiban mengeluarkan zakat al-nafs atau zakat fitrah. Zakat fitrah dalam syariat Islam mengandung makna pengabdian manusia (ta’abbudi) kepada Allah Swt sekaligus memiliki nilai-nilai solidaritas sosial. Dalam zakat fitrah terkandung ibadah ritual sekaligus ibadah sosial.

Dalam Islam, zakat menempati kedudukan tinggi dan mulia. Karena, dalam pelaksanaaannya, zakat mengandung tujuan-tujuan syar’i (maqâshid syariat) yang agung yang mendatangkan kebaikan dunia dan akhirat, baik bagi si kaya maupun si miskin.

Secara sosial, zakat fitrah menjadi sarana komunikasi antara manusia dengan manusia lain dalam sebuah tatanan kehidupan sosial dan menjadi investasi bagi pemberdayaan ekonomi umat. Tujuannya adalah melindungi dan memberikan kesejahteraan umat manusia, terutama bagi kaum yang kurang mampu.

Argumen mengapa kaum yang kurang mampu lebih ditekankan dalam ajaran Islam, karena spirit ajaran Islam adalah menciptakan tatanan yang adil bagi harkat dan martabat kemanusiaan. Zakat fitrah lebih ditujukan pada upaya penyucian (fitrah) jiwa.

Sebagaimana firman Allah SWT, “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka, dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. at-Taubah: 103).

Sesuai dengan makna zakat itu sendiri, yang sering diartikan tumbuh, subur, suci, dan penuh kebaikan. Sejatinya zakat ini adalah salah satu bentuk dari diri seseorang yang berusaha untuk membersihkan benih-benih perbuatan buruk yang pernah dilakukan sebelumnya.

Dan sesuai dengan waktu dalam melakukan zakat fitrah tersebut, yaitu Hari Raya Idul Fitri, hari yang suci dan penuh keberkahan untuk setiap orang, dan sering diartikan masyarakat muslim sebagai hari saling bermaaf-maafan atas segala kesalahan yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

Maka, pelaksanaan zakat fitrah harus diletakkan sebagai upaya penemuan esensi kemanusiaan yang suci. Sehingga di akhir Ramadhan orang-orang yang berpuasa benar-benar menjadi manusia yang bertakwa sebagai indikator dari kefitriannya.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved