Ketupat, Rayakan Hangatnya Kebersamaan

Lebaran kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat. Kudapan yang satu ini sudah sekian lama menjadi

Ketupat, Rayakan Hangatnya Kebersamaan
SERAMBI/NURUL HAYATI
PERAJIN menganyam sarung ketupat untuk dijual di Pasar Peunayong, Banda Aceh, Senin (3/6) 

Lebaran kurang lengkap tanpa kehadiran ketupat. Kudapan yang satu ini sudah sekian lama menjadi peneman khas Lebaran di nusantara. Ya, selalu ada cerita di balik kelezatan citarasa tradisi. Kuliner yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Warga Banda Aceh dan mungkin juga warga di daerah lain memang kerap menjadikan makanan yang satu ini sebagai menu ‘wajib’ setiap Lebaran. Disantap bersama kuah sayur dan perintilan lain nan menggugah selera, kudapan ini siap memanjakan lidah penikmatnya. Tak heran, ketupat menjadi primadona di hari kemenangan.

Bagi sebagian orang, tak lengkap rasanya merayakan Lebaran tanpa kehadiran ketupat. Menjelang hari raya, anda akan mudah mendapati para perajin bungkus ketupat menjajakan kreasi kerajinan tangan tersebut. Seperti pemandangan yang terlihat di Jalan WR Supratman, Peunayong, Banda Aceh (3/6).

“Pas pertama idenya lihat pohon kelapa, apa yang bisa diolah untuk jadi duit. Dari situ awal buat bungkus ketupat, sejak beberapa tahun lalu,” ujar Lidawati, salah seorang pengrajin bungkus ketupat asal Neuhun, Kecamatan Kajhu, Banda Aceh.

Ia menjajakan dagangannya itu sejak pagi hingga siang hari. Selain dibuat di rumah, ia dan juga sejumlah pedagang lainnya juga menganyam ketupat di tempatnya berjualan. Dijual dengan harga Rp 5 ribu per ikat, anda bisa memilih aneka warna dan ukuran sesuai selera.

Hal itu juga dilakoni Nek Ramlah (50) tahun, warga Kecamatan Montasik, Aceh Besar. Ia dibantu dengan anak-anaknya menganyam bungkus ketupat untuk kemudian dijual di Pasar Peunayong. Bahan baku yang digunakan berupa daun kelapa yang masih muda yang didapat dengan cara dibeli.

Ia telah mangkal di Pasar pagi hingga siang hari sejak H-3 Lebaran. Pada Lebaran tahun lalu, dalam sehari ia bisa memperoleh hingga Rp 400 ribu per hari, namun tahun ini penjualan kurang menggembirakan. Berbungkus-bungkus ketupat yang dijalin indah itu menunggu pembeli. Merayakan hangat kebersamaan dalam jalinan silaturahmi.(nurul hayati)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved