Breaking News:

Idul Fitri 1440 H

1 Juta Rohingya Rayakan Idul Fitri di Pengungsian, Banyak Ibu tak Sanggup Beli Apapun untuk Anaknya

Suami Hamida, Mohammad Toyab, dibunuh oleh militer Myanmar pada tahun 2017 ketika mereka melarikan diri dari penumpasan di Rakhine.

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
IST
KETUA Solidaritas Aceh untuk Rohingya (SAUR) Tgk H Faisal Ali, bersama anak-anak Muslim Rohingnya di mushalla yang dibangun dengan bantuan masyarakat Aceh, di Cox's Bazar, Bangladesh, Minggu (4/2/2018). 

Tetapi karena kekhawatiran internasional tentang masalah keselamatan dan martabat, proses repatriasi telah tertunda dan tidak ada tanda-tanda akan dimulai dalam waktu dekat.

Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina mengeluarkan tiga rekomendasi kepada PBB September lalu untuk menyelesaikan krisis Rohingya, termasuk penghapusan undang-undang yang diskriminatif, kebijakan dan praktik Myanmar terhadap Rohingya, menciptakan lingkungan yang kondusif di Myanmar untuk menjamin perlindungan, hak dan jalur menuju kewarganegaraan untuk semua Rohingya dan pengadilan yang adil atas kekejaman Myanmar di Rakhine sehubungan dengan rekomendasi misi pencarian fakta Dewan HAM PBB tentang Myanmar.

Anak-anak pengungsi Rohingya menanti jatah makanan di kamp pengungsi Ukhia, Bangladesh.
Anak-anak pengungsi Rohingya menanti jatah makanan di kamp pengungsi Ukhia, Bangladesh. (Munir UZ ZAMAN/AFP)

Tetapi otoritas Myanmar masih menganggap orang Rohingya sebagai orang Bengali ilegal dan belum menunjukkan kecenderungan untuk menghapus Undang-Undang Kewarganegaraan 1982 yang kontroversial.

Amnesty International mengatakan dalam sebuah laporan terakhir di bulan Februari, pelanggaran HAM terus terjadi di Negara Bagian Rakhine.

"Militer Myanmar memblokir akses ke desa-desa makanan dan penembakan dan 5.200 orang telah mengungsi sejak Desember 2018," katanya.

Laporan yang baru-baru ini diterbitkan oleh Human Rights Watch juga menyatakan keprihatinan atas siklus pelanggaran HAM di Rakhine.

"Pasukan keamanan Myanmar terus melakukan pelanggaran berat terhadap Muslim Rohingya sepanjang 2018, memperdalam bencana kemanusiaan dan hak asasi manusia di Negara Bagian Rakhine," katanya.

Joseph Surjamoni Tripura, juru bicara Komisi Tinggi Pengungsi PBB (UNHCR) di Bangladesh, mengatakan kepada Anadolu Agency bahwa pilihan terbaik adalah mereka dapat kembali ke tanah air mereka dengan aman dan bermartabat dan merayakan Idul Fitri di negara mereka sendiri.

"Sepanjang bulan Ramadhan, kami telah melakukan kampanye di antara orang-orang Rohingya untuk tetap menghidupkan harapan mereka dan menghilangkan frustrasi," katanya, seraya menambahkan bahwa UNCHR juga telah mengadakan beberapa pesta buka puasa dengan orang-orang Rohingya.

Rohingya frustrasi atas masa depan mereka dan “tantangan utama bagi kami adalah menjaga harapan mereka tetap hidup,” kata Tripura.

Apa yang dirasakan orang Rohingya? Mereka menginginkan repatriasi damai dengan keamanan dan hak yang wajar.

Sampai ini terpenuhi, pendidikan yang tepat adalah suatu keharusan bagi lebih dari 500.000 anak-anak Rohingya di bawah 12 tahun.

"Tolong lakukan sesuatu untuk membuat masa depan yang baik setidaknya untuk anak-anak kita," kata Nasima, ibu empat anak.(Anadolu Agency)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved