Breaking News:

Niat Puasa Sunat Syawal, Bolehkah Digabung dengan Qadha Puasa Ramadhan?

Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadhan, kemudian mengikutinya dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia seperti berpuasa setahun

Penulis: Zainal Arifin M Nur | Editor: Zaenal
SERAMBINEWS.COM
Ilustrasi puasa sunnah syawal 

2. Menggabung ibadah fardlu dengan sunnah.

Ini ada yang sah keduanya dan ada yang sah fardhu saja atau sunnah saja.

Ada juga yang tidak sah kedua-duanya.

a. Contoh yang sah keduanya antara lain, niat shalat fardhu sekaligus sebagai tahiyyatul masjid. Menurut pengarang syarah al-Muhazzab, tidak ada khilaf dalam mazhab Syafii bahwa keduanya sah dan mendapatkan pahala. Begitu juga seseorang yang mandi junub hari Jumat, kemudian dia niat mandi wajib dan jumat sekaligus.

b. Contoh yang sah fardhunya saja, orang haji berniat fardhu dan sunnah, padahal dia belum pernah haji, maka yang sah fardhunya.

c. Contoh sah sunnah saja, seperti seseorang memberi uang kepada fakir miskin dengan niat zakat dan sedekah, maka yang sah sedekahnya bukan zakatnya.

d. Contoh tidak sah keduanya antara lain, imam dalam shalat berjama’ah sudah dalam posisi rukuk, lalu seorang masbuq membaca satu takbir dengan niat sebagai takbiratul ihram dan sekaligus sebagai takbir intiqalat, maka tidak sah shalat si masbuq tersebut sama sekali, karena ada tasyrik pada niat. Contoh lain adalah shalat dengan niat shalat fardhu dengan sekaligus shalat rawatib.

Baca: Kisah Iptu Rozsa Rezky, Rindu Mendengar Suara Takbir di Tengah Misi Menjaga Perdamaian Dunia

3. Menggabungkan ibadah fardlu dengan fardlu lain.

Berkata Ibnu Subki: Ini tidak sah kecuali masalah haji dan umrah, yaitu haji qiran, di mana di dalamnya digabung ibadah umrah wajib dan haji wajib.

Menurut as-Suyuthi ada contoh lain yaitu mandi wajib sambil menyelam dengan niat wudhu’ juga. Ini sah kedua-duanya menurut pendapat yang lebih sahih.

Baca: Honda Sonic Kontra Vario di Peureulak, Aceh Timur, Pemuda 25 Tahun Meninggal Dunia

4. Menggabungkan dua ibadah sunnah. Qufal mengatakan hukumnya tidak sah.

Namun as-Suyuthi mengatakan pernyataan itu bertentangan dengan hukum sah mandi dengan niat untuk jum’at dan hari raya sekaligus pada ketika hari raya jatuh pada hari Jum’at.

Contoh lain adalah berkumpul shalat hari raya dan gerhana, lalu dibaca dua khutbah dengan niat untuk keduanya, maka hukumnya adalah sah. Demikian juga sah menggabung shalat qabliyah dhuhur dan tahiyyatul masjid.

Demikian lagi juga sah dengan ijmak ulama seorang imam shalat mengeraskan suaranya pada takbir dengan niat memperdengarkan kepada makmum.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved