Jaga Ketakwaan Setelah Ramadhan

Pimpinan Pesantren Modern Tgk Chik Oemar Diyan, Indrapuri, Aceh Besar, Tgk H Fakhruddin Lahmuddin SAg MPd

Jaga Ketakwaan Setelah Ramadhan
FOTO HUMAS PEMERINTAH ACEH
RIBUAN jamaah mendengarkan khutbah seusai melaksanakan shalat Idul Fitri 1440 Hijriah di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu (5/6) pagi. 

* Pesan Khatib Shalat Id di Masjid Raya

BANDA ACEH - Pimpinan Pesantren Modern Tgk Chik Oemar Diyan, Indrapuri, Aceh Besar, Tgk H Fakhruddin Lahmuddin SAg MPd, menjadi khatib shalat Hari Raya Idul Fitri, 1 Syawal 1440 Hijriah, di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Rabu (5/6) pagi. Dalam khutbahnya, Tgk Fakhruddin antara lain mengajak puluhan ribu jamaah yang hadir untuk tetap menjaga ketakwaan setelah Ramadhan.

“Kita bersyukur kepada Allah SWT karena berkat hidayah-Nya kita sudah menyempurnakan bilangan puasa kita, kita sudah mengisi Ramadhan dengan ibadah. Tentu kita harus menjaganya, menjaga ketakwaan setelah Ramadhan, semoga kita dipertemukan dengan Ramadhan yang akan datang,” kata Tgk H Fakhruddin dalam khutbah berjudul `Spiritualitas puasa dalam pembentukan karakter takwa menuju Aceh sejahtera.’ Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah MT dan unsur Forkopimda Aceh turut melaksanakan shalat Id di Masjid Raya bersama puluhan ribu jamaah lainnya.

Pada kesempatan itu, Tgk Fakhruddin mengatakan, Ramadhan adalah tolok ukur umat muslim di dunia untuk memperbaiki tingkat ketakwaannya setelah Ramadhan dan menjalani kehidupan selama 11 bulan ke depan hingga menjelang Ramadhan selanjutnya. Tentu, sambungnya, tantangan terberat setelah Ramadhan adalah menjaga ritme ibadah yang sudah dilaksanakan selama berpuasa sebulan penuh.

Menurutnya, ibadah puasa yang sudah dilakukan selain mengandung aspek hubungan hamba dengan Allah, juga menjadi aspek untuk menanamkan keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. “Di dalamnya juga memiliki dimensi spiritualitas untuk membentuk karakter orang yang melaksanakan ibadah puasa itu sendiri,” jelas Ustaz Fakhruddin yang juga Ketua Umum Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Aceh.

Ustaz Fakhruddin kemudian mengutip Surat Albaqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. Menurutnya, itulah esensi dari berpuasa, agar senantiasa semua hamba menjadi insan yang bertakwa. “Dan ini juga berlaku setelah Ramadhan, agar kita menjadi bertakwa secara permanen,” jelasnya.

Menurut Tgk Fakhruddin, sungguh beruntung orang-orang yang bisa menjaga ritme ibadah mereka setelah Ramadhan pergi apalagi jika ibadah yang dilakukan bisa membentuk karakter kepribadian orang tersebut. Menurutnya, sebagaimana syarahan Syekh Mummah Alghazali, bila ada sebuah ibadah dikerjakan seorang hamba, lalu itu tak bisa membentuk kepribadian karakter orang tersebut, maka sungguh ibadah yang dikerjakan orang ini ibarat anak kecil mengerjakan sebuah ibadah. “Karena dia tidak bisa mengambil hikmah dari ibadah yang dia kerjakan itu,” ujarnya.

Sedangkan menurut Syekh Prof Dr Wahbah Az Zuhaili dalam penjelasannya, menurut Tgk Fakhruddin, banyak sekali faedah-faedah puasa. Salah satunya--Prof Wahbah mengibaratkan-- ibadah puasa yang dilakukan umat Islam selama satu bulan penuh adalah sebuah lembaga pendidikan moral yang begitu besar. “Beliau mengatakan, puasa adalah lembaga pendidikan moral yang besar, di mana seorang mukmin melalui puasa yang dia jalani dia belajar banyak aspek yang itu terkait dengan pembentukan moral dan akhlak spiritulai orang tersebut,” kata mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Besar itu.

Bila mencermati proses ibadah puasa yang dijalani, menurut Tgk Fakhruddin, sungguh umat Islam sudah belajar dan diajarkan banyak hal. “Tentu dengan harapan mudah-mudahan yang sudah kita belajar itu kemudian bisa membentuk karakter kita, orang-orang yang memiliki karakter takwa,” ujarnya.

Tgk Fakhruddin juga mengatakan, setiap manusia di dunia diberikan dua potensi dalam hidup yakni fujur (perbuatan butuk) dan takwa. Menurutnya, fujur dimotori oleh nafsu, di mana manusia jika didominasi dengan fujur akan melakukan berbagai hal yang bertentangan dengan syariat Allah.

“Sedangkan takwa dimotori oleh iman kita. Beruntung orang-orang yang mampu memenangkan potensi takwa atas potensi fujur dan merugilah orang-orang yang lebih kuat potensi fujurnya dari potensi takwa. Mari sama-sama kita menjaga ketakwaan kita setelah Ramadhan,” ajak Tgk Fakhruddin Lahmuddin menutup khutbahnya.(dan)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved