Opini

Memaknai Idil Fitri

Tanggal 1 Syawal bagi bangsa Arab di zaman purba adalah hari pesta yang diramaikan dengan aneka ragam permainan

Memaknai Idil Fitri
IST
Agustin Hanafi, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan Anggota IKAT Aceh

Oleh Agustin Hanafi, Ketua Prodi Magister Hukum Keluarga Pascasarjana UIN Ar-Raniry, dan Anggota IKAT Aceh

Tanggal 1 Syawal bagi bangsa Arab di zaman purba adalah hari pesta yang diramaikan dengan aneka ragam permainan. Tradisi ini menurut imam Thabary berkelanjutan terus sampai hijrah Nabi saw ke Madinah. Mempertunjukkan tari perang sudah menjadi kebiasaan mereka bila menyambut hari raya.

Untuk membedakan cara dan sikap mereka menghadapi hari raya itu, maka Rasullullah menganjurkan kepada umat Islam Madinah agar hari itu diisi dengan memperbanyak zikir, menegakkan shalat Id, dan amal saleh lainnya.

Segenap lapisan kaum muslimin, dalam beberapa terakhir berhimpun dan berkumpul di masjid-masjid dan tanah lapang menegakkan shalat Id, sambil mengumandangkan takbir dan tahmid dengan gemuruh. Mereka berdiri sama-sama sama rukuk dan sujud, sama menghadap ke arah yang satu, di bawah komando seorang imam. Sama-sama duduk dengan tegak, sama diam dan bergerak manurut komando imam. Jelas kelihatan dalam shalat Id ini terjadinya rasa persatuan dan kesatuan, dan eratnya ukhwah islamiyyah di kalangan umat Islam.

Idil Fitri berarti hari raya kesucian, atau juga hari kemenangan umat Islam dalam menggapai kesucian atau perwujudan dari kembali kepada keadaan fitrah. Idil Fitri merupakan momen yang sungguh krusial bagi umat Islam di Indonesia, terutama masyarakat Aceh. Maka bagi kalangan tertentu jauh sebelumnya sudah mempersiapkan diri menyambut kehadiran Idil Fitri dengan cara mengumpulkan materi, mengambil cuti dan permohonan izin dari tempat kerja agar bisa mudik ke kampung halaman sehingga dapat merayakan Idil Fitri bersama keluarga.

Momen ini adalah ajang berkumpulnya keluarga, satu sama lain bisa bercanda ria, melepaskan rasa rindu, berkeluh kesah, bercerita tentang pengalaman di tempat kerjanya. Juga bercerita tentang keadaan di perantauannya mengenai adat istiadat dan budaya setempat.

Sudah menjadi sebuah tradisi menjelang Idil Fitri, banyak sekali ucapan selamat dan permohonan maaf yang disampaikan seseorang kepada teman dan koleganya baik melaui whatsapp, media sosial, spanduk, baliho dan iklan yang bunyinya “Selamat Hari Raya Idil Fitri 1 Syawal 1440 H. Minal Aidin Wal Faizin, Mohon maaf lahir dan batin”.

Ungkapan ini terlihat sederhana tetapi pada hakikatnya memiliki makna yang dalam. Minal Aidin berarti (semoga kita) termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah, yakni “asal kejadian”, atau “kesucian”, atau “agama yang benar”. Sedangkan alfaizin berarti “keberuntungan”. Ini harus dipahami dalam arti harapan dan doa, yaitu semoga kita orang-orang yang memperoleh ampunan dan ridha Allah Swt.

Setelah mengasah dan mengasuh jiwa yaitu berpuasa selama satu bulan, diharapkan setiap muslim dapat kembali ke asal kejadiannya dan menemukan “jati dirinya”, yaitu kembali suci sebagaimana ketika ia baru dilahirkan serta kembali mengamalkan ajaran agama yang benar.

Kesucian adalah gabungan tiga unsur: benar, baik, dan indah. Sehingga seseorang yang beridul fitri dalam arti “kembali ke kesuciannya” akan selalu berbuat yang indah, benar, dan baik. Bahkan lewat kesucian jiwanya itu, ia akan memandang segalanya dengan pandangan positif. Ia selalu berusaha mencari sisi-sisi yang baik, benar, dan indah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved