Breaking News:

Jurnalisme Warga

Mudik Rasa Wisata

PERAYAAN Lebaran di Indonesia, tak terkecuali di Aceh tanoh lon sayang, sangatlah identik dengan tradisi mudik

Editor: bakri
Mudik Rasa Wisata
IST
AYU ‘ULYA, Anggota Forum Aceh Menulis (FAMe) Banda Aceh, melaporkan dari Pidie Jaya

Bisa juga kita jalan sambil menikmati berbagai buah dan tumbuhan segar yang dijajakan oleh penduduk di kawasan Saree, Aceh Besar, dan bahkan gerombolan lembu yang sedang berjemur dan memamah santai sisa-sisa padi di sawah pascapanen di kawasan Pidie.

Hal yang lebih mengasyikkan adalah ketika kita sadari bahwa perjalanan tersebut mampu menghadirkan pemandangan, tidak hanya indahnya gunung dan lembah, tapi juga prosesi bertumbuhnya padi dalam sekali lalu, dari sawah yang kosong hingga panen dan lahannya yang dibajak kembali. Pemandangan rural dan agraris seperti ini tentunya tak mudah lagi kita dapatkan di kota-kota yang sisa lahan sawahnya justru hampir semua dikonversi menjadi kompleks perumahan.

Hal yang sama juga terjadi dalam laju yang tak terkendalikan di Kota Banda Aceh bahkan di Aceh Besar yang dulunya tercatat sebagai salah satu lumbung padi Aceh, selain Pidie. Saat melintasi wilayah Samahani kita juga dapat menikmati hamparan padi yang menguning sempurna dan dalam proses panen. Kemudian, terhampar pula padi-padi kuning keemasan yang mulai matang di daerah Cot Geulumpang dan hamparan indah bibit padi hijau yang ditanam rapat bak permadani di Beureunuen.

Pendeknya, ragam pandang proses padi bertumbuh hingga memasuki fase panen di sepanjang “jalan kenangan” ini jika kita resapi secara mendalam, ia laksana serial animasi pertumbuhan padi dalam dunia nyata. Asyik sekali. Oleh karenanya, sebagai penduduk lokal, sesekali tak salahnya kita pertajam kepekaan lingkungan dan skill “mata wisatawan” di antara kita. Saya rasa itu perlu supaya kita tetap rileks sembari mensyukuri setiap jengkal anugerah Allah kepada ita hamba-Nya di bumi subur yangbernama Aceh. Bisa jadi hal yang terlalu sering kita perhatikan dan rasakan sebagai rutinitas belaka, lalu telanjur kita abaikan karena tampak biasa, sebenarnya tidak sebiasa itu.

Pasti ada hal-hal luar biasa bahkan hikmah di balik itu. Kembalilah bersahabat dengan alam dan rasakan sensasinya yang tidak biasa, sekalipun hanya dalam perjalanan sejauh 169 kilometer dari Banda Aceh ke Pijay atau sebaliknya.Akhirnya, selamat mudik bagi yang akan mudik dalam suasana Lebaran dan selamat kembali bagi yang sudah puas mudik di kampung.

Di mana pun Anda, selamat merayakan hari kemenangan. Semoga tiba dengan selamat ke tujuan dan sempatkan menikmati indahnya perjalanan. Tetap hati-hati, sebab di jalan ang muluslah orang sering terlena dan celaka. Di jalan yang mulus pula sebutir kerikil acap menyebabkan petaka.

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved