Abrasi Krueng Teunom Mengganas

Abrasi Krueng Teunom yang sudah terjadi sejak tahun 2017 lalu, kian hari makin mengganas

Abrasi Krueng Teunom Mengganas
SERAMBINEWS.COM/RISKI BINTANG
Kondisi abrasi Krueng Teunom. 

* Tiga Desa Terkena Dampak

CALANG - Abrasi Krueng Teunom yang sudah terjadi sejak tahun 2017 lalu, kian hari makin mengganas. Dampaknya, sebanyak delapan unit rumah warga Desa Krueng Beukah, dan puluhan hektare kebun di Desa Timpleung serta Desa Pasie Tube, Kecamatan Pasie Raya, Aceh Jaya terancam ambruk dan hancur dikikis sungai tersebut.

Keuchik Krueng Beukah, Muhammad Salem kepada Serambi, Senin (10/6), menyatakan, abrasi Krueng Teunom yang makin lama kian mengganas sudah sangat mengkhawatirkan warga desanya. Betapa tidak, sejumlah rumah yang berlokasi di sepanjang tebing sungai mulai terkikis dan terancam ambruk. “Ia memang ada beberapa rumah yang terancam ambruk ke sungai karena abrasi tersebut. Sekarang ada 8 unit rumah yang terancam terbawa arus sungai tersebut,” jelasnya melalui sambungan telepon.

Ia menjelaskan, saat ini posisi Krueng Teunom sudah berpindah sejauh 500 meter dari lokasi semula. Eksesnya, puluhan hektare perkebunan warga hancur diterjang salah satu sungai terbesar di Aceh itu. “Krueng Teunom itu sudah berpindah sejauh 500 meter dari posisi awal. Abrasinya juga terus terjadi sejak tahun 2017 lalu hingga sekarang,” tandasnya.

Muhammad Salem memaparkan, ke-8 unit rumah yang terancam ambruk itu letaknya hanya berjarak 8 meter saja dari tebing sungai yang saat ini terus terkikis abrasi. Diprediksi, jika keadaan ini tak segera ditanggulangi, maka dalam waktu tak lama lagi ke-8 unit rumah tersebut akan ikut terkikis.

“Hingga saat ini, belum ada tindakan dari pemerintah untuk mengantisipasi semakin mengganasnya abrasi Krueng Teunom tersebut. Kami sendiri sebenarnya sudah pernah melaporkan kepada Pemkab Aceh Jaya, tapi belum ada respons yang serius,” tukasnya.

Secara terpisah, Sekretaris Forum Keuchik Pasie Raya, Syarkawi mengungkapkan, abrasi Krueng Teunom sebenarnya tidak hanya mengancam Desa Krueng Beukah saja, namun juga sudah mengancam dua desa lainnya, yakni Desa Timpleung dan Desa Pasie Tube.

“Ada tiga desa yang terancam abrasi, tapi dari 3 gampong tersebut, dua desa yakni Timpleung dan Krueng Beukah menjadi yang terparah. Untuk Timpleung saja, sudah ada puluhan hektare perkebunan warga yang hilang akibat abrasi tersebut,” jelas Syarkawi yang juga merupakan Keuchik Timpleung kepada Serambi, kemarin.

Untuk itu, Syarkawi yang mengaku mewakili masyarakat berharap, agar pemerintah segera melakukan penanganan abrasi tersebut sehingga tidak ada rumah perkebunan masyarakat yang menjadi korban keganasan abrasi Krueng Teunom. “Saya berharap, agar sesegera mungkin diantisipasi persoalan ini mengingat sudah mengacam rumah penduduk,” tandasnya.

Di sisi lain, salah seorang masyarakat Kecamatan Pasie Raya menuntut janji Bupati Aceh Jaya, T Irfan TB terkait penanganan abrasi Krueng Teunom. “Kemarin pada akhir tahun 2018, Pak Bupati ada meninjau lokasi dan kepada media ia mengatakan dengan segera akan ditangani. Tapi hingga pertengahan tahun 2019, belum ada respons apa-apa, apalagi tindakan,” terangnya.

Untuk itu, ia menuntut orang nomor satu di Aceh Jaya tersebut agar dapat merealisasikan janji yang sudah disampaikannya, karena menurut dia seorang pemimpin yang dipegang adalah omongannya. “Beliau sendiri yang bilang kemarin tahun 2018 sekitar bulan 12 tapi saya lupa tanggal berapa, kalau abrasi yang terjadi di Krueng Teunom harus ditangani. Tapi sampai sekarang belum ada apa-apa, apa masih menunggu rumah dan kebun warga jadi korban baru menangani permasalahan ini,” ucapnya. “Bagaimana cara kami bisa percaya kepada pemimpin jika omongannya saja tidak dapat dipercaya,” tutup dia.

Sementara itu, Kepala Dinas PUPR Aceh Jaya, Rusman yang dihubungi Serambi, kemarin, mengatakan, jika Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Jaya sudah mengajukan permohonan ke Pemerintah Aceh terkait penanganan abrasi Krueng Teunom. “Memang sudah kita ajukan, tapi nanti pada tahun 2020, baru akan ditangani oleh pemerintah,” jelasnya.

Menurutnya, pada tahun ini, Aceh Jaya sebenarnya juga mendapatkan program normalisasi sungai. Namun, Rusman mengaku, dirinya tidak mengetahui pasti dimana letak lokasi program tersebut. “Untuk tahun ini ada juga dari APBA, tapi kita belum tahu lokasi pastinya, nanti kita cek dulu,” ungkapnya.

Rusman menerangkan, jika dalam dua hari ke depan, pihaknya juga akan mengirimkan tim untuk melakukan pengecekan dan pemantauan lokasi abrasi Krueng Teunom.

“Inikan baru siap lebaran, nanti akan kita turunkan tim mengecek. Jika memang sudah sangat mengkhawatirkan, akan kita pikirkan apakah harus dibuat dengan tanggap darurat dulu,” ulasnya. “Yang pasti, kalau untuk yang permanen baru akan dibangun pada tahun 2020 nanti,” pungkas Rusman.(c52)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved