Opini

Aktualisasi Diri Paska Idul Fitri

Idul Fitri yang kita rayakan merupakan momentum “wisuda universitas Ramadhan” sekaligus reformasi iman

Aktualisasi Diri Paska Idul Fitri
Usamah El-Madny, Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Oleh Usamah El-Madny, Kadis Pendidikan Dayah Aceh

Idul Fitri yang kita rayakan merupakan momentum “wisuda universitas Ramadhan” sekaligus reformasi iman, ilmu, dan amal shalih. Idul Fitri bukan sekadar ritual “kegembiraan” tanpa makna, melainkan merupakan manifestasi teologis atas kesucian asal usul jati diri kita yang bertauhid dan mencintai rabb.

Mulai 1 Syawal para lulusan universitas Ramadhan harus mampu menindaklanjuti kedekatan vertikal dengan Allah dan kedekatan horizontal dengan sesama dalam bentuk amal shalih, akhlak terpuji, dan silaturahmi. Lulusan Ramadan harus mampu menunjukkan perilaku penuh keadaban, perdamaian, persaudararan, kebersamaan, dan silaturahmi kebangsaan. Itulah esensi makna kembali ke fitrah dalam dimensi sosial politik.

Jika pada akhir shalat kita diperintahkan mengucapkan salam dengan menengok ke kanan dan kiri, pada hari raya Idul Fitri ini kita diwajibkan memperhatikan kemiskinan ekonomi dan sosial di sekitar kita. Kita diwajibkan berpartisipasi mengentaskan kemiskinan dan penderitaan yang dialami oleh sebagian saudara kita yang belum beruntung melalui zakat fitrah. Tujuan utama zakat fitri ini tidaklah sekadar membersihkan harta kita yang menjadi hak orang lain, melainkan juga mengingatkan kita agar terus-menerus berjuang menegakkan keadilan sosial.

Zakat fitrah yang dibagikan kepada fakir miskin ketika mengakhiri puasa ini juga mengingatkan kita bahwa ibadah kepada Allah harus melahirkan sikap dan perilaku kemanusiaan yang peduli terhadap nasib sesama. Tauhid individual tidak akan pernah berarti tanpa dibarengi dengan tauhid sosial.

Kesalehan individual perlu diintegrasikan dengan kesalehan sosial. Tauhidul ibadah baru akan melahirkan masyarakat yang harmonis, adil dan sejahtera jika ditindaklanjuti dengan tauhidul ummah (penyatuan umat).

Sedemikian pentingnya integrasi ibadah ritual (seperti shalat) dan ibadah sosial (seperti zakat), sehingga Nabi SAW dalam salah satu pesannya sebelum dipanggil oleh Allah menyatakan: “Wahai umat manusia, tunaikanlah zakat hartamu. Ketahuilah, barang siapa tidak menunaikan zakat, maka shalatnya tidak sempurna. Ketahuilah, barang siapa tidak sempurna shalatnya, berarti tidak sempurna agamanya, tidak sempurna puasanya, dan tidak sempurna jihadnya.” (HR. Muslim).

Sejarah membuktikan bahwa pada masa khalifah Abu Bakar al-Shiddiq orang-orang yang tidak mau membayar zakat diperangi, karena mereka membahayakan stabilitas sosial-ekonomi umat Islam. Sedemikian pentingnya perang melawan kemiskinan, sampai-sampai Abu Bakar menyatakan: “Demi Allah, saya akan memerangi orang-orang yang memisahkan antara shalat dan zakat (melaksanakan shalat tetapi tidak berzakat) karena zakat itu keharusan kekayaan dan menjadi hak faqir miskin”.

Peristiwa religius ini sangat mengesankan karena di hari yang fitri itu umat Islam merayakan sebuah kemenangan. Yaitu kemenangan dalam jihad al-nafsi (jihad mengendalikan nafsu, jihad melawan diri sendiri) dan memerdekakan diri dari: nafsu birahi, perut, serakah, dan sebagainya. Menurut Imam al-Ghazali (w. 1111 M), melalui pendidikan Ramadhan, Muslim yang berpuasa mengalami transformasi spiritual dari manusia yang berwatak abdul hawa (budak nafsu) menjadi abdullah (hamba Allah).

Dalam hidupnya, manusia seringkali “dijajah” dan menjadi budak nafsu karena, pada dasarnya, dalam setiap aliran darah manusia itu terdapat aliran bujuk rayu setan. Menurut Imam al-Ghazali, ada dua nafsu yang menjadikan manusia terperangkap dalam budak nafsu, yakni: nafsu ammarah dan nafsu lawwamah.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved