PNS KIP Pijay Diduga Dibunuh

Herry bin Rusli (34), pegawai negeri sipil (PNS) di Sekretariat Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie Jaya

PNS KIP Pijay Diduga Dibunuh
IST
ANDY NS SIREGAR, Kapolres Pidie

* Keluarga Temukan Kejanggalan di Tubuh Korban

MEUREUDU - Herry bin Rusli (34), pegawai negeri sipil (PNS) di Sekretariat Komisi Independen Pemilihan (KIP) Pidie Jaya (Pijay) yang meninggal dunia pada pertengahan Mei lalu diduga korban pembunuhan yang dilakukan temannya. Dugaan itu disampaikan pihak keluarga korban berdasarkan sejumlah fakta yang mereka temukan saat mengevakuasi jenazah Herry dari kawasan Krueng Meureudu beberapa waktu lalu.

Seperti diberitakan sebelumnya, Herry hilang di Krueng Meureudu tepatnya di perbukitan Lhok Brok Gampong Blang Awe, Kecamatan Meureudu, Pijay, saat mencari ikan bersama teman-temannya pada Kamis (16/5) sekitar pukul 20.30 WIB. Dua hari kemudian atau tepatnya pada Sabtu (18/5) sekitar pukul 09.40 WIB, Herry ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada jarak sekitar 500 meter dari lokasi ia menghilang.

Awalnya, warga Dusun Bale Ara, Gampong Reseb Ara, Kecamatan Jangka, Bireuen, diduga tenggelam di Krueng Meureudu. Karena menemukan sejumlah kejanggalan di tubuh korban, pihak keluarga kemudian menduga bahwa kematian Herry bukan akibat tenggelam di Krueng Meureudu, tapi dibunuh di atas Perbukitan Lhok Brok dengan cara disetrum memakai arus listrik. Lalu, mayatnya dijatuhkan ke sungai.

Karena itu, pihak keluarga korban mendesak Polres Pidie untuk mengusut tuntas kasus kematian Herry yang hingga saat ini masih berbalut misteri. “Meski sampai saat ini hasil autopsi dari Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin Banda Aceh belum keluar, namun kami mendesak Polres Pidie untuk mengusut kasus kematian anggota keluarga kami, Herry. Sebab, kami menduga korban dihabisi oleh temannya, bukan akibat tenggelam seperti dugaan selama ini,” jelas Junaidi T Agafar, abang Ipar korban kepada Serambi, Senin (10/6). Hal tersebut dibenarkan kakak kandung korban, Harnum, via telepon seluler.

Menurut Junaidi, kecurigaan pihak keluarga bahwa Herry dibunuh karena ditemukan banyak kejanggalan saat proses evakuasi jenazah korban dari seputaran Krueng Meureudu. Kejanggalan itu, sebut Junaidi, antara lain ditemukan bercak darah pada dinding batu di bantaran sungai tersebut, pada tubuh Herry ditemukan beberapa luka seperti di kaki kanan, perut, dan kepala.

“Kami menduga Herry dibunuh oleh temannya saat mencari ikan di sepanjang sungai Krueng Meureudu. Sebab, di tubuhnya ada luka seperti bekas dikontak dengan arus listrik. Di kaki kanan, perut, dan dahinya ada lingkaran merah,” ungkapnya.

Kejanggalan lain, tambah Junaidi, ketika perut korban ditekan saat ditemukan tidak keluar air. Selain itu, meski Herry hilang pada Kamis (16/5), namun lima temannya yang sama-sama mencari ikan tak langsung menyampaikan hal tersebut kepada pihak keluarga. Informasi kehilangan Herry baru disampaikan temannya pada keesokan harinya, Jumat (17/5). Itupun setelah tunangan korban, Alfia menghubungi sahabat Herry pada pukul 09. 00 WIB. “Berdasarkan sejumlah kejanggalan itulah, kami curiga bahwa Herry meninggal secara tak wajar alias dibunuh oleh temannya,” ungkap Junaidi.

Menanggapi permintaan keluarga korban, Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK, melalui Kasat Reskrim, AKP Mahliadi ST MM kepada Serambi, kemarin, mengatakan, meski hingga kini pihaknya belum menerima hasil autopsi tim medis RSUZA Banda Aceh, namun tahapan penyidikan kasus tersebut terus berlangsung. “Keterangan lima teman almarhum saat diperiksa sebagai saksi oleh Polsek Meureudu jadi dasar penyidikan kasus kematian Herry, pegawai Sekretariat KIP Pijay,” ujarnya.

Soal kecurigaan dan kejanggalan yang disampaikan pihak keluarga korban, menurut Kasat Reskrim, itu sah-saha saja. Namun, AKP Mahliadi juga berharap keluarga Herry membuat kembali laporan resmi ke tim penyidik sehubungan dengan temuan fakta-fakta yang dinilai janggal dan kematian Herry tidak wajar. “Intinya, tim terus mendalami kasus ini, terlebih lagi setelah ada hasil autopsi dari RSUZA nanti,” katanya.

Seperti diketahui, Herry diduga tenggelam di Krueng Meureudu tepatnya kawasan Lhok Brok Gampong Blang Awe, Kamis (16/5) malam dan hingga Jumat (17/5) petang belum ditemukan.

Menurut informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pidie Jaya (Pijay), musibah itu terjadi saat Heri bersama lima temannya sedang mencari ikan di sungai menggunakan alat kontak berarus listrik ginset. Saat itu, Heri bertugas mengambil ikan yang sudah tersengat arus listrik.

Entah bagaimana, tiba-tiba ia terjatuh atau terpeleset ke sungai. Namun, Herry kemudian berhasil menyelamatkan diri. Tapi, saat temannya menanyakan dimana alat tangkap ikan yang jatuh, Heri pun bergegas kembali untuk mencari-cari di lokasi yang terjatuh. Setelah sekian lama Heri tak kembali ke tempat semula, temannya pun mulai curiga. Tanpa buang-buang waktu, kelima teman korban langsung mencari sambil memanggil-manggil nama Heri, tapi tetap tak ada jawaban. Kemudian mereka melapor peristiwa tersebut ke BPBD setempat.

Mendapat laporan tersebut, pihak BPBD, Tim SAR, Anggota Polsek Meureudu, serta dibantu masyarakat, Jumat (17/5) pagi turun ke lokasi untuk mencari Herry. Sehari kemudian atau tepatnya pada Sabtu (18/5) sekitar pukul 09.40 WIB, Herry ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa pada jarak sekitar 500 meter dari lokasi ia menghilang.(c43)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved