‘Senjata’ Dijual Bebas, Abdya Bak Medan Perang Selama Lebaran

Perang senjata mainan tetap menjadi kegemaran anak-anak di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya)

‘Senjata’ Dijual Bebas, Abdya Bak Medan Perang Selama Lebaran
SERAMBI/ZAINUN YUSUF
PEDAGANG musiman menjual senjata mainan di Jalan Sentral, Blangpide, Abdya, Kamis (6/6). 

BLANGPIDIE - Perang senjata mainan tetap menjadi kegemaran anak-anak di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) saat memasuki Lebaran.

Mereka meluapkan kegembiraan dengan ‘bertempur’ habis-habisan di jalan raya, di sudut-sudut kota atau medan strategis lainnya. Senjata yang digunakan pun beragam mulai laras pendek (pistol) sampai laras panjang (AK-47) dengan peluru khusus berbahan plastik. Tak pelak, kondisi ini seperti suasana Aceh saat didera konflik bersenjata beberapa tahun lalu.

Amatan Serambi, hingga memasuki hari kelima Idul Fitri 1440 Hijriah, Minggu (9/6), aksi perang-perangan terlihat seru di mana-mana yang melibatkan dua kelompok bersenjata mainan. Sebagian anak-anak yang terlibat perang memakai kaca mata hitam dan kain penutup wajah (seperti sebo) sebagai pelindung mata dan wajah dari peluru yang dilepas kelompok lawan. Tidak sedikit anak-anak nekat bertempur dengan mata telanjang sehingga sangat mudah terkena peluru yang ditembakkan pihak lawan.

Minggu siang misalnya, sekelompok anak-anak bersenjata lengkap dalam posisi siap tembak bersembungi di balik dinding pertokoan di salah satu sudut Kota Blangpidie. Mereka dalam posisi siap menunggu ‘musuh’. Tidak lama, mendekat sebuah mobil pikap yang ditumpangi belasan anak-anak sambil mengacung-acungkan senjata laras pancang.

Tidak pelak, anak-anak yang berada di atas mobil terbuka itu langsung diserang kelompok lawan yang memang sudah mengendap di lokasi. ‘Trap, trap, trap’, bunyi tembakan dilepas ke arah lawan di atas mobil pikap.

Sadar mendapat serangan, anak-anak di atas mobil segera melancarkan serangan balasan, sehingga terjadi kontak tembak yang sangat seru tak bisa dihindari. Kontak tembak terjadi beberapa menit, kemudian terhenti ketika mobil lawan melaju meninggalkan lokasi. Beberapa anak-anak yang berada di lokasi tersebut kemudian tertawa lepas, seperti baru saja memenangkan pertempuran yang sangat seru.

Pemandangan perang-perangan seperti itu terlihat di mana-nama dalam kawasan Kabupaten Abdya selama Lebaran Idul Fitri 1440 Hijriah.

Sebenarnya, merayakan lebaran yang dilakoni anak-anak dengan bertempur dinilai banyak kalangan sangat membayakan bagi anak itu terdiri. Sebab, peluru yang dilepas bisa saja mengenai bagian mata sehingga pecah, meskipun peluru dari plastik.

Andi Putra, seorang warga Abdya kepada Serambi, Minggu (9/6), mengatakan, peperangan di kalangan anak-anak ketika memasuki Lebaran sulit dicegah dikarenakan senjata-senjata mainan sangat mudah didapat. Beragam senjata mainan tersebut dijual bebas di kabupaten itu.

Di Kota Blangpidie misalnya, pedagang senjata mainan sangat mudah ditemukan di Jalan Sentral, Jalan Perdagangan, Jalan H Ilyas, dan Jalan Pendidikan. Pedagang senjata yang datang dari luar daerah maupun pedagang lokal menawarkan senjata dengan harga sangat beragam, mulai harga Rp 20.000, Rp 40.000, Rp 70.000 sampai Rp 120.000 per unit. Senjata yang ditawarkan pun laris manis. Malahan ada sejumlah orang tua turut mendampingi anaknya untuk membeli senjata.(nun)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved