Kasus Sabu 70 Kg Mulai Sidang

Kasus penyelundupan sabu-sabu 70 kilogram dan ekstasi 3 kilo (sekitar 10 ribu butir) dari Malaysia

Kasus Sabu 70 Kg Mulai Sidang
EDI WINARTO, Kajari Aceh Utara

LHOKSUKON – Kasus penyelundupan sabu-sabu 70 kilogram dan ekstasi 3 kilo (sekitar 10 ribu butir) dari Malaysia ke Aceh melalui perairan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara, mulai disidangkan di Pengadilan Negeri Lhoksukon. Kasus tersebut menyeret empat pria dan satu perempuan sebagai terdakwa.

Mereka terdiri dari Ramli (55) narapidana asal Desa Calok Geulima, Kecamatan Idi Rayeuk, Aceh Timur. Setelah itu, anaknya Metaliana (28) serta menantunya dan sekaligus suami Metaliana, Muhammad Zubir (28). Kemudian dua tersangka lainnya, Saiful Bahri alias Pon (29), dan Muhammad Zakir (23), keduanya warga Desa Seuneubok Baro, Kecamatan Idi Cut, Aceh Timur.

Seperti diberitakan sebelumnya, Badan Narkotika Nasional (BNN) RI dan Bea Cukai menggagalkan upaya penyelundupan 70 kg narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi di Perairan Jambo Aye, Aceh Utara dalam sebuah operasi gabungan di Lhoksukon pada 10 Januari 2019. Dalam penelusuran lebih lanjut terungkap, sabu dan ekstasi itu milik bandar besar bernama Ramli. Di mana ia napi asal Aceh yang ditahan di LP Tanjung Gusta, Medan.

Informasi yang diperoleh Serambi, awalnya pada 10 Januari 2019 BNN menangkap tiga pria di perairan Tanah Jambo Aye saat menyelundupkan sabu-sabu 70 kilo dan ekstasi 3 kilo dari Malaysia ke Aceh. Ketiganya adalah Saiful, Muhammad Zubir dan Muhammad Zakir. Namun, dalam pengembangan, BNN kembali menangkap Ramli di LP Tanjng Gusta yang sedang menjalanan hukuman serta anaknya, Metaliana di Aceh Timur.

Berkas kasus itu bersama lima tersangka dilimpahkan BNN Pusat ke Kejari Aceh Utara pada 2 Mei 2019. Lalu, setelah berkas dakwaan rampung, kemudian Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejari Aceh Utara melimpahkan berkas bersama tersangka ke Pengadilan Negeri Lhoksukon pada 20 Mei.

Pada 20 Mei lalu, Hakim PN Lhoksukon menggelar sidang perdana dengan agenda mendengar materi dakwaan yang disampaikan jaksa. Dalam kasus itu, tim JPU melibatkan delapan orang di mana lima diantaranya dari Jaksa Agung, dan tiga dari Kejari Aceh Utara. Kasus tersebut akan digelar kembali di PN Lhoksukon pada 18 Juni mendatang.

Berdasarkan catatan Serambi, Ramli pernah ditangkap Polres Aceh Utara dan intel Kodim Aceh Utara dibantu warga pada 14 Februari 2015. Saat itu, Ramli ditangkap bersama istrinya, Nani Darlinda (39) warga Desa Jawa Tengoh, Kecamatan Langsa Kota, dan anaknya, Muzakir (20). Selain itu juga diringkus Herman (48), asal Desa Sungai Paoh, Kecamatan Langsa Barat, Kota Langsa bersama dengan 14,4 kg sabu di Kecamatan Tanah Jambo Aye, Aceh Utara.

Ramli divonis pada 10 September 2015 dengan penjara seumur hidup bersama tersangka lainnya. Sementara istrinya, Nani yang divonis 19 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar di PN Lhoksukon. Lalu, pada 25 April 2016, pihak Rumah Tahanan Negara (Rutan) Lhoksukon memindahkan napi ke Lapas Tanjung Gusta Medan karena over kapasitas.

Kajari Aceh Utara, Edi Winarto melalui Kasi Pidana Umum, Yudi Permana SH kepada Serambi menyebutkan, untuk sidang selanjutnya beragenda pemeriksaan saksi. Jaksa Penuntut Umum (JPU) sudah mengirim surat untuk meminta kesediaan petugas BNN Pusat yang menangkap terdakwa, supaya hadir ke Pengadilan Negeri Lhoksukon pada 18 Juni mendatang guna didengar keterangan sebagai saksi.

“Barang bukti sabu-sabu yang dilimpahkan sebagai barang bukti 6 gram. Sedangkan selebihnya sudah dimusnahkan. Begitu juga dengan pil ekstasi yang dijadikan barang bukti sebanyak tujuh butir. Sisanya juga sudah dimusnahkan,” ujar Kasi Pidum.(jaf)

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved