Salam

LP dan Rutan Kapan Beresnya?

Dunia lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan (LP dan Rutan) kita saat ini seolah tak selesai dirundung

LP dan Rutan Kapan Beresnya?
SERAMBI/M NAZAR
RUTAN Kelas II Sigli, Pidie, Senin (3/6), diduga dibakar napi di rutan tersebut. 

Dunia lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan (LP dan Rutan) kita saat ini seolah tak selesai dirundung masalah. Selain, sering terjadinya narapidana kabur, peredaran narkoba di dalam lapas, dan tawuran antar napi, anarkisme, dan kejahatan lainnya seperti suap-menyuap atau korupsi.

Sebagai contoh insiden terbaru, seorang narapidana yang sedang menjalani hukuman di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Sigli, Kabupaten Pidie, menikam dengan gunting dua tahan polisi yang dititip di rutan itu. Akibat tikaman itu, kefua korban mengalami luka-luka di sekujur tubuh. Sedangkan si penikam sudah diamankan polisi sebagai tersangka pelaku penganiayaan berat.

Kapolres Pidie, AKBP Andy Nugraha Setiawan Siregar SIK menjelaskan insiden itu berawal saat sang pelaku meminjam telepon genggam (Hp) milik salah satu korban hingga kemudian terjadi percekcokan, keduanya terlibat perang mulut. Beberapa jam kemudian, saat korban tertidur pulas, diam-diam pelaku mengambil gunting dan kemudian menyerang korban secara membabi buta. Tahanan lain yang coba melerai juga menjadi sasaran serangan gunting.

Ini merupakan insiden kedua di rutan tersebut dalam bulan ini. Beberapa hari lalu, rutan ini juga heboh setelah dibakar oleh penghguninya yang mengamuk memprotes prilaku sipir. Hingga kemarin polisi masih mengejar dalang atau otak pelaku pembakar yang menghanguskan pos penjagaan, ruang KPR, ruang Kepala Rutan, dan kantin.

Dua peristiwa itu menggambarkan kepada kita tentang kelalaian petugas di penjara itu. Dalam kasus penikaman, misalnya, kita menyoal mengapa ada telepon genggam di sana. Lalu mengapa pula ada gunting? Bukankah barang-barang itu sangat dilarang keberadaan di tangan para tahanan dan napi yang sedang berada dalam rutan atau LP?

Lantas, melihat berbagai persoalan itu, upaya apa yang mesti dilakukan pemerintah untuk membenahi tata kelola lembaga pemasyarakatan? Apa sebenarnya akar dari berbagai persoalan yang terjadi di lapas?

Jawabannya, lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di negeri ini harus berbenah dan menyelesaikan segudang masalah. Jika tidak, masalah baru akan terus muncul. Salah satu yang bisa dilakukan adalah memaksimalkan pengawasan eksternal lapas dan rutan. Oknum-oknum sipir yang gampang disuap oleh para napi dan tahanan harus dihukum berat, bahkan jika perlu dipecat.

Seorang pejabat di Komisi Hukum Nasional (KHN) beberapa tahun lalu mengatakan LP dan rutan di Indonesia sekarang bisa dikategorikan darurat. Praktek korupsi berupa pungutan liar ditambah terungkapnya kasus narkotika di dalam lapas membuat situasi darurat. “Ini sungguh keadaan gawat darurat,” ujarnya.

Di sisi lain, seorang ahli kriminologi melihat adanya mismanajemen kepenjaraan. Pengawasan melekat dari setiap jabatan di lapas harus dengan rentang kendali yang pendek dan didasarkan pada uraian tugas yang jelas. Pengawasan eksternal, luar lapas, sudah waktunya dipikirkan.

Sebab, lapas dan rutan adalah tempat yang sangat tertutup, dan karena ketertutupan itu pula dunia luar susah mengetahui kondisi di dalam, termasuk transaksi-transaksi di bawah meja. Maka, demi akuntabilitas, lapas dan rutan harus siap diawasi dunia luar.

Kita setuju dengan usul itu, sebab menurut temuan Ombusdsman Republik Indonesia (ORI) yang menyatakan pengawasan internal sangat minim.

Sedangkan Ketua DPR Bambang Soesatyo mengatakan sudah saatnya UU Pemasyarakatan No. 12 Tahun 1995 direvisi. “Apalagi permasalahan pemasyarakatan semakin kompleks. Selain persoalan over kapasitas, juga suasana lingkungan tak kondusif, sarana dan prasarana yang tak memadai, hingga ketidakprofesionalan para petugas. Tak jarang, Lapas justru menjadi Kerajaan Kecil terhadap warga binaan pemasyarakatan bagi petugas di Lapas. Jadi, sudah waktunya dilakukan revisi UU No. 12 Tahun 1995 untuk membenahi berbagai permasalahan Lapas,” tegasnya. Manakah solusi terbaik?

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved