Jurnalisme Warga

Saat Mahasiswi Pengabdi Jatuh Hati pada Cot Gud

SAYA mahasiswi psikologi semester akhir di UIN Ar-Raniry. Sebagaimana ketentuan akademik, saya diharuskan

Saat Mahasiswi Pengabdi Jatuh Hati pada Cot Gud
IST
NIA KARTINI, Mahasiswi Prodi Psikologi UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, melaporkan dari Ingin Jaya, Aceh Besar

OLEH NIA KARTINI, Mahasiswi Prodi Psikologi UIN Ar-Raniry, Darussalam, Banda Aceh, melaporkan dari Ingin Jaya, Aceh Besar

SAYA mahasiswi psikologi semester akhir di UIN Ar-Raniry. Sebagaimana ketentuan akademik, saya diharuskan mengikuti mata kuliah wajib berbobot 4 satuan kredit semester (SKS), yaitu Kuliah Pengabdian Masyarakat (KPM) yang lebih familier dikenal dengan istilah Kuliah Kerja Nyata (KKN).

Saya dan 12 teman yang lain dari jurusan berbeda-beda ditempatkan di Desa Cot Gud, Kecamatan Ingin Jaya, Kabupaten Aceh Besar selama 45 hari. Jujur, saya jatuh hati pada Cot Gud sejak pertama kali menginjakkan kaki di sini. Tempatnya yang tenang menenangkan, bentang alam yang indah dan masyarakatnya yang hangat terhadap tamu yang datang. Cot Gud bagaikan mutiara Aceh Besar.

Saya terpana dengan kekompakan, keakuran, dan kerukunan komunitas di sini yang tercerminkan dari setiap acara yang mereka selenggarakan, seperti halnya gotong royong saat menyambut Ramadhan yang lalu, buka puasa bersama, silaturahmi saat Idulfitri, dan lainnya.

Tidak banyak warga desa ini, hanya 34 rumah. Pertumbuhan penduduk sejak 2011 hingga 2019 hanyalah 8%. Sedikit memang, tapi kualitas dan kapasitas yang mereka miliki sangatlah tinggi. Kebanyakan warga Cot Gud berpendidikan S1.

Menariknya, KPM ini sama halnya dengan homestay. Kami ditempatkan di rumah-rumah warga. Saya dan seorang teman tinggal di rumah Pak Saifuddin, bagian dari tuha peuet Gampong Cot Gud. Kami memiliki orang tua angkat, saudara angkat, juga nenek angkat yang selalu memasak masakan khas Aceh Besar untuk kami dan mengajak kami shalat berjamaah di meunasah. Pendeknya, menjalankan aktivitas dari pagi sampai malam tiba bersama. Senang sekali rasanya mendapatkan pengalaman langsung hidup sebagai warga Aceh Besar.

Saya pernah mengikuti homestay di salah satu negara Eropa, tapi homestay di daerah sendiri terasa lebih istimewa dan membekas.

Saat diumumkan bahwa lokasi KPM kali ini adalah Aceh Besar, mulai banyak pembicaraan terkait stereotipe Aceh Besar di kalangan mahasiswa calon anggota KPM. Bahwasanya Aceh Besar dikenal dengan masyarakatnya yang santun dan dermawan, tapi juga sangat kuat dengan nilai-nilai keislaman sehingga tak bisa bertoleransi dengan perbedaan. Sekarang, setelah saya terjun langsung ke lapangan, saya dapat katakan opini tersebut benar dan salah di waktu yang sama. Benar bahwa Aceh Besar memiliki warga yang bersosial tinggi dan kaya hati. Kurang tepat bahwa mereka tidak terbuka atau toleran. Aceh Besar sama dengan Aceh keseluruhan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin. Norma-norma sosial seperti diwajibkannya berpakaian sopan dan tidak diperbolehkan berdua-duaan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, saya memandang regulasi tersebut wajar adanya. Mereka juga sangat toleran terhadap perbedaan. Salah satu contohnya saat menunaikan shalat Tarawih pada Ramadhan lalu, salah seorang ibu yang shalat di samping saya mengatakan, ‘’Di meunasah ini shalat Tarawih 8 rakaat, di masjid 20 rakaat, bagi yang shalat di meunasah mau sambung 20 rakaat bisa lanjut di rumah. Hal-hal seperti ini Dek, berapa rakaat Tarawih, qunut Subuh atau tidak, bukan masalah bagi kami.” Nah, warga di sini sangat toleran, bukan?

Waktu berjalan begitu cepat, rasanya baru kemarin kami disambut dengan kuah beulangong dan sie reuboh khas Aceh Besar, sudah 30 hari saya di sini. Melaksanakan KPM, berbaur dengan masyarakat, melakukan riset dengan metode partisipatif, interview, dan observasi. Mengunjungi langsung rumah-rumah warga, menyamakan pikiran dengan pemuda gampong, bercengkarama bersama, berbagi cerita, dan menjaring aspirasi mereka untuk dituliskan di laporan KPM sebagai saran untuk pemerintah setempat nantinya.

Berdasarkan hasil analisis situasi dan kondisi yang kami lakukan pada minggu pertama di sini, kami merencanakan beberapa program yang sebagian besar sudah terlaksanakan. Di antaranya, program rutin kelas bahasa Inggris, bahasa Arab, dan belajar Alquran untuk anak-anak Desa Cot Gud. Kami gelar aneka kegiatan, termasuk pembagian celengan akhirat, gotong royong membersihkan saluran air sekaligus pengadaan tong sampah untuk sudut-sudut desa. Pendeknya, semua kegiatan yang bernilai perbaikan dan penyehatan permukiman/lingkungan hidup.

Kami juga memberikan pelayanan dan bimbingan kepada para remaja yang ingin melanjutkan studi ke perguruan tinggi, melatih ibu-ibu gampong bikin sabun cuci piring dibarengi dengan edukasi ekonomi terkait usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta banyak program lainnya.

Saya pribadi menginisiasi satu program khusus berdasarkan disiplin ilmu saya bertemakan “Diskusi Asyik Terkait Pola Asuh Anak Berdasarkan Kajian Psikologi dan Islam Bersama Ibu-ibu Desa Cot Gud”. Di samping mengampanyekan pola asuh anak yang benar dengan mengintegrasikan teori psikologi dan kajian keislaman, diskusi ini sekalian bermaksud untuk memperkenalkan ilmu psikologi kepada masyarakat. Saya mendapati masyarakat berpikir bahwa sarjana psikologi akan berakhir sebagai dokter jiwa. Persepsi miring seperti ini sudah seyogianya diluruskan.

KPM pada prinsipnya merupakan tuntutan dalam rangka merespons kebutuhan nyata masyarakat yang sarat dengan dinamika dan permasalahannya. KPM adalah bagian integral yang tercakup dalam unsur-unsur Tridarma Perguruan Tinggi, yaitu mengajar, meneliti, dan mengabdi. Selalu terngiang di ingatan saya apa yang dipesankan Rektor UIN Ar-Raniry, Prof Warul Walidin saat memberi pembekalan kepada kami sebelum diberangkatkan ke lokasi KPM. Beliau berharap kami mampu mengembangkan masyarakat dan pada saat yang sama mampu mengembangkan diri kami sendiri. Nihil nilainya jika seorang sarjana tidak mampu mengaplikasikan ilmu yang dipelajarinya. Di sini saya belajar, masyarakat tidak butuh rumus-rumus teoretis yang mahasiswa pelajari di bangku kuliah, masyarakat butuh sesuatu yang lebih dari itu. Masyarakat membutuhkan bimbingan yang lebih realistis, pragmatis, dan menyentuh langsung kebutuhan masyarakat.

Saya menikmati setiap detik waktu saya selama menjalani KPM ini. Mensyukuri kesempatan untuk beribadah menjalankan ritual Ramadhan di tempat yang berbeda dengan keluarga baru di sini. Memandang Aceh dari sudut yang berbeda pula. Kesempatan berharga ini mendewasakan cara saya dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Besar harapan saya dengan hadirnya kami di sini memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Desa Cot Gud khususnya, pemerintah setempat, dan universitas tempat saya menuntut ilmu. KPM adalah pengalaman jempolan yang tidak akan saya lupakan dan akan saya rindukan.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved