Tokoh Referendum Aceh Muhammad Nazar, Hargai Pernyataan Klarifikasi Muzakir Manaf

Tokoh sentral referendum Aceh, Muhammad Nazar, sangat menghargai pernyataan dan klarifikasi Ketua Umum Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan..

Tokoh Referendum Aceh Muhammad Nazar, Hargai Pernyataan Klarifikasi Muzakir Manaf
For Serambinews.com
Muhammad Nazar, Mantan Koordinator SIRA 

Tokoh Referendum Aceh Muhammad Nazar Hargai Pernyataan Klarifikasi Muzakir Manaf

Laporan Fikar W Eda | Jakarta

SERAMBINEWS.COM, JAKARTA - Tokoh sentral referendum Aceh, Muhammad Nazar, sangat menghargai pernyataan dan klarifikasi Ketua Umum Partai Aceh (PA) dan Ketua Komite Peralihan Aceh (KPA), Muzakkir Manaf yang tersebar luas dalam bentuk rekaman video di YouTube prihal permintaan referendum.

"Bagus dan sangat jelas penjelasannya. Dari awal sejak ada MoU Helsinki, Muzakkir Manaf sudah sering menyebut NKRI dalam pernyataan resminya. Bahkan PA sendiri berafiliasi dengan Partai Gerindra yang dikenal sangat nasionalis serta Pancasilais yang ingin mempertahankan Indonesia hingga titik darah penghabisan," jelas Muhammad Nazar di Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Dalam video klarifikasinya, Muzakir Manaf menjelaskan bahwa dirinya menyebut kata referendum dalam acara haul Wali Nanggroe almarhum Tgk Hasan di Tiro secara spontan saja. Dirinya juga menyadari rakyat Aceh memang pro NKRI dan ingin maju dalam NKRI.

Terkait klarifikasi itu, Nazar menyebut bahwa ia sangat menghargainya.

Lebih jauh Nazar menambahkan dirinya tidak mau gegabah membangkitkan kembali isu referendum dan merdeka di Aceh. Sebab dikuatirkan kedua kosa itu  --referendum dan merdeka--  dapat menekan atau menciptakan pengaruh besar yang selalu dikendarai pihak lain atau disusupi musuh.

Termasuk sewaktu Muzakir Manaf mengungkapkan kembali kata Referendum, menurut Nazar, ada indikasi hendak dijadikan kuda politik dalam urusan Pilpres secara nasional.

"Maka saya tidak setuju itu. Siapapun yang menang dan kalah, ya.. itu bukan urusan perjuangan referendum, itu urusan pilpres biasa. Tidak puas.. ya.. bawa ke MK, jangan bawa urusan Pilpres untuk menggiring konflik ke Aceh. Pilpres itu urusan nasional Indonesia, ada KPU, ada MK yang menanganinya," ujar Muhammad Nazar.

“Ya tidak mau, saya mengorbankan Aceh. Maka saya mengkritisi sebagai advis dan ibadah sosial saya untuk Aceh, sekaligus agar mualem juga punya masukan beda dari saya untuk dia pertimbangkan, sehingga Aceh tidak tergiring dalam pusaran potensi konflik baru,” ungkap Nazar.

Baca: KPK Minta Tambahan Anggaran Rp 580 Miliar Untuk 2020

Baca: Bupati Bireuen akan Tindak Tegas ASN Nongkrong di Warkop, Ini Sanksinya

Baca: PT Banda Aceh Kabulkan Banding Dolah Panglima, Jaksa Langsung Kasasi

Nazar menyebutkan, dirinya dulu atas nama pimpinan SIRA hingga adanya penandatangan MoU Helsinki masih mencoba mengorganisir perjuangan hingga terlaksana referendum tetapi kemudian ditegur keras serta dinasihati oleh pimpinan GAM di Swedia.

"Maka saya dan kawan-kawan SIRA sejak itu tidak lagi melakukan kampanye referendum secara terbuka, meski SIRA itu masih ada, belum bubar. SIRA dan Partai SIRA itu kan dua lembaga yang berbeda. SIRA itu lembaga perjuangan damai rakyat sipil yang dibentuk kongres mahasiswa dan pemuda Aceh serantau awal 1999.

Sedangkan Partai SIRA dibentuk oleh sebahagian besar anggota utama SIRA berdasarkan peraturan perundang-undangan. Bahkan sebagian anggota SIRA juga masuk atau mendirikan partai lainnya di Aceh, saya tidak melarangnya” jelas Nazar. (*)

Penulis: Fikar W Eda
Editor: Jalimin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved