Citizen Reporter

Lebaran Seperti Ramadhan di Tarim

PADA tahun ini, seperti yang sudah kita lalui, terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah

Lebaran Seperti Ramadhan di Tarim
IST
YUNALIS ABDUL GANI, B.Sc, putra Cot Trieng, Aceh, alumnus Ummul Ayman, Konsultan Forum Lingkar Pena (FLP) Yaman, melaporkan dari Tarim, Yaman

OLEH YUNALIS ABDUL GANI, B.Sc, putra Cot Trieng, Aceh, alumnus Ummul Ayman, Konsultan Forum Lingkar Pena (FLP) Yaman, melaporkan dari Tarim, Yaman

PADA tahun ini, seperti yang sudah kita lalui, terjadi perbedaan dalam penetapan 1 Syawal 1440 Hijriah. Di sebagian tempat, Idulfitri dirayakan pada hari Selasa, seperti Saudi Arabia, Turki, Irak, sebagian kota di Yaman, dan di beberapa tempat lainnya. Sedangkan di sebagian tempat yang lain, Idulfitri dirayakan pada hari Rabu, seperti di Indonesia, Malaysia, Mesir, dan lain-lain.

Di sebagian kota di Yaman, termasuk Tarim–kota tempat saya kini berdomisili--Idulfitri dirayakan pada hari Selasa bertepatan 4 Juni 2019.

Terkait Lebaran Idulfitri, banyak sekali pelajaran menarik yang patut diteladani dari Tarim, kota yang dijuluki “Bumi Para Wali’. Di antaranya adalah tradisi Ihyaul Lail, yakni menghidupkan malam Lebaran dengan ibadah, karena malam Lebaran adalah salah satu malam yang diijabahkan doa.

Saat malam Lebaran, warga Tarim melakukan agenda Ihyaul Lail di masjid-masjid dengan pembacaan hizib Alquran, takbiran, doa, dan sebagainya. Biasanya, Ihyaul Lail ini diadakan di masjid-masjid yang dianggap legendaris oleh masyarakat setempat, seperti masjid Ba ‘Alawi, Masjid Al Muhdhar, dan lain-lain.

Selain itu, jika di kebanyakan tempat kaum muslimin merayakan Lebaran dengan aneka agenda, mulai hari pertama hingga ketiga, bahkan hingga hari kesepuluh, lain halnya di Tarim. Saya banyak menemukan hal yang unik di sini. Di negeri ini, Lebaran justru seperti suasana Ramadhan.

Pasalnya, setelah hari pertama Idul Fitri dirayakan dengan melaksanakan shalat Id dan salam-salaman seperti di Indonesia, keesokan harinya masyarakat Tarim langsung melanjutkan ibadah puasa sunah Syawal selama enam hari berturut-turut, mulai dari tanggal 2 hingga 7 Syawal. Suasana pun kembali seperti bulan Ramadhan. Hari-hari pun terlihat sepi dari hiruk pikuk Lebaran. Mereka sibuk dan larut dalam ibadah tak ubahnya seperti sedang dalam puasa Ramadhan.

Selama enam hari tersebut, mereka belum memulai open house dan silaturahmi ke rumah sanak saudara. Selain karena mengikuti anjuran puasa sunah enam hari di awal-awal bulan Syawal, hal tersebut pun sudah menjadi tradisi turun-temurun dari nenek moyang mereka.

Setelah menyelesaikan puasa enam, tepatnya pada hari kedelepan Syawal, mereka baru memulai open house untuk kerabat serta tetangganya.

Open house, di Tarim lebih akrab disebut Awad-awadan, adalah acara silaturahmi ke rumah tetangga dan rumah-rumah tokoh ulama dan para habaib setempat. Layaknya acara silaturrahmi di Indonesia, acara tersebut juga digelar dalam rangka merayakan Idulfitri, baik dengan salam-salaman atau berjabat tangan seta berkumpul bersama-sama dalam rangka merayakan hari kemenangan.

Namun, open house di Tarim berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Jika di kebanyakan tempat open house sesak dengan hidangan kue Lebaran dan aneka makanan lainnya, Awad-awadan di Tarim justru dihiasi dengan zikir, selawat, doa bersama, serta kasidah Lebaran dan sebagainya.

Saat itu, terlihatlah suasana Lebaran yang sebenarnya. Suasana terlihat ramai. Seakan-akan saat inilah hari Lebaran dimulai. Rumah-rumah kediaman para habaib dan tokoh masyarakat digelar open house secara berjadwal dan bergilir. Jadwalnya pun sudah ditetapkan secara permanen untuk setiap tahunnya.

Begitulah gambaran Lebaran di Tarim, Yaman. Sekian. Semoga bermanfaat bagi yang membaca. Selamat Hari Raya Idulfitri. Mohon maaf lahir dan batin, Salam kangen dari Yaman. Wasalam.

Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved