Opini

Politik Atas Nama Tuhan

KPU telah menetapkan hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden. Pasangan calon terpilih Jokowi-Ma’ruf Amin

Politik Atas Nama Tuhan
IST
Zahlul Pasha Karim, Pengajar Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Oleh Zahlul Pasha Karim, Pengajar Hukum Tata Negara Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

KPU telah menetapkan hasil pemilu legislatif dan pemilu presiden. Pasangan calon terpilih Jokowi-Ma’ruf Amin memperoleh persentase suara sebesar 55,5 persen. Sisanya milik Prabowo-Sandiaga sebesar 45,5 persen. Saat ini, kubu Prabowo-Sandi menggugat hasil pemilu ke MK yang akan diputuskan akhir Juni 2019 nanti.

Saya punya catatan khusus terkait pemilu kali ini yang begitu menguras energi rakyat. Bahwa pemilu 2019 sarat dengan permainan narasi agama yang dikemas dengan kepentingan politik. Sekilas komodifikasi narasi agama dalam politik tampak sepele, terlebih bagi kelompok islamis. Tapi nyatanya tidak. Narasi agama dalam pemilu kali ini telah memecah belah masyarakat begitu hebatnya.

Fenomena ini sesungguhnya tidak mengejutkan. John Esposito dan John Voll telah memprediksikan saban tahun (1996), bahwa kebangkitan agama dan demokratisasi adalah dua perkembangan terpenting sepanjang dekade terakhir abad ke-20.

Belakangan, Yuval Noah Harari (2018) menjelaskan dengan detail, bahwa pada abad ini semua komunitas agama dihadapkan pada tiga macam problem dan tantangan besar yang berkaitan, yaitu technical problems, policy problems, dan identity problems.

Memang, semua bangsa memerlukan identitas yang jelas dan kuat. Terlebih identitas keagamaan dan etnis. Di satu sisi, penguatan identitas agama berhasil membangun kohesi sosial bagi umat seiman, namun pada saat bersamaan menciptakan pemisahan dan bahkan konflik terhadap yang berbeda iman dan keyakinan. Akibatnya kata Harari, identitas agama bukannya memecahkan techincal dan policy problems, malah emnciptakan problem baru. Alih-alih menyelesaikan malahan mereka bertengkar dan terlibat perang atas nama Tuhan dan agama.

Saat ini, sebut Harari, semacam sedang terjadi proses nasionalisasi kebertuhanan. Peran Tuhan dipersempit. God now serves the nation, begitu tulis Harari. Tuhan diposisikan untuk membela kepentingan sebuah bangsa, tidak lagi membela dan melayani manusia seluruh jagat raya tanpa sekat ras, suku, dan bangsa. Bahkan dalam kasus Indonesia posisi Tuhan kian sempit, Tuhan dipaksa melayani kepentingan kelompok tertentu, mendukung capres tertentu dan bahkan hanya mendukung sikap politik kubu tertentu.

Di republik ini, komodifikasi agama tentu sangat tidak sulit dilakukan. Pemeluk agama Islam adalah mayoritas, seturut dengan semangat beragama masyarakat Indonesia begitu tinggi. Sementara para politisi tengah bekerja keras mengumpulkan suara untuk memenangi kontestasi pemilu, maka agama dipandang sangat instrumental jika dimanipulasi untuk kontestasi politik.

Iniliah yang sedang terjadi di Indonesia, di permukaan kontestasi pemilu terjadi, namun jika kita telusuri lebih dalam, sesungguhnya kontestasi identitaslah yang sedang berlomba. Perkara identitas menjadi paling dominan dalam pemilu kali dan identitas agama adalah komoditas paling diperebutkan; siapa capres paling saleh, pro ulama dan umat Islam?

Dalam politik identitas, politik selalu dikaitkan dengan kepentingan anggota-anggota sebuah kelompok sosial yang merasa diperas dan tersingkir oleh dominasi arus besar dalam sebuah bangsa atau negara. Ia merupakan muara dari proses panjang ketersandungan identitas; agama, suku, ras, dan golongan.

Halaman
123
Editor: bakri
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved